Sikap dan Pandangan Islam terhadap Terorisme


Bila mana kita tengok lembaran sejarah ke belakang, baik Islam dan tentu negara-negara, partai-partai, paham-paham atau agama-agama lain memperluas jangkauan pengaruh ajarannya –salah satunya- dengan cara mempropaganda wilayah, merebut kekuasaan dan –bahkan- dengan peperangan (kekerasan).

Di lembar kehidupan sekarang, propaganda semacam itu tak kita temui lagi, pemuka dan tokoh-tokoh di berbagai belahan dunia lebih aktif menyuarakan kebebasan, kedamaian dan kerukunan antar sesama manusia, dengan betonggak pada nurani yang hal semacam demikian itu sama sekali tak sejalan dengan pri kemanusiaan, hingga pada akhirnya manusia-manusia di bumi telak simpati dan terciptalah –yang kurang lebih- keadaannya seperti sekarang.

Tetapi hal itu rasanya belum terjadi di bagian kecil wilayah Timur Tengah, yang serupa masih jadi medan pertempuran dan pusat jalan ke alam baka paling cepat. Orang sering sebut gerakan mereka dengan terorisme.

Entah apa sebenarnya yang mereka perjuangkan betul, tetapi mesti kita terima pula –meski dengan berat hati- bahwa mereka beragama Islam.

Dengan demikian, terorisme yang terjadi sekarang barang bukan tidak mungkin adalah dari dorongan faham Islam, tetapi hal itu mungkin lebih tepat dikatakan akibat dari pemahaman mereka akan ajaran Islam yang dangkal.

Saya katakan dari dorongan Islam karena saya pikir bagaimana mungkin ada perlawanan yang begitu kuat dan bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa ada motif yang berakar.

Kita lihat, misalnya kalau saja dulu Islam tak mempropagandakan wilayah kekuasaannya bisa dimungkinkan pengaruh Islam hanya berputar sebatas di negeri Arab atau kota Makkah saja bahkan mungkin hanya ada pada diri Nabi Muhammad.

Pada giliran selanjutnya, justru banyak orang-orang yang berucap syukur Islam bisa sampai ke hati, meski hal itu baru dirasakannya secara lambat laun, yang sebetulnya pada awal mula propagandanya, Islam harus rela dibenturkan terlebih dahulu dengan paham lokal dan perlawanan manusia-manusianya. Termasuk juga pribadi yang berdiam di negeri Indonesia yang khusus dipropagandai Islam tanpa peperangan, yang pribadi tak merasakan masa itu dan hanya memetik buahnya saja secara cuma-cuma, tetapi rasa syukur itu persis sama.

Fenomena ini bisa saja kita pahami, bahwa setidaknya ada dua metode penyebaran dan perluasan ajaran Islam, pertama dengan teknik propaganda yang demikian lembut dan epik, bisa berupa soft speech, modeling dan semisalnya, meski hal ini terbilang lama dalam proses propagandanya tetapi buahnya dipastikan berakar dan menghujam kuat dalam kalbu; kedua dengan teknik propaganda yang tegas dan atau keras, secara semi lembut mungkin dalam hal ini bisa masuk model seperti pada awalnya Islam menawarkan paham-pahamnya pada kekuasaan yang tengah bertengger kala itu, jika mereka menolak secara mentah-mentah –lebih jauh mencela dan mengadakan perlawanan- mestilah mereka diperangi karena menolak ajaran Tuhan sekaligus melakukan pertentangan terhadap Islam, lain halnya jika mereka menolak tetapi melakukan suatu persetujuan dengan Islam untuk patuh dan tidak melakukan makar serta membentuk barisan oposisi, mereka akan aman dan dilindungi hak-haknya dalam kekuasaan Islam; secara lebih kasar ialah tentu dengan memaksakan paham Islam, kalau menolak mestilah dibunuh dengan dalih yang populer semisal kaum kafir yang halal darahnya. Teknik propaganda ini –kiranya- yang digunakan terorisme dalam melancarkan aksinya.

Jika kita toleh dari sisi psikologi, dapat mungkin bisa diterima bahwa ketegasan (kekerasan) yang timbul dari pribadi-pribadi orang Arab gampang diterima, demikian hal ini karena watak pribadi orang Arab tampak menonjol dan berbeda secara umum bila disejajarkan dengan pribadi-pribadi di bagian wilayah Asia lainnya, terkhusus semisal pribadi orang-orang Indonesia, India dan semisalnya. Boleh anda katakan demikian sebabnya terkait dengan masalah geografis, watak turun temurun dan lain hal.

Orang-orang kita sekarang, yang notabene pemahaman akan tauhidnya yang kian kental (semu taklid) tentu akan menafikan hal-hal yang saya uraikan di atas secara sekali libas yang berkontradiksi dengan paham-paham Islam yang mereka yakini, semacam propaganda Islam dengan kekerasan ataupun mengklaim terorisme dari motif paham Islam, mereka kira-kira akan membela diri dengan mengatakan bahwa fenomena terorisme tersebut hanya lahir dari cucian otak dan ataupun adu domba belaka untuk memecah belah dan menghancurkan keutuhan Islam. Ataupun mengenai peperangan dan kekerasan, mereka katakan hal demikian karena sebatas membela hak-hak kemanusiaan yang terdzalimi, tetapi tak bisa dipungkiri dalam perjalanannya dapat mungkin sedikit kita baca ada tujuan perluasan ajaran Islam di dalamnya. Tetapi lebih benarnya tentu kita mesti memahami sejarah secara mendalam dengan tingkat akurasi yang berpresentase sempurna.

Terakhir, simpulan dari opini yang telah diuraikan di atas, apakah dapat kita benarkan dan –lebih jauh- kita bela orang-orang yang –katanya- tengah berjuang demi penyebarluasan faham Islam dan menghentikan lahirnya bibit-bibit kafir yang menentang Islam? Disini, pekerjaan dan penyelesaian masalah ini amat perlu diperankan oleh tokoh-tokoh Islam ataupun kekuasaan yang memadai yang mampu menyentuh secara nyata akan problema tersebut.

Sebagai yang punya peran jauh dan teramat mustahil bisa menyentuh problematika tersebut, lebih bijak jika kita memahami dengan bagus, menambal bintik-bintik kekacauan dan menyuarakan dengan lantang dan berani atas kebenaran, karena terorisme dan peperangan yang tengah terjadi sekarang –lebih jauh- ditakutkan jadi bibit peperangan besar dunia selanjutnya.
Kecilnya, terorisme telah mencoreng wajah islam yang damai dan tentu ajarannya yang hanif, ungkapan demikian telah banyak ditegaskan oleh banyak kalangan Islam sendiri. Maka, bukan hal mustahil bilamana mata dunia memandang miring akan Islam, tak mau mengenal ajarannya bahkan ada semacam ketakutan untuk jadi bagian Islam (masuk Islam). Andai kata Nabi Muhammad bangkit kembali ke alam dunia dan melihat kondisi sekarang mungkin Ia akan merasa begitu miris, ngilu dan amat menolak tindakan hewani semacam itu –yang kata mereka- merupakan bagian dari ajaran Islam.

Terakhir sekali, mohon dimaklumi bilamana topik ini saya jadikan korban sasaran sebagai media belajar menulis, yang dapat dimungkinkan tak kokohnya logika dan tak tentunya pesan moral hingga jadi salah simpulan dan bahkan menyesatkan.

Wallahu a’lam.

0 Response to "Sikap dan Pandangan Islam terhadap Terorisme"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel