Karakteristik Asuransi Syariah dan Konvensional

karakteristik asuransi syariah dan konvensional

Karakteristik Asuransi Syariah - Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai karakteristik atau ciri ciri asuransi syariah dan konvensional, yang dilamanya juga dibahas prinsip asuransi syarian serta kelebihan asuransi syariah dengan asuransi konvensional. Berikut di bawah ini adalah penjelasannya.

Karakteristik Asuransi Syariah

Karakteristik pertama, terletak pada perbedaan sistem yang paling mendasar antara asuransi Syariah dengan sistem asuransi konvensional.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa asuransi konvensional hanya mengenal / memberlakukan klaim dari pemegang polis, misalnya kecelakaan, kematian / hal-hal yang tidak diinginkan dan semua itu telah tertulis kesepakatannya di dalam akad. Konsekwensinya adalah, bila pemegang polis tidak tertimpa musibah, semasa akad masih berlangsung, maka pemegang polis tidak dapat mengklaimnya.

Sistem ini mengundang pemegang polis yang nakal dengan menyiasati untuk mendapatkan klaim yang besar dibanding dana yang telah diasuransikan. Penyiasatan ini mengiring rekayasa tertentu, seperti upaya pembakaran bahkan membunuh meski tidak dilakukan secara langsung oleh pemegang polis.

Praktek rekayasa tersebut merupakan tindakan kriminal yang berarti melanggar hukum, bahkan sangat menodai harkat dan martabat manusia. Sebab korban yang menderita, bukan hanya perusahaan asuransi, tetapi juga anggota masyarakat yang mungkin tidak pernah berhubungan dengan lembaga asuransi.

Sementara, bila jenis produk asuransinya tidak terkait dengan peristiwa semisal kematian, kebakaran, kecelakaan ataupun musibah, maka pemegang polis asuransi konvensional, juga tidak dapat menikmati pengembalian dana kewajibannya selama belum melewati waktu-waktu yang telah ditentukan. Juga, bila pemegang polis tidak dapat meneruskan kewajibannya, maka dana yang telah disetorkan menjadi hangus.

Prinsip Asuransi Syariah

Prinsip dasar asuransi konvensional tersebut, jelas sekali berbeda dengan asuransi syariah.

Prinsip dasar asuransi takaful syariah berangkat dari sebuah filosofi bahwa manusia itu berasal dari satu keturunan Adam dan Hawa. Dengan demikian, manusia pada hakikatnya merupakan keluarga besar. Untuk dapat meraih kehidupan bersama, maka sesama manusia harus tolong menolong (ta’awun), saling berbuat kebabilan (tabarru) dan saling menanggung (takaful).

Prinsip ini merupakan dasar pijakan bagi kegiatan manusia sebagai makhluk sosial.

Dari landasan filosofis ini, setidaknya ada 3 prinsip dasar dalam asuransi syariah, yaitu
- Saling bertanggung jawab
- Saling bekerja sama dan
- Saling melindungi penderitaan satu sama lain.

Dengan filosifi tersebut, asuransi Islam menggariskan keuntungan yang sangat berbeda dengan asuransi konvensional, yaitu, pemegang polis diposisikan sebagai penabung, maka secara hukum, dana yang diasuransikan, sama dengan tabungannya juga.

Keuntungan Asuransi Syariah

Dengan posisinya sebagai tabungan, maka ada 2 keuntungan yang dapat dipetik langsung dari asuransi syariah:

Pertama, dana asuransi Syariah bagi masing-masing pemegang polis akan mendapat nilai tambahan. Nilai tambahan ini bukan bunga, tetapi bagi hasil dari sistem mudharabah yang merupakan manfaat finansial atas kebijakan kerjasama asuransi syariah dengan bank syariah.

Dalam hal ini, pihak asuransi syariah menitipkan dana para pemegang polis sebagai instrumen investasi yang dikelola oleh lembaga keuangan syariah, misalnya Bank syariah atau reksa dana syariah.

Untuk konteks ini premi yang dimaksud adalah premi tabungan. Sementara dalam sistem Bank Syariah terdapat ketentuan bahwa siapapun yang ikut serta dalam proyek usaha, ia akan mendapatkan bagi hasil atas keuntungan yang diperoleh dari kerjasama itu.

Karena itu para pemegang polis, berhak menikmati bagian keuntungan yang dicapai Bank Syariah.

Bila kita telaah penambahan dana asuransi yang dinikmati para pemegang polis, merupakan buah nyata kebijakan kemitraan atau kerjasama antara Asuransi Syariah dan Bank Syariah. Hal ini merupakan salah satu keunggulan Asuransi Syariah.

Dalam hal ini kita dapat bertanya secara komparatif antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah. Pernahkah terjadi dana asuransi bertambah nilainya.

Hanya diasuransi syariah yang bakal terjadi. Asuransi lainnya jelas tidak sama sekali.

Kedua, ialah bahwa pemegang polis sewaktu-waktu, karena alasan tertentu tak dapat melanjutkan hubungan dg lembaga asuransi syariah, shingga secara sepihak ia memutuskan hubungan dg pihak asuransi syariah.

Pemutusan hubungan ini tidak menyebabkan dananya hangus. Ia sebagai pemegang polis, berhak dan wajib hukumnya untuk mendapatkan kembali dana yang diasuransikan.

Memang tidaklah seutuhnya 100 % dana yang telah diasuransikan itu akan dikembalikan. Sebab dana pemegang polis akan dikurangi dana tabarru (dana kebijakan).

Dan harus dicatat juga, bahwa pemegang polis tetap mendapatkan dana tambahan dari bagi hasil premi yg telah disetornya. Meski terjadi sedikit pengurangan, tapi, pengembalian itu jauh lebih baik dari sistem asuransi konvensional yang menghanguskan secara total dana pemegang polis.

3 Hal Yang Diharamkan Asuransi Syariah

Selanjutnya penting dicatat, bahwa praktik asurasi Syariah terbebas dari praktik-praktik yang diharamkan. Paling tidak ada 3 hal yang diharamkan oleh pada praktek bisnis asuransi konvensional. Ketiganya dihilangkan dari asuransi Syariah:

Pertama, unsur gharar (yaitu ketidak jelasan dan ketidak transparanan). Masalah yang diutamakan dalam kegiatan bisnis adalah akad yang digunakan. Akad tersebut harus bebas dari gharar (ketidakjelasan).

Padahal Islam sangat menekankan kejelasan akad dalam praktek muamalah dan menjadi prinsip utama, karena akan menentukan sah atau tidaknya secara Syariah.

Dalam praktik asuransi non syariah, aspek gharar sangat jelas sekali, karena bila terjadi klaim, dana yang diterima nasabah seringkali lebih besar dari dana premi yang disetornya.

Dalam akad di awal tidak jelas berapa premi yang harus disetor dan berapa dana yang harus diterima. Begitu juga kejelasan dan ketransparanan kemana dana peserta diinfestasikan akan menjadi prinsip. Karena akan menentukan halal atau haramnya perolehan keuntungan investasi peserta.

Sedangkan pada praktek asuransi syariah kejelasan dan ketransparanan aqad ini menjadi hal utama.

Kedua, adanya unsur maisir (untung-untungan, judi, spekulasi).

Kezaliman akan muncul misalnya; bila saat peserta tidak dapat melanjutkan pembayaran polisnya karena sesuatu hal. Di satu sisi tidak punya dana untuk melanjutkan dan di sisi lain bila mengundurkan diri maka dana yang terlanjur dibayar akan hangus.

Pada praktek Asuransi Syariah; hal tersebut diatas tidak dikenal. Peserta dapat menarik dananya kapan saja peserta menghendakinya; bila memang peserta tak sanggup melanjutkan perjanjiannya.

Ketiga, adanya unsur riba (bunga). Praktek investasi pada asuransi konvensional melakukannya dengan mekanisme bunga dan penyaluran dana investasi peserta dilakukan kemana yang diinginkan oleh perusahaan asuransi. Tidak melihat apakah lembaga saluran investasi itu boleh atau tidak dalam ajaran Islam.

Sedangkan pada asuransi syariah; investasinya harus sesuai dengan prinsip syariah, jelas halal atau haramnya bidang usaha investasinya; dan menggunakan konsep mudharobah (bagi hasil) dalam pembagian keuntungan investasinya.

Keistimewaan khusus yang dimiliki oleh Asuransi syariah adalah diterapkannya konsep risk Sharing, dimana setiap surplus yang diterima oleh perusahaan sepenuhnya milik peserta dan pada prakteknya surplus ini dibagi dengan perusahaan asuransi syariah.

Sebagai contoh sederhana misalnya: Andaikan saja seluruh Gedung Universitas Indonesia ini diasuransikan dalam program asuransi kebakaran pada asuransi syariah. Misalnya preminya mencapai Rp 50.000.000 per tahun. Dan ternyata dalam masa perjanjian 1 (satu) tahun; tidak terjadi resiko apapun maka akan ada surplus yang akan dikembalikan kepada pihak Universitas Indonesia dengan melalui skema mudharabah (bagi hasil).

Demikian uraian mengenai makalah karakteristik asuransi syariah, semoga bermanfaat.

0 Response to "Karakteristik Asuransi Syariah dan Konvensional"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel