Memahami Secara Jernih Pandangan Islam terhadap Agama-Agama yang Lain



Kita umat muslim sebenarnya mempunyai Al-Qur’an yang sangat agung yang tidak ada kesalahan sedikitpun di dalamnya, semua kalimat, kata bahkan huruf sekalipun yang tertera sesuai tempatnya dalam Al-Qur’an yang mengandung syari’at, prediksi (baca: kepastian) serta kisah-kisah masa lampau dan yang akan datang, yang kalau membacanya seperti sebuah dongeng atau khayalan masa depan belaka, sudah sangat pasti kebenarannya; lalu dengan khilafnya kita menelantarkan, menggeletakkan Kitab Suci itu semau kita, tanpa kita mau membacanya secara keseluruhan, apalagi tafsirnya, ada yang membaca hanya membaca, meski itu sudah bagus tapi kita sebagai manusia yang ditakdirkan Tuhan sebagain makhluk pilihan seharusnya bisa mendalaminya, karena Al-Quran Kalam dari Yang Maha Cerdas, Maha Detail, Maha Seni, dari Yang paling memahami alam semesta; ada yang membaca bahkan menghafal tapi karena ego, hari ini saya harus hafal segini.. minggu ini saya harus hafal segitu.. bulan ini.. tahun ini.. dan seterusnya begitu tanpa ada tujuan kepasrahan, tujuan yang lebih mulia, melainkan justru kekasaran dan kekerasan yang timbul dari -memahami- Al-Qur’an, ini yang penting, kita harus benar-benar meluruskan sebuah niat.

Sudah banyak fenomena dari memahami Al-Qur’an yang setengah-setengah, gampang sekali mengafirkan orang lain, mereka menyebut yang berbeda aliran dan kelompok yang lain sebagai kafir maka berarti telah memandang mereka tersesat dan keluar dari Islam. Disini mucul klaim bahwa pendapat dan kelompoknya lah yang paling benar, yang lain sesat dan menyesatkan; yang merasa paling benar akan merasa paling tinggi dari yang lain, sedangkan pihak yang dianggapnya kafir lebih rendah bahkan terkutuk, ini adalah bahaya dari mudahnya pengafiran; seharusnya pengafiran dijauhkan sejauh-jauhnya dalam Islam; kita pahami, berbeda bukan berarti tersesat, perbedaan bukan berarti penodaan tapi adalah sebuah keniscayaan.

Muncul pertanyaan, mengapa pengafiran harus ditolak? Selain pengafiran merupakan pandangan dan sikap yang diskriminatif, tidak demokratis dan bertentangan dengan kebebasan beragama seseorang, juga bertentangan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan dalam Islam, yaitu:

Pertama, hanya Allah yang memiliki otoritas untuk memberikan penilaian, siapa yang beriman dan siapa yang kafir, siapa yang lurus dan siapa yang menyimpang.

"Sungguh, Tuhanmu, Ia yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Ia yang lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk". (QS. An-Nahl 16:125).

Kedua, perbedaan yang ada di alam semesta ini merupakan ketetapan Allah, kehendak dan kesengajaan Allah. Karena kalau saja Dia mau, Ia akan menjadikan seluruh umat di alam semesta ini satu golongan saja, tapi nyatanya Dia berkehendak lain, dia sengaja membeda-bedakan yang tujuannya “berlomba-lomba dalam kebaikan”, bukan berlomba-lomba mengafirkan dan menyesatkan pihak yang berbeda.

"Bagi masing-masing daripadamu (Kami tentukan) aturan dan cara, sekiranya Allah berkenan tentulah Ia jadikan kamu satu umat, tapi maksudnya menguji kamu dalam apa yang diberikan-Nya kepadamu. Karena itu berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Kepada Allah kamu kembali semuanya, dan Dia lah yang akan memberitahukan kepadamu apa yang kamu perselisihkan". (QS. Al-Mâ’idah 5: 48).

Konteks ayat di atas berbicara mengenai relasi antar agama, kita tidak bisa menutup mata bahwa dalam internal agama Islam sendiripun tumbuh berbagai macam aliran dan kelompok, kalau begitu, dengan “antar agama” saja diajak memandang secara positif, apalagi dengan perbedaan yang ada di dalam tubuh Islam sendiri.

Ketiga, larangan mengafirkan sesama muslim –sebenarnya kalau kita membaca dan memahami- timbul dari sabda dan aturan Nabi kita, Muhammad SAW:

"Barang siapa yang menuduh seseorang (muslim) dengan kekafiran atau mengatakan padanya “musuh Allah” padahal ia bukan seperti itu, maka tuduhan itu berbalik pada penuduhnya". (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Di sini kita paham, bahwa pengafiran itu bukan perkara mudah, maksudnya kita tidak dianjurkan mengukur, menilai kedalaman jiwa seseorang, karena kita tidak tahu tempat atau kedudukan seseorang itu di mata Sang Pencipta.

Fenomena lain, pengafiran sering disertai fatwa pembunuhan. Padahal seorang muslim haram darah, harta dan kehormatannya.

"Setiap muslim atas muslim yang lain haram darahnya, hartanya dan kehormatannya". (HR. Muslim).


Kalau begitu bagaimana pandangan Islam yang sebenarnya pada agama-agama yang lain? Kita harus kembali lagi membaca dan memahai Kalam Suci yang untung masih ada di samping kita.

Al-Quran mengakui daya penyelamat agama-agama di luar Islam. Allah sendiri justru meminta penganut agama-agama lain konsisten pada keyakinan mereka, menjalankan aturan dan syari’at mereka, “tanpa penyelewengan”. Secara eksplisit Al-Quran menyebutkan empat macam agama yang dijamin keselamatannya: Islam, Yahudi, Kristen dan Shabi’in.

"Sungguh, mereka yang beriman (Islam), mereka yang menganut agama Yahudi, orang Kristen dan Shabiin, siapa saja yang beriman pada Allah dam Hari Akhir, serta melakukan kebaikan, bagi mereka ada pahala pada Allah, tiada mereka perlu dikuatirkan dan tiada mereka berduka-cita". (QS. Al-Baqarah 2:62).

Mayoritas Ahli tafsir mengartikan Shabi’in sebagai kaum penyembah bintang. Tentu saja bintang sekadar simbol yang merujuk pada Tuhan sebagai punca-ibadah. Namun, Ibn Jarir Al-Thabarî dalam tafsirnya, Jâmi’ al-Bayân mengutip sebuah pendapat: Shabi’in adalah orang yang berpindah-pindah agama untuk mencari Kebenaran.

Kalau begitu, jika penyembah bintang saja diberi jaminan keselamatan, maka, agama-agama lain yang memiliki keimanan terhadap Tuhan lebih berhak mendapat jaminan keselamatan tersebut. Oleh karena itu agama dan kepercayaan yang diakui tidak terbatas pada agama dan kepercayaan yang disebutkan secara eksplisit oleh Al-Quran. Para ulama klasik dan penguasa terdahulu mengiaskan agama dan kepercayaan dengan agama dan kepercayaan yang disebutkan Al-Quran itu. Ada tiga “kategori” penting untuk agama yang disebutkan keselamatannya, yakni (1) percaya pada Tuhan (2) percaya pada Hari Akhir, yang merupakan Hari Perhitungan, Hari Pembalasan (3) melakukan kebaikan.

Prinsip pluralitas jalan keselalamatan itu dari surat Al-Baqarah ayat 62 dipertegas kembali dengan narasi yang hampir sama dalam surat Al-Mâ’idah ayat 69:

"Sungguh, orang yang beriman, dan orang yang menganut agama Yahudi, orang Shabiin dan Kristen—siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan melakukan amal kebaikan, tiada mereka perlu kuatirkan dan tiada mereka berduka cita". (QS. Al-Mâ’idah 5:69).

Begitu kalau kita membaca Al-Quran scara kesluruhan, membaca Al-Hadits secara keseluruhan, membaca kehidupan secara keseluruhan, dengan dibarengi penghayatan; orang yang hatinya semakin penuh dengan ilmu dan wawasan, ia dengan secara sukarela akan menjadi orang yang paling toleran.

*untuk penjelasan ayat-ayat Al-Qur'an silahkan baca tafsir-tafsir lengkapnya biar tidak keliru memahami.


Disadur dari: Mohamad Guntur Romli dan Tim Ciputat School dalam Bukunya “Islam Kita Islam Nusantara (Lima Nilai Dasar Islam Nusantara)”.

0 Response to "Memahami Secara Jernih Pandangan Islam terhadap Agama-Agama yang Lain"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel