Pengertian dan Contoh Bahasa Bersifat Produktif (Linguistik)

contoh bahasa bersifat produktif


Pengertian bahasa bersifat produktif

Bahasa bersifat produktif adalah bahasa itu berproduksi atau bisa menghasilkan kosakata yang banyak dari satu kosakata asal.

Jadi, meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu.

Kita akan lihat contohnya biar lebih jelas.

Contoh bahasa bersifat produktif

Umpamanya, kalau kita ambil fonem-fonem bahasa Indonesia /a/, /i/, /k/, dan /t/, maka dari keempat fonem itu bisa kita hasilkan satuan-satuan bahasa di bawah ini:

/i/-/k/-/a/-/t/
/k/-/i/-/t/-/a/
/k/-/i/-/a/-/t/
/k/-/a/-/i/-/t/
/k/-/a/-/t/-/i/

yang secara aktual kata-kata tersebut ada dalam kosakata bahasa Indonesia.

Juga bentuk-bentuk yang mungkin bisa dibuat seperti di bawah ini:

/t/-/i/-/k/-/a/
/t/-/a/-/k/-/i/
/a/-/t/-/i/-/k/
/i/-/t/-/a/-/k/

Sedangkan bentuk-bentuk seperti di bawah ini tidak mungkin:

/k/-/t/-/i/-/a/
/k/-/t/-/a/-/i/
/t/-/k/-/a/-/i/
/t/-/k/-/i/-/a/

kenapa tidak mungkin? sebab dalam sistem fonologi bahasa Indonesia tidak ada urutan konsonan /k/-/t/ dan urutan /t/-/k/.


Keproduktifan bahasa Indonesia juga dapat dilihat pada jumlah kalimat yang dapat dibuat. dengan kosakata yang menurut KBBI hanya berjumlah lebih kurang 60.000 buah, kita dapat membuat kalimat bahasa Indonesia yang mungkin puluhan juta banyaknya, termasuk juga kalimat-kalimat yang belum pernah ada atau pernah dibuat orang.

Keproduktifan bahasa memang ada batasnya. Dalam hal ini bisa dibedakan adanya 2 macam keterbatasan, yaitu keterbatasan pada tingkat parole & keterbatasan pada tingkat langue.

Keterbatasan pada tingkat parole yaitu pada ketidaklaziman / kebelumlaziman bentuk-bentuk yang dihasilkan.

Misalnya, dalam bahasa Indonesia, bentuk mencantikkan dan bentuk memperbetuli tidak dapat diterima, karena tidak lazim atau belum lazim, meskipun bentuk menjelekkan dan bentuk memperbaiki dapat diterima.

Keterbatasan pada tingkat langue yaitu karena adanya kaidah atau sistem yang berlaku.

Misalnya, bentuk yang tidak mungkin jadi kata bahasa Indonesia, seperti

/k/-/t/-/i/-/a/
/k/-/t/-/a/-/i/
/t/-/k/-/a/-/i/
/t/-/k/-/i/-/a/

karena menurut sistem fonologi bahasa Indonesia tidak ada urutan fonem tk atau kt.

Begitu juga bentuk memenuhan dan bertemui tidak dapat diterima, karena dalam sistem morfologi bahasa Indonesia tidak ada pasangan afiks me-/-an dan ber-/-i, sedangkan bentuk-bentuk memberlakukan, pemertahanan dan keterbacaan adalah bentuk-bentuk yang dapat diterima karena tidak menyalahi kaidah pembentukan kata bahasa Indonesia.

Selain dari itu, keproduktifan pembentukan kata dlm bahasa Indonesia dengan afiks-afiks tertentu nampaknya pula dibatasi oleh ciri-ciri inheren bentuk dasarnya, yang sejauh ini hal itu belum dikaji orang.

Contohnya, prefiks /me-/ lebih produktif dibandingkan prefiks /di-/, karena prefiks /me-/ dapat juga diimbuhkan pada dasar yg menyatakan keadaan / sifat, sedangkan prefiks /di-/ tidak dapat seperti itu.

Jadi, bentuk-bentuk seperti membengkak, menaik dan meinggi dapat diterima, sedangkan bentuk-bentuk dibengkak, dinaik dan ditinggi tidak dapat diterima.

Nah begitulah penjelasan mengenai bahasa bersifat produktif dan contohnya, yang tentu bisa juga dijadikan bahan makalah, semoga bermanfaat

Sumber: Buku Linguistik Umum, Karya: Abdul Chaer.

0 Response to "Pengertian dan Contoh Bahasa Bersifat Produktif (Linguistik)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel