10 Cerita Pendek Bahasa Arab Penuh Hikmah dan Artinya

Cerita Pendek Bahasa Arab

Assalamualaikum sahabat pecinta bahasa Arab, Admin kali ini akan membagikan cerita pendek bahasa arab dan artinya atau cerpen bahasa arab berharakat beserta artinya.

Cerpen atau cerita pendek dalam bahasa Arab disebut juga qishash atau hikayat, di dalamnya berisi kisah-kisah, legenda, narasi, novel, komik, dongeng yang banyak bernada humor, tetapi penuh hikmah, kebijakan, motivasi dan inspirasi di dalamnya, yang tak semuanya dapat dilontarkan melalui ungkapan-ungkapan biasa yang serius tetapi dapat dengan mudah diceritakan dalam humor dan guyonan, semuanya dapat dijadikan renungan bagi kehidupan.

Karena begitu pentingnya mengenai contoh teks story telling bahasa arab, Admin akan membagikan kumpulan cerita pendek bahasa arab, contoh cerita panjang bahasa arab dan artinya ini dapat dijadikan media pembelajaran bahasa Arab khususnya dalam mengasah maharah qira'ah atau kemahiran membaca.

Berikut di bawah ini kumpulan cerita pendek bahasa Arab dan Terjemahannya:

القِصَصُ العَرَبِيَّةُ القَصِيْرَةُ
(Cerita-cerita Pendek Bahasa Arab)

الإِعْلَانُ وَالأَعْمَى
(Papan Pengumuman dan Si Buta)
جَلَـسَ رَجُـلٌ أَعْمَـى عَلَـى إِحْـدَى عَتَبَـاتِ عِمَـارَةٍ، وَاضِعًـا قُبَّعَتَـهُ بَيْـنَ قَدَمَيْـهِ، وَبِجَانِبِـهِ لَوْحَـةٌ مَكْتُـوْبٌ عَلَيْهَـا:"أَنَـا أَعْمَـى، أَرْجُوْكُـمِ سَاعَدُوْنِـيْ"، فَمَـرَّ رَجُـلٌ إِعْلَانَـات بِالأَعْمَـى، وَوَقَـفَ لِيَـرَى أَنَّ قُبَّعَـتَهُ لَا تَحْـوِيْ سِـوَى قُـرُوْشٍ قَلِيْلَـةٍ، فَوَضَـعَ المَزِيْـدَ فِيْهَـا دُوْنَ أَنْ يَسْتَـأْذِنَ الأَعْمَـى، وَأَخَذَ لَوْحَتَـهُ وَكَتَبَ عَلَيْهَـا عِبَـارَةً أُخْـرَى، وَأَعَادَهَـا مَكَانَهَـا وَمَضَـى فِيْ طَرِيْقِـهِ. لَاحَـظَ الأَعْمَـى أَنَّ قُبَّعَـتَهُ قَدِ امْتَـلَأَتْ بِالقُـرُوْشِ وَالأَوْرَاقِ النَقْدِيَّـةِ، فَعَـرَفَ أَنَّ شَيْـئًا مَا قَـدْ تَغَيَّـرَ، وَأَدْرَكَ أَنَّ مَا سَمِعَـهُ مِنَ الكِتَـابَةِ هُـوَ ذلِكَ التَّغْيِـيْرُ، فَسَـأَلَ أَحَـدَ المَـارَّةِ عَمَّـا هُـوَ مَكْتُـوْبٌ عَلَيْهَـا، فَكَانَـتِ الآتِـيْ:" نَحْـنُ فِيْ فَصْـلِ الرَّبِـيْعِ، لكِنَّـنِيْ لَا أَسْتَطِيْـعُ رُؤْيَـةَ جَمَـالِهِ!".
Diceritakan suatu hari ada seorang pria buta duduk di salah satu ambang pintu bangunan sambil meletakkan topinya diantara kedua kakinya, di sebelahnya di letakkan sebuah papan pengumuman yang berbunyi: “Saya seorang buta, tolong bantu saya”, kemudian lewatlah seorang laki-laki sembari memperhatikan si Buta dan papan pengumuman tersebut, kemudian ia berhenti dan melihat topi Si Buta tersebut yang hanya berisi beberapa rupiah saja, lalu lelaki tersebut menambahkan uangnya dalam topinya tanpa seizin Si Buta, kemudian lelaki tersebut mengambil papan pengumuman tersebut dan menggantinya dengan kata-kata lain, lalu ia kembali meletakkan di tempatnya, setelah itu ia kembali melanjutkan perjalanannya. Si Buta tersebut memperhatikan bahwa topinya kini penuh dengan koin dan uang kertas, ia sadar bahwa ada yang berubah, dan ia menyadari bahwa apa yang ia dengar dari tulisan tadi adalah yang merubahnya, lalu ia bertanya pada pejalan kaki yang lewat tentang apa yang tertulis di papan tersebut, lalu pejalan kaki tersebut menjawab: “Kita tengah berada di musim semi tetapi saya tidak dapat melihat keindahannya”.

Hikmah: yang ada di cerita di atas adalah koreksi bahasa yang dilakukan lelaki yang lewat yang memberikan uang terhadap si buta tanpa seizinnya, lelaki tersebut mengoreksi bahasa dalam papan pengumuman tersebut yang berbunyi “Saya seorang buta, tolong bantu saya” dirubah ke bahasa lain yang lebih halus “Kita tengah berada di musim semi tetapi saya tidak dapat melihat keindahannya”, sontak orang-orang yang lewat pada memberikan uang ke Si Buta tersebut dengan banyak karena hatinya tersentuh dengan bahasa kiasan yang bermakna tersebut. Maka intinya gunakanlah bahasa yang bagus, indah dan menyentuh ketimbang bahasa yang langsung tanpa basa-basi, supaya orang-orang merasa tersentuh dan memberi kebaikan yang lebih.



حِكَايَةُ النَّسْرِ
(Kisah Elang)
يُحكـى أَنَّ نَسْـراً كَانَ يَعِيْـشُ فِي إِحْـدَى الجبَـالِ، وَيَضَـعُ عشّـه على قمـة إحـدى الأشجـار، وكان عـشّ النّسـر يحتـوي على أربـع بيضـات، ثـمّ حـدث أن هـزّ زلـزال عنيـف الأرض، فسقطـت بيضـة من عشّ النّسـر، وتدحرجـت إلى أن استقـرّت في قـنّ للدجـاج، وظنّـت الدّجاجـات بأنّ عليـها أن تحمـي وتعتـني ببـيضة النّسـر هـذه، وتطـوّعت دجاجـة كبـيرة في السّـن للعنـاية بالبـيضة إلى أن تفقـس، وفي أحد الأيـام فقسـت البيضـة، وخـرج منهـا نسـر صغيـر جميـل.
لكـنّ هـذا النّسـر بـدأ يتربّـى علـى أنّـه دجاجـة، وأصبـح يعـرف أنّـه ليـس إلا دجاجـة، وفـي أحد الأيّـام وفيمـا كان يلعـب في ساحـة قـنّ الدّجـاج، شاهـد مجموعـةً من النّسـور تحلـق عاليـاً في السّمـاء، فتمنّـى هذا النّسـر لـو كان يستطيـع التّحليـق عاليـاً مثـل هـؤلاء النّسـور، لكنّـه قوبـل بضحـكات الاستـهزاء من الدّجـاج، قائليـن له:"ما أنت سـوى دجاجـة، ولن تستطيـع التّحليـق عاليـاً مثـل النّسـور"، وبعدهـا توقّـف النّسـر عن حلمـه بالتّحليـق في الأعـالي، وآلمـه اليـأس، ولم يلبـث أن مـات بعد أن عـاش حيـاةً طويلـةً مثل الدّجـاج.
Diceritakan suatu hari seekor Elang tinggal di sebuah gunung, ia membuat sarangnya di puncak salah satu pohon, Elang tersebut memiliki 4 telur, kemudian terjadilah sebuah gempa yang besar mengguncang bumi, lalu sebutir telur Elang tersebut jatuh dari sarangnya dan menggelinding sampai tiba di sarang ayam, ayam tersebut menyangka bahwa telur tersebut adalah titipan Elang supaya dijaga dan dirawat, maka ayam yang besar tersebut dengan sukarela menjaga telur Elang tersebut sampai menetas, dan suatu hari telur itu menetas, lalu keluarlah seekor Elang kecil yang imut.
Tetapi Elang kecil tersebut mulai tumbuh sebagai ayam, jadinya ia tahu bahwa ia adalah seekor ayam, suatu hari ketika ia bermain di pekarangan kandang ayam ia melihat sekumpulan Elang terbang tinggi di langit, lalu ia berangan-angan agar bisa terbang tinggi seperti mereka, akan tetapi anak-anak ayam lain mencemooh dan menertawakannya sambil berkata pada Elang tersebut: “Kau hanya seekor ayam, kau tidak bisa terbang tinggi seperti sekumpulan Elang tersebut”, setelah itu Elang tersebut menghentikan mimpinya untuk bisa terbang tinggi, ia merasa sakit dan putus asa, dan segera ia mati setelah menjalani kehidupan panjang seperti ayam.

Hikmah: jangan sekali-kali mencela dan mencemooh mimpi seseorang, karena akan menjatuhkan semangatnya dan membuatnya putus asa.



الطموح مصيدة
(Ambisi Adalah Jebakan)
ذهـب صديقـان ليصطـادا الأسمـاك، فاصطـاد أحدهمـا سمكـةً كبيـرةً، فوضعهـا في حقيبتـه، ونهـض لينصـرف، فسـأله الآخـر: إلـى أيـن تذهب؟! فأجـابه الصّديـق: إلى البيـت، فقد اصطـدت سمكـةً كبيـرةً جدّاً تكفينـي، فـردّ الرّجـل: انتظـر لتصطـاد المزيـد من الأسمـاك الكبيـرة مثلـي، فسألـه صديقـه: ولمـاذا أفعـل ذلك؟ فـردّ الرّجـل: عندمـا تصطـاد أكثـر من سمكـة يمكنـك أن تبيعهـا، فسألـه صديقـه: ولمـاذا أفعـل هـذا؟ قال لـه: كي تحصـل على المزيـد من المـال، فسألـه صديقـه: ولمـاذا أفعـل ذلك؟ فـردّ الرّجـل: يمكنـك أن تدّخـره وتزيـد من رصيـدك في البنـك، فسألـه: ولمـاذا أفعـل ذلك؟ فـردّ الرّجـل: لكـي تصبـح ثريّـاً، فسألـه الصّديـق: ومـاذا سأفعـل بالثّـراء؟ فـردّ الرّجـل: تستطيـع في يـوم من الأيّـام عندمـا تكبـر أن تستمتـع بوقتـك مع أولادك وزوجتـك، فقـال له الصّديـق العاقـل: هذا هو بالضبـط ما أفعلـه الآن، ولا أريـد تأجيلـه حتّى أكبـر، ويضيـع العمـر!.
Diceritakan suatu hari ada dua sahabat berangkat untuk menangkap ikan, salah satu dari mereka mendapatkan ikan yang besar, lalu ia memasukkannya ke dalam kantongnya, ia lalu bangkit hendak pulang, salah satu sahabatnya lagi berkata: “Mau kemana?” sahabat tadi menjawab: “Mau pulang ke rumah, aku sudah menangkap ikan yang sangat besar, itu sudah cukup bagiku”, sahabat yang satunya lagi membalas: “Tunggulah, tangkap ikan lagi! agar menangkap ikan yang lebih besar seukuranku”, sahabat tadi bertanya: “Kenapa aku harus melakukan itu?”, sahabat satunya lagi menjawab: “Supaya kau menghasilkan harta yang banyak”, sahabat tadi bertanya: “Kenapa aku harus melakukan itu?”, sahabat satunya lagi menjawab: “Supaya kau dapat menyimpan uang yang banyak di bank”, sahabat tadi bertanya: “Kenapa aku harus melakukan itu?”, Sahabat satunya lagi menjawab: “Agar kaya”, sahabat tadi bertanya lagi: “Dan apa yang akan aku lakukan dengan kekayaan?”, sahabat satunya lagi menjawab: “Suatu hari tatkala kau tumbuh besar kau dapat menikmati waktu bersama anak-anak dan isterimu”, sahabat yang bijak tadi membalas: “Itulah yang aku lakukan sekarang, aku tak ingin menundanya sampai aku tua dan menyia-nyiakan umurku!”.

Hikmah: Jangan sampai umur kita terbuang sia-sia karena terus mengejar ambisi, sampai kita lupa tujuan hidup yang sebenarnya.



الرجل الطموح
(Lelaki yang Ambisius)
جـاء في حكـم وقصـص الصّيـن القديمـة، أنّ ملـكاً أراد أن يكافـئ أحد مواطـنيـه، فقـال له:" امـتلك من الأرض كلّ المساحـات التي تستطيـع أن تقطعهـا سيـراً على قدميـك"، ففـرح الرّجـل وشـرع يمشـي في الأرض مسرعـاً ومهـرولا في جنـون، وسـار مسـافةً طويلـةً فتـعب، وفكّـر في أن يعـود للمـلك ليمنحـه المسـاحة التـي قطعـها، ولكنّـه غيّـر رأيـه، وقـرّر مواصلـة السّيـر ليحصـل على المزيـد، وسـار مسافـات أطـول وأطـول، وفكّـر في أن يعـود للمـلك مكتفيـاً بمـا وصل إليـه، لكنّـه تـردّد مـرّةً أخـرى، وقـرّر مواصلـة السّيـر ليحصـل على المزيـد والمزيـد. ظـلّ الرّجـل يسيـر ويسيـر، ولم يعـد أبـداً، فقـد ضلّ طريقـه وضـاع في الحيـاة، ويقـال أنّـه وقـع صريعـاً من جـرّاء الإنهـاك الشّديـد، ولـم يمتـلك شيئـاً، ولم يشعـر بالاكـتفـاء والسّعـادة، لأنّـه لم يعـرف حدّ الكــفـاية أو القنـاعـة.
Diceritakan dalam hikmah-hikmah dan cerita-cerita kuno Cina, ada seorang Raja yang ingin memberi penghargaan kepada salah satu warga negaranya, Raja tersebut berkata kepadanya: “Milikilah semua tanah yang dapat anda lewati dngan berjalan kaki”, lelaki tersebut senang dan mulai berjalan di tanah dngan cepat dan tergesa-gesa, ia berjalan dalam waktu yng lama, kmudian ia letih, lalu ia berpikir untuk kembali pada Raja agar memberinya area tanah yang telah ia lewati, akan tetapi ia berubah pikiran dan terus melanjutkan berjalan lebih lama agar mendapatkan lebih banyak, ia berjalan dan terus berjalan lebih lama, ia kembali berpikir untuk kembali pada Raja dan cukup sampai sini, akan tetapi ia berubah pikiran lagi, ia terus melanjutkan berjalannya lagi agar mendapatkan lebih banyak dan lebih luas. Lelaki tersebut tetap berjalan dan berjalan dan ia tak pernah kembali selamanya, ia kehilangan arah dan nyawanya, dikatakan bahwa lelaki tersebut terjatuh karena keletihan yang sangat, dan ia tak mendapatkan apa-apa, ia tak merasa cukup dan bahagia, karena ia tak tahu batas kecukupan dan qanaah.

Hikmah: Orang yang tak tahu akan qana'ah dan kesederhanaan akan letih menjalani hidup ini, sebab ia selalu takkan merasa cukup.



جحا والسائل
(Juha dan Pengemis)
كان جحـا في الطـابق العلويّ من منـزله، فطـرق بابـه أحد الأشخـاص، فأطـلّ من الشبـاك فـرأى رجـلا، فقـال: مـاذا تـريد؟ قال: انـزل إلى أسفـل لأكلمـك، فنـزل جحـا، فقـال الرّجـل: أنا فقيـر الحـال، وأريـد حسنـةً يا سيـدي، فاغتـاظ جحـا منـه، ولكنّـه كـتم غيظـه، وقـال له: اتبعنـي. صعـد جحـا إلى أعلى البيت والـرّجـل يتبعـه، فلمّـا وصلا إلى الطـابق العلـويّ، التفـت جحـا إلى السّـائل، وقـال له: الله يعطيـك، فأجـابه الفقيـر: ولمـاذا لم تقـل لي ذلك ونحن في الأسفـل؟ فقـال جحـا: وأنت لمـاذا أنزلتـني، ولم تقـل لي وأنـا فـوق ما طلبـك؟
Ketika Juha tengah berada di lantai atas rumahnya tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu rumahnya, lalu ia memandang ke bawah melalui jendelanya, Juha melihat seorang laki-laki, lalu ia berkata: “Apa yang kau inginkan?”, laki-laki tersebut menjawab: “Turunlah ke bawah aku ingin bicara denganmu”, lalu turunlah Juha, kemudian lelaki tersebut berkata pada Juha: “Aku adalah seorang fakir, aku berharap kebaikanmu tuan”, mendengar ucapan lelaki tersebut Juha marah, tetapi ia menyembunyikan kemarahannya, lalu ia berkata pada lelaki tersebut: “Ikutilah aku!”, Juha lalu naik ke lantai atas rumah dan lelaki tadi mengikutinya, tatkala mereka sampai di lantai atas Juha menoleh ke lelaki pengemis tersebut: “Semoga Allah memberimu”, lelaki fakir tadi sontak mnjawab “Knapa kau tak mngatakannya padaku ktika kita di bawah?”, Juha membalas: “Begitu pula dengan kau, mengapa kau menyuruhku turun dan tak mengatakan kebutuhanmu padaku ketika aku di atas?”.

Hikmah: Jika kita hendak mengutarakan sesuatu atau meminta sesuatu, sampaikanlah secara langsung dan jelas serta mintalah dengan baik-baik, tanpa terlalu banyak basa-basi, berbelit-belit, memusingkan orang yang dituju dan bahkan menampakkan keangkuhan kita, kita harus paham posisi bahwa kita itu sedang butuh, boleh jadi dengan  ucapan dan permintaan yang baik orang yang dituju akan dengan sukarela mengulurkan bantuan pada kita.


غاندي وفردة الخذاء
(Gandhi dan Sebelah Sepatu)
يُحكـى أنّ غانـدي كان يجـري بسرعـة ليلحـق بالقطـار، وقد بـدأ القطـار بالسّيـر، ولـدى صعـوده على متن القطـار سقطـت من قدمـه إحدى فـردتي حذائـه، فمـا كان منـه إلا أن خلع الفـردة الثّانيـة، وبسـرعة رماهـا بجـوار الفـردة الأولى على سكّة القطـار، فتعجّب أصدقـاؤه وسألـوه: ما حمـلك على ما فعـلت؟ ولمـاذا رميـت فـردة الحـذاء الأخـرى؟ فقـال غانـدي الحكيـم: أحببت للفقيـر الذي يجـد الحـذاء أن يجـد فردتيـن، فيستطيـع الانتفـاع بهمـا، فلـو وجد فـردةً واحـدةً فلن تفيـده، ولن أستفيـد أنا منها أيضـاً!.
Diceritakan suatu hari Gandhi berlari mengejar kereta karena keretanya sudah mulai bergerak maju, tatkala Gandhi menaiki kereta tersebut, salah satu sepatunya terlepas dari kakinya, maka tak ada yang dilakukannya kecuali melepas sepatu yang satunya lagi (yang masih menempel di kakinya), dengan cepat ia melemparkan sebelah sepatunya ke dekat sepatu yang pertama terlepas di rel kereta, teman-temannya merasa keheranan seraya bertanya pada Ghandi: “Apa motifmu melakukan hal tadi, dan kenapa kamu melemparkan sepatu yang sebelahnya lagi?”, Ghandi yang bijak menjawab: “Aku ingin seorang fakir yang menemukan sepatu tersebut secara utuh sepasang, maka seorang fakir tersebut dapat memakainya, jika ia menemukan sepatu tersebut hanya sebelah itu tak akan digunakannya, dan begitu pula aku takkan menggunakan sepatu yang hanya sebelah”.

Hikmah: Orang cerdas dan bijak akan dengan cepat memahami sesuatu dan dalam pikirannya selalu tertuju untuk kemanfaatan bagi orang lain.


الحسود والبخيل
(Si Pendengki dan Si Pelit)
وقـف حسـود وبخيـل بيـن يدي أحد الملـوك، فقـال لهمـا: تمنّيـا مني ما تريـدان، فإنّـي سأعطـي الثّـاني ضعف ما يطلبـه الأوّل. فصـار أحدهمـا يقـول للآخـر أنت أولاً، فتشـاجرا طويـلاً، وكان كلّ منهمـا يخشى أن يتمنّـى أوّلاً، لئلّا يصيـب الآخر ضعف ما يصيبـه، فقـال الملك: إن لم تفعـلا ما آمركمـا قطـعت رأسيكمـا. فقـال الحسـود: يا مـولاي اقلـع إحدى عينـيّ!.
Diceritakan suatu hari Si Pendengki dan Si Pelit berdiri di hadapan seorang Raja, Raja tersebut berkata pada mereka berdua: “Berangan-anganlah apa yang kalian inginkan dariku, aku akan mengabulkan orang peminta kedua dua kali lipat dari yang diminta orang pertama”, maka kedua orang tersebut saling berkata: “Kamu duluan.. kamu duluan!”, mereka bertengkar lama, masing-masing khawatir berangan-angan lebih dulu, supaya jangan sampai peminta yang kedua mendapatkan dua kali lipat dari apa yang peminta pertama dapatkan, lalu Raja berkata: “Jika kalian berdua tak melakukan apa yang kuperintahkan, akan kupenggal kepala kalian berdua”, lalu akhirnya berkatalah Si Pendengki: “Wahai tuanku congkellah salah satu mataku!”.

Hikmah: Begitulah sifat orang pendengki, iri dan juga bakhil atau pelit, bila keduanya dipadukan akan membuahkan seperti cerita di atas.


نعل الملك
(Sandal Raja)
يُحكـى أنّ ملكـاً كان يحكـم دولـةً واسعـةً جـدّاً، وأراد هـذا المـلك يومـاً ما القيـام برحلـة بريّـة طويلـة، وخلال عودتـه وجـد أنّ أقدامـه تورّمـت بسبب المشـي في الطّـرق الوعـرة، فأصـدر مرسومـاً يقضـي بتغطيـة كل شـوارع مدينـتـه بالجـلد، ولكنّ أحد مستـشـاريه أشـار عليه بـرأي أفضل، وهو عمل قطـعـة جلد صغيـرة تحت قدمـيّ الملك فقـط، فكانت هذه بدايـة نعل الأحذيـة.
Diceritakan ada seorang Raja yang menguasai suatu negeri yang amat luas, suatu hari Raja tersebut hendak melakukan perjalanan darat yang panjang, ketika Raja tengah kembali dari perjalanan tersebut ia mendapati kedua telapak kakinya bengkak dikarenakan perjalanan yang terjal, lalu ia mengeluarkan keputusan yang berisi perintah untuk memberikan alas pada setiap jalan yang ada di kota dengan kulit, akan tetapi salah satu penasehat Raja tersebut mengusulkan pendapat yang lebih baik, yaitu meletakkan sepotong kulit di bawah kedua telapak kaki Raja saja, dan inilah asal muasal penggunaan sandal/sepatu.


Hikmah: Dengan pemikiran yang cemerlang dapat membuat hidup ini efektif dan efisien.


Demikian uraian mengenai kumpulan cerpen atau cerita pendek bahasa Arab beserta artinya, semoga bermanfaat.

Baca juga cerita pendek bahasa Arab lainnya:

0 Response to "10 Cerita Pendek Bahasa Arab Penuh Hikmah dan Artinya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel