CONTOH PROPOSAL TESIS KUALITATIF PBA



PROPOSAL TESIS
القيم التربويّة في نصّح الأنبياء لأقوامهم في القرآن الكريم
(دراسة بلاغيّة وعلم اللغة الإجتماعي)
Nilai-nilai Pendidikan dari Nasihat Para Nabi untuk Kaumnya dalam Al-Qur’an
(Studi Balâghah dan Sosiolinguistik)

Baca juga karya ilmiah lainnya:


A.      LATAR BELAKANG
Al-Qur’an merupakan kitab suci sekaligus mukjizat teragung yang menjadi pedoman umat manusia. Di dalamnya terkandung beragam hal yang dapat menuntun manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, seperti ilmu, pengetahuan, hukum, kisah-kisah dan lain sebagainya. Sebagai Mukjizat, ia tak lekang ditelan zaman, senantiasa relevan, tak bosan untuk dipelajari dan dikaji dari berabagai aspek.
Salah satu unsur terpenting Al-Qur’an adalah bahasa. Bahasa sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Khūly adalah sistem suara yang terdiri atas simbol-simbol arbiter yang digunakan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk bertukar pikiran atau berbagi rasa.[1]
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. dengan bahasa yang sangat fasih, yaitu bahasa Arab dengan segala karakteristiknya yang mengagumkan, Allah berfirman:
إنّا أنزلناه قرءانا عربيّا لعلكم تعقلون.
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (QS. Yusuf 12:2).
Dengan segala karakteristiknya yang menakjubkan, Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa yang sangat fasih di antara bahasa bangsa Arab. Faktor yang membuat kefasihan bahasa Arab, kecermatan susunannya, keindahan sistematika dan himpunannya adalah karena ia memiliki karakter (susunan) bunyi yang berirama indah, memiliki kesesuaian antara bunyi-bunyi hurufnya, serta memiliki kesesuaian antara karakter makna (kata) dengan bunyi yang ada di dalamnya.[2] Dari sebab-sebab tersebut bahasa Arab dijadikan oleh Allah sebagai bahasa Al-Qur’an.
Adapun dalam bahasa Arab, suatu bahasa atau pesan dapat dipahami dengan baik oleh petutur jika disampaikan dengan benar, baik pengucapan maupun artikulasinya, kalimatnya sederhana, namun padat makna (qalla wa dalla), serta tepat sasaran sesuai dengan situasi dan kondisi (muqtadlā al-hāl wa muqtadlā al-mahal) yang kemudian dirumuskan dengan fashāhah dan balīgh.
Sebagai pedoman utama umat manusia, Al-Qur’an merupakan media bagi Allah SWT. sebagai Murabbi (Maha Pendidik) untuk mendidik hamba-Nya melalui kandungan (muhtawa) Al-Qur’an, yang diantaranya memuat:[3]
1.         Al-Aqā’id (keimanan);
2.         Al-Akhlāq al-Fadhīlah (moral);
3.         Al-Irsyād Ila An-Nadhzr Wa at-Tadabbur (bimbingan/kontemplasi);
4.         Qashash al-Awwalīn Ifrādan wa Umaman (kisah-kisah manusia atau umat terdahulu);
5.         Ahkām ‘Amaliyah Tattashilu Bimā Yashduru ‘Aninnās (ibadah dan sosial masyarakat).
Kisah para Nabi dan Rasul Allah ceritakan dalam Al-Qur’an agar manusia dapat mengambil hikmah darinya, terlebih dalam kisah itu mengandung banyak sekali nasihat yang dapat kita petik dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Allah berfirman:
وكلاّ نّقصّ عليك من أنبآء الرّسل ما نثبّت به فؤادك، وجآءك في هذه الحقّ وموعظة وّذكرى للمؤمنين.
Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS. Huud 11:120).
Dalam Al-Qur’an Al-Hadi yang memuat indeks tematik Al-Qur’an yang disusun oleh DR. Ahmad Luthfi Fathullah, MA. disebutkan bahwa setidaknya ada 236 nasihat yang tersebar dalam 22 surat yang diucapkan para Nabi untuk kaumnya. Nasihat nabi Nuh disebutkan 31 kali, nasihat nabi Hud 25 kali, nasihat nabi Shaleh 22 kali, nasihat nabi Ibrahim 48 kali, nasihat nabi Luth 15 kali, nasihat nabi Isma’il 1 kali, nasihat nabi Ya’kub 11 kali, nasihat nabi Yusuf 4 kali, nasihat nabi Sulaiman 4 kali, nasihat nabi Ilyasa’ 3 kali, nasihat nabi Syu’aib 26 kali, nasihat nabi Musa 35 kali, nasihat nabi Harun 1 kali, nasihat nabi ‘Isa 7 kali dan yang tanpa nama 4 kali.
Beberapa ayat dan surat tersebut seperti nasihat nabi Syu’aib untuk kaumnya, yang tercantum dalam QS. Asy-syu’araa 26:177-184 dan 188:
إذ قال لهم شعيب ألا تتّقون (177) إنّي لكم رسول أمين (178) فاتّقوا اللّه وأطيعون (179) ومآ أسئلكم عليه من أجر، إن أجري إلاّ على ربّ العالمين (180) أوفوا الكيل ولا تكونوا من المخسرين (181) وزنوا بالقسطاس المستقيم (182) ولا تبخسوا النّاس أشياءهم ولا تعثو فى الأرض مفسدين (183) واتّقوا الّذى خلقكم والجبلّة الأوّلين (184) ... قال ربّى أعلم بما تعملون (188)  
Berdasarkan ayat diatas, -sebagai contoh- berikut sebagian analisisnya:
No.
Ayat/Kalimat
Hasil Analisis Pendekatan
Balâghah
Sosiolinguistik
1.
إِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ أَلَا تَتَّقُونَ
كلام إنشائي: خروج الإستفهام معناه الأمر
Perlokusi
2.
إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ
كلام خبري: جاري على مقتضى الظاهر
Perlokusi
3.
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ
كلام إنشائي: الإرشاد
Ilokusi
4.
وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ
كلام خبري: قصر، والعالمين إيجاز قصر
Lokusi
5.
أَوْفُوا الْكَيْلَ وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُخْسِرِينَ
إطناب وفاء الكيل هو في نفسه نهي عن الخسران
Ilokusi
6.
وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ
كلام إنشائي: الإرشاد
Ilokusi
7.
وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
إضافة أشياء جنسية أو للاستغراق، تعميم بعد تخصيص بعض المراد بالذكر لغاية انهماكلهم فيه
Ilokusi
8.
وَاتَّقُوا الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالْجِبِلَّةَ الْأَوَّلِينَ
كلام إنشائي: الإرشاد
Ilokusi
9.
قَالَ رَبِّي أَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُونَ
كلام خبري: مُبَالَغَةٌ فِي الْعَالِمِ
Lokusi

Para Nabi memberikan nasihat terhadap kaumnya bukan pada ruang hampa, melainkan kepada manusia (kaumnya) sebagai objeknya. Maka, sudah barang tentu disini terjadi yang dinamakan dengan peristiwa tutur dan tindak tutur. Peristiwa tutur dan tindak tutur ini dibahas dalam sebuah ilmu terapan dari linguistik yaitu Sosiolinguistik. Sosiolinguistik adalah sebuah ilmu yang mengkaji bahasa, hubungannya dengan masyarakat (faktor-faktor sosial di dalam suatu masyarakat tutur). Atau secara lebih operasional lagi seperti dikatakan Fishman “study of who speak, what language, to whom, when and what end”.[4]
Dengan mempertimbangkan dua pendekatan Ilmu Balâghah dan Sosiolinguistik, maka sangatlah wajar ketika para Nabi berdialektika dengan umatnya menggunakan gaya-gaya bahasa yang sangat bagus, tegas dan halus sehingga mendapatkan respon yang baik dan positif berupa kepatuhan dan keimanan kepada Nabinya. Hal tersebut memang yang diperintahkan Allah bagi para Nabi-Nya dalam memberi nasihat kepada kaumnya, Allah berfirman:

ادع إلى سبيل ربّك بالحكمة والموعظة الحسنة...
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[5] dan pelajaran yang baik... (QS. An-Nahl 16:125)
Dalam memberikan nasihat yang baik, Allah SWT. memberikan contoh kepada Nabi Musa dalam menasihati Fir’aun, Allah berfirman:

فقل هل لّك إلى أن تزكّى (18) وأهديك إلى ربّك فتخشى (19)
Dan Katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)".
Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?" (QS. An-Nazi’aat 79:18-19)
Nasihat yang diperintahkan Allah tersebut dengan menggunakan bahasa as-sual (bertanya) bukan al-amr (memerintah) yang halus namun tegas.
Kita tengok juga tatkala Nabi Ibrahim menasihati bapaknya (Azar) yang tidak beriman, dalam Al-Qur’an berbunyi:
øøŒÎ) tA$s% ÏmÎ/L{ ÏMt/r'¯»tƒ zNÏ9 ßç7÷ès? $tB Ÿw ßìyJó¡tƒ Ÿwur çŽÅÇö7ムŸwur ÓÍ_øóムy7Ytã $\«øx© ÇÍËÈ   ÏMt/r'¯»tƒ ÎoTÎ) ôs% ÎTuä!%y` šÆÏB ÉOù=Ïèø9$# $tB öNs9 y7Ï?ù'tƒ ûÓÍ_÷èÎ7¨?$$sù x8Ï÷dr& $WÛºuŽÅÀ $wƒÈqy ÇÍÌÈ  
Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?
Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (Maryam 19: 42-43)
Nabi Ibrahim menasihati bapaknya dengan bahasa diplomasi yang sangat halus karena ia tahu situasi dan kondisinya (sebagai anak), lihat pada ayat 42 di atas Nabi Ibrahim menggunakan gaya bahasa bertanya bukan memerintah, pada ayat selanjutnya ia mengatakan kepada bapaknya bahwasannya ia memiliki pengetahuan yang benar (wahyu), sama sekali ia tidak mengatakan bahwa bapaknya seorang yang bodoh.
Terlepas dari penggunaan bahasa di atas memang selalu ada umat-umat para Nabi termasuk ayah Nabi Ibrahim yang tidak mau menerima nasihat dan tetap membangkang, tetapi nasihat yang tidak direspon baik itu jangan direspon dengan kemarahan, Nabi Ibrahim contohnya, malah ia mengkhawatirkan dan mendo’akan bapaknya dengan hal-hal yang baik. Pembangkangan tadi itu tidak lebih karena hati mereka sudah dikunci rapat oleh Allah SWT., sehingga meskipun menggunakan berbagai cara akan tetap sama hasilnya, Allah SWT. berfirman:
(#qä9$s% íä!#uqy !$oYøn=tã |Môàtãurr& ôQr& óOs9 `ä3s? z`ÏiB šúüÏàÏãºuqø9$# ÇÊÌÏÈ  
Mereka menjawab: "Adalah sama saja bagi Kami, Apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, . (QS. Asy-Syu’araa’ 26:136).
Tapi nasihat ialah dakwah yang harus selalu ditegakkan, meski akan mendapatkan respon yang tidak baik
øŒÎ)ur ôMs9$s% ×p¨Bé& öNåk÷]ÏiB zNÏ9 tbqÝàÏès? $·Böqs%   ª!$# öNßgä3Î=ôgãB ÷rr& öNåkæ5ÉjyèãB $\/#xtã #YƒÏx© ( (#qä9$s% ¸ouÉ÷ètB 4n<Î) óOä3În/u óOßg¯=yès9ur tbqà)­Gtƒ ÇÊÏÍÈ  
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang Amat keras?" mereka menjawab: "Agar Kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu,[6] dan supaya mereka bertakwa. (QS. Al-A’raf 7:164).
Namun tentu bagi orang yang berakal dan berhati jernih, nasihat para Nabi tersebut akan mudah sekali diterima dan direspon dengan baik dan positif berupa kepatuhan dan keimanan kepada Nabinya, hal ini terbukti dengan banyaknya umat para Nabi yang beriman setelah para Nabi tersebut berdialektika dalam menasihati umatnya dengan menyesuaikan kondisi masyarakat waktu itu, sehingga dengan mempertimbangkan hal tersebut, bisa dijadikan sebagai tolok ukur bagi penutur ketika hendak mengkomunikasikan pikiran, gagasan, maksud, perasaan, maupun emosi secara langsung. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan secara luas, dimana komunikasi, interaksi, dialektika, antar guru dan murid berlangsung secara kontinyu, mesti efektif dan memberikan efek yang baik dan positif pula, terlebih saat guru menyampaikan materi ajar, atau pesan-pesan lainnya. Maka dari itu para guru (khususnya) mesti menguasai bahasa yang baik, dalam hal ini bahasa/komunikasi pendidikan berbasis Al-Qur’an. Hal tersebut penting untuk diteliti, oleh karena itu peneliti bermaksud melakukan penelitian tentang studi ilmu Balāghah dan Sosiolinguistik dengan judul: Nilai-nilai Pendidikan dari Nasihat Para Nabi untuk Kaumnya dalam Al-Qur’an (Studi Balâghah dan Sosiolinguistik).

B.       RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah di atas, berikut peneliti sajikan rumusan masalah penelitian ini, yaitu:
1.         Bagaimana makna Balaghiy nasihat para Nabi untuk kaumnya dalam Al-Qur’an?
2.         Bagaimana makna Sosiolinguistik nasihat para Nabi untuk kaumnya dalam Al- Qur’an?
3.         Apa nilai pendidikan dari nasihat para Nabi untuk kaumnya dalam Al-Qur’an?

C.      TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah:
1.         Mengetahui makna Balaghiy nasihat para Nabi untuk kaumnya dalam Al-Qur’an?
2.         Mengetahui makna Sosiolinguistik nasihat para Nabi untuk kaumnya dalam Al- Qur’an?
3.         Mengetahui nilai pendidikan dari nasihat para Nabi untuk kaumnya dalam Al-Qur’an?

D.      KEGUNAAN PENELITIAN
Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai, maka penelitian ini diharapkan mempunyai kegunaan dalam kha/anah keilmuan terutama pada bidang bahasa, baik secara langsung maupun tidak. Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.         Kegunaan Teoritis
a.       Memperkaya khazanah keilmuan bahasa Arab dengan adanya pengkajian Al-Qur'an dengan pendekatan ilmu Balâghah dan Sosiolinguistik;
b.      Memperluas wilayah kajian dan metodologi Pendidikan Bahasa Arab;
c.       Sebagai bahan pengembangan dan tindak lanjut bagi penelitian bahasa Arab di masa yang akan datang.
2.         Kegunaan Praktis
Dengan dikajinya Al-Qur’an melalui pendekatan Ilmu Balâghah dan Sosiolinguistik, diharapkan bisa menjadi bahan pertimbangan dan tolok ukur bagi para pendidik khususnya Pendidik Bahasa Arab ketika hendak berkomunikasi dengan siswa, terlebih bahan ajar agar menggunakan bahasa yang fasih dan baligh serta mempertimbangkan norma sosial dan etika tutur, sehingga pesan yang diutarakan pendidik bisa tersampaikan dan dapat dipahami oleh peserta didik dengan baik.

E.       KAJIAN PUSTAKA DAN HASIL PENELITIAN YANG RELEVAN
Penelitian terkait studi ilmu Balâghah terhadap Al-Quran memang sudah banyak dilakukan. Begitu pula penelitian dengan dua kajian sekaligus, namun hanya terbatas pada kajian pendekatan ilmu Balâghah dan pendidikan saja. Sejauh ini belum ada yang melakukan penelitian Al-Qur’an melalui pendekatan Sosiolinguistik. Namun penyusun telah menemukan beterapa penelitian-penelitian yang relevan terkait penelitian yang akan diliikukan oleh peneliti:
1.         Tesis: Makna Balaghiy dalam Hadits-hadits Pendidikan (Analisis Balâghah dan & sosiolinguistik dalam Kitab Usus at-Tarbiyah al-lsldmiyyah fi as-Sunnah an-Nabawiyyah) oleh Wiwin Waliyah Hasanah di Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana/Magister UIN Sunan Gunung Djati Bandung 2015.
Tesis ini membahas tentang makna yang terkandung dalam Hadits Pendidikan pada kitab Usus at-Tarbiyah al-lslamiyyah fi as-Sunnah an-Nabaniyyah karya Abdul Hamid As-shayyidi Al-Zantani yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta kitab hadits Shahih Bukhari dan Muslim yang digunakan untuk uji validasi keabsahan hadits yang terdapat dalam kitab Usus at-Tarbiyah al-lslamiyyah fi as-Sunnah an-nabawiyyah melalui pendekatan ilmu Balâghah dan Sosiolinguistik, serta persinggunggan makna antara dua ilmu tersebut.
Jika objek penelitian pada tesis tersebut adalah Hadits. maka objek penelitian selanjutnya yang akan dilakukan peneliti Ialah Al-Qur'an.
2.         Tesis: al-I’jaz al-Balaghiy fi al-Qur'an, oleh Nadiyah Abdur Ridho Ali Musa di Bahasa dan Sastra Arab Pascasarjana Universitas Baghdad 2005.
Tesis ini membahas tentang kemukjizatan Al-Qur’an dari aspek bahasa dengan pendekatan ilmu Balâghah. Penelitian ini melengkapi dalam memberikan informasi dan masukan pada penelitian yang akan dilakukan peneliti terkait teori yang berkaitan dengan ilmu Balâghah.
Jika obyek penelitian pada tesis tersebut adalah seluruh ayat-ayat Al-Qur’an dengan hanya pendekatan Balâghah saja, maka obyek penelitian selanjutnyayang akan dilakukan peneliti adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang hanya memuat dialog antara orangtua dan anaknya dengan dua pendekatan, Balâghah dan Sosiolinguistik dilengkapi dengan prakteknya dalam Pendidikan
3.         Tesis: Nilai-nilai pendidikan dalam dialog orangtua dan anak dalam Al-Qur’ (Analisis Balâghah dan & sosiolinguistik) oleh Abdul Muhyi Amrullah di Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana/Magister UIN Sunan Gunung Djati Bandung 2016.
Tesis ini membahas tentang nilai-nilai pendidikan dari hasil analisis Balâghah dan sosiolinguistik dari dialog orangtua dan anak dalam Al-Qur’an.
Jika objek penelitian pada tesis tersebut adalah dialog orangtua dan anak, maka objek penelitian selanjutnya yang akan dilakukan peneliti Ialah nasihat dari para Nabi untuk kaumnya.
4.         Jurnal Afaq ‘Arabiyyah: Penggunaan Ragam Bahasa dan Perilaku Berbahasa Arab (Studi Sosiolinguistik), oleh Hasanuddin di Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas llmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Vol.8 No.2, Desember 2013.
Pada jurnal ini di bahas tentang fenomena penggunaan dan pemililian ragam bahasa serta perilaku berbahasa Arab ditin.jau dari fungsi pengguna baliasa baik sebagai anggota dalam keluitrga, masyarakat dan kelompok tertentu. Penelitian ini melengkapi dalam memberikan informasi dan masukan pada penelitian yang akan dilakukan peneliti terkait teori yang berkaitan dengan Sosiolinguistik.
Jika penelitian pada Jurnal tersebut melalui pendekatan Sosiolinguistik saja, maka pada penelitian ini melibatkan .juga pendekatan Balâghah, dilengkapi dengan prakteknya dalam Pendidikan.



F.       KERANGKA PEMIKIRAN
Sebagai alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki oleh manusia, bahasa dapat dikaji secara internal maupun eksternal[7]. Kajian secara internal, artinya, pengkajian terhadap bahasa hanya dilakukan pada struktur intern bahasa itu saja, seperti struktur fonologisnya, struktur morfologisnya atau struktur sintaksisnya. Kajian secara internal ini akan menghasilkan perian-perian (penjelasan-penjelasan) bahasa itu saja tanpa adanya kaitan dengan masalah lain di luar bahasa. Kajian internal dilakukan dengan teori dan prosedur yang ada dalam disiplin ilmu linguistik saja.
Adapun kajian secara eksternal adalah kajian yang dilakukan terhadap hal-hal atau faktor-faktor yang berada di luar bahasa yang berkaitan dengan pemakaian bahasa itu oleh para penuturnya di dalam kelompok-kelompok sosial kemasyarakatan. Pengkajian secara eksternal akan menghasilkan rumusan-rumusan atau kaidah-kaidah yang berkenaan dengan kegunaan dan penggunaan bahasa tersebut dalam segala kegiatan manusia di dalam masyarakat. Kajian eksternal ini mencakup kajian Sosiolinguistik (yaitu kajian bahasa sebagai alat untuk berinteraksi/komunikasi), Psikolinguistik (yaitu kajian bahasa sebagai gejala jiwa) dan Antropolinguistik (yaitu kajian bahasa sebagai wadah dan produk budaya).
Dari pembagian kajian bahasa ke dalam kajian interna. dan eksternal tersebut diipat kita lihat bahwa sosiolinguistik termasuk ke dalam kajian eksternal yaitu kajian yang berkenaan dengan kegunaan dan penggunaan bahasa. Adapun posisi Balâghah dalam hubungan ini dapat di kategorikan ke dalam kajian penggunaan bahasa pula.
Adapun yang dimaksud dengan Balâghah diantaranya sebagaimana yang di ungkapkan Ali Jarim dan Mushthafa Amin[8]:
تأدية المعنى الجليل واضحا بعبارة صحيحة فصيحة لها في النفس أثر خلّاب مع ملاءمة كلّ كلام للموطن الّذي يقال فيه والأشخاص الّذين يخاطبون.
Menyampaikan makna yang luhur secara jelas dengan menggunakan ungkapan bahasa yang benar serta fasih, ungkapan tersebut memiliki pengaruh yang menarik dalam jiwa, akibat kesesuain tiap ujaran dan sesuai pula dengan kondisi mukhathab”
Ilmu Balâghah ini meliputi tiga bidang kajian atau tiga ilmu Balâghah yaitu[9]:
1.      Al-Ma’any, membahas macam-macam uslub dari segi “struktur kalimat” seperti struktur kalimat dalam (النحو). Badanya pembahasan struktur dalam nahwu di mulai dari kata dan berhenti sampai dengan kalimat, sedangkan pembahasan struktur dalam al-ma’any di mulai dari kalimat dan dilanjutkan dengan hubungan antar kalimat. Cakupan atau pembahasan al-ma’any ini meliputi[10]: Kalam Khabar dan Kalam Insya, Qashr, Fashl dan Washl, Musawah, ijaz dan Ithnab.
2.      Al-Bayan, membahas uslub atas dasar penggunaan bahasa “kiasan”, mulai dari apa yang disebut dengan تشبيه (perumpamaan), lalu مجاز dan terakhir كناية (metonimia).
3.      Al-Badi’, membahas uslub dan membedakannya atas dasar “pertautan” (التوافق), dan “pertentangan” ( (التضادyang melahirkan keserasian (التناسب) yang pada akhirnya akan berfungsi sebagai “hiasan” pada suatu kalam, baik hiasan pada bunyi, leksikal (المحسنات اللفظية) atau hiasan pada makna (المحسنات المعنوية).
Jika Ilmu Balâghah merupakan sebuah ilmu yang mengkaji bagaimana menggunakan bahasa seeara efektif, sehingga pembieaman متكلم (pihak pertama) mudah di pahami oleh مخاطب (pihak kedua), maka Sosiolinguistik sebagaimana yang dikatakan Hudson[11] adalah ilmu yang mengkaji bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat. Dari definisi Hudson tersebut, bisa diketahui bahwa bahasa adalah alat interaksi sosial atau alat komunikasi manusia yang dapat berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan, maupun emosi secara langsung. Dengan demikian, maka dalam setiap proses komunikasi ini terjadi apa yang disebut dengan peristiwa tutur dan tindak tutur dalam satu situasi tutur, yang oleh Fishman[12] di rumuskan dengan “who speak, what language, to whom when, and to what and”.
Peristiwa tutur (Inggris: speech event) adalah terjadinya interaksi linguistik dalam suatu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat dan situasi tertentu. Jadi interaksi yang berlangsung antara seorang pedagang dan pembeli di pasar pada waktu tertentu mengunakan bahasa sebagai alat komunikasinya adalah sebuah peristiwa tutur. Peristiwa serupa kita dapati juga dalam acara diskusi di ruang kuliah, rapat dinas di kantor, sidang di pengadilan, dan sebagainya.
Dell Hymes (1972) merumuskan bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen, yang bila huruf-huruf pertanyaan di rangkaikan menjadi akronim SPEAKING. Kedelapan komponen itu adalah:[13]
S   : Setting and scene (tempat dan suasana tutur).
P   : Participants (peserta tutur).
E   : Ends = purpose and goal (tujuan tutur).
A   : Act sequences (pokok tuturan).
K   : Keys = tone or spirit of act (nada tutur; cara).
I    : Instrumentalities (sarana tutur).
N   : Norms of interaction and interpretation (norma tutur).
G : Genres (jenis tuturan).
Peristiwa tutur yang kita bicarakan di atas merupakan peristiwa sosial menyangkut pihak-pihak yang bertutur dalam satu situasi dan tempat tertentu. Peristiwa tutur ini pada dasarnya merupakan rangkaian dari sejumlah tindak tutur (speech act) yang terorganisasikan untuk menjadi suatu tujuan. Kalau peristiwa tutur merupakan gejala sosial seperti disebut di atas, maka tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Kalau dalam peristiwa tutur lebih dilihat pada tujuan peristiwa, tetapi dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya.[14]
Istilah dan teori mengenai tindak tutur mula-mula diperkenalkan oleh J.L. Austin, seorang guru besar di Universitas Harvard, pada tahun 1956. Menurut Austin, setiap kali penutur berujar, dia melakukan tiga tindakan secara bersamaan, yaitu (a) tindak lokusi (locutionary acts), tindak ilokusi (illocutionary acts) dan tindak perlokusi (perlocutionary acts).[15]
Pengertiannya adalah sebagai berikut:[16]
1.      Tindak tutur lokusi, adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu bagaimana adanya atau the act of saying something, tindakan untuk mengatakan sesuatu. Penutur semata-mata hanya untuk memberi informasi belaka, tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya.
2.      Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang selain menyatakan sesuatu juga menyatakan tindakan melakukan sesuatu. Oleh karena itu. tindak tutur ilokusi ini disebut the act of doing something (tindakan melakukan sesuatu).
3.      Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang mempunyai pengaruh atau efek terhadap lawan tutur atau orang yang mendengar tuturan itu. Maka tindak tutur perlokusi sering disebut sebagai act of affective someone (tindak yang memberi efek kepada orang lain).
Dari pemaparan di atas, dapat di ketahui bahwa antara Ilmu Balâghah dan Sosiolingustik keduanya berusaha agar suatu bahasa itu bisa di sampaikan sesuai dengan kondisi dan situasi pendengar atau masyarakat, sehingga makna yang terkandung dalam bahasa tersebut bisa tersampaikan dan bisa dipahami dengan baik. Dalam dunia pendidikanpun demikian, guru mesti menguasai bahasa/komunikasi yang baik sesui dengan kondisi, situasi, dan latar individu peserta didik, tujuannya tiada lain agar apa yang disampaikan guru dapat diterima dengan baik oleh peserta didik, sehingga peserta didik akan ada perubahan positif, baik secara intelektual, emosional, spiritual, moral, serta aspek-aspek lainnya.



Dengan demikian, kerangka pemikiran yang digambarkan peneliti adalah sebagai berikut:





G.      METODOLOGI DAN LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN
Penelitian ini berjudul Nilai-nilai Pendidikan dari Nasihat Para Nabi untuk Kaumnya dalam Al-Qur’an (Studi Balâghah dan Sosiolinguistik). Jadi objek penelitian tersebut adalah ayat-ayat/surat Al-Quran yang memuat nasihat para Nabi untuk kaumnya, baik kaum tersebut bisa bapaknya (seperti Azar bapak nabi Ibrahim), paman, kakek, anak, saudara (seperti nasihat nabi Yusuf ke saudaranya) dan yang lainnya.
Untuk lebih mudahnya guna memahami proses penelitian ini, peneliti akan menggambarkan secara sistematis, yaitu :
1.      Sumber Data
Sumber data penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder:
a.    Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah data autentik atau data yang berasal dari sumber pertama[17]. Dalam hal ini, peneliti akan mengambil data dari Al-Qur’an, yaitu ayat-ayat/surat yang memuat nasihat para Nabi untuk kaumnya, baik kaum tersebut bisa bapaknya (seperti Azar bapak nabi Ibrahim), paman, kakek, anak, saudara (seperti nasihat nabi Yusuf ke saudaranya) dan yang lainnya.
b.    Sumber Data Sekunder
Adalah data yang materinya secara tidak langsung berhubungan dengan masalah yang diungkapkan. Data ini berfungsi sebagai pelengkap data primer. Adapun data sekunder dalam penelitian ini adalah adalah buku-buku atau kitab- kitab yang berkaitan dengan ilmu Balâghah dan Sosiolinguistik yang relevan dengan fokus pembahasan.
2.      Metode Pengumpulan Data
Karena penelitian ini merupakan penelitian jenis kualitatif yang mana obyek penelitiannya adalah Al-Quran, maka penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Agar mencapai hasil yang optimal, peneliti menggunakan beberapa langkah, yaitu:
a.    Studi Kepustakaan
Penggunaan Studi Kepustakaan ini untuk mendapatkan Teori-teori esensial lainnya yang berkaitan dengan penelitian. Penelitian ini di fokuskan untuk menyingkap makna yang terkandung dalam ayat-ayat/surat Al-Qur'an yang memuat nasihat para Nabi untuk kaumnya, baik kaum tersebut bisa bapaknya (seperti Azar bapak nabi Ibrahim), paman, kakek, anak, saudara (seperti nasihat nabi Yusuf ke saudaranya) dan yang lainnya melalui pendekatan ilmu Balâghah dan Sosiolinguistik, serta persinggunggan makna antara dua ilmu tersebut.
b.    Pencarian data yang sesuai dengan fokus penelitian
Pencarian data ini dilakukan dengan mengumpulkan dan menginventarisasikan ayat-ayat/surat Al-Qur’an yang memuat nasihat para Nabi untuk kaumnya.
3.      Metode Analisis Data
Setelah data terkumpul, selanjutnya data tersebut disusun secara sistematik dan dianalisa secara kualitatif dengan menggunakan metode sebagai berikut:
a.         Metode Analisis Deskriptif
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Analisis Deskriptif, yaitu metode yang digunakan untuk mendeskripsikan (menggambarkan) secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu. Peneliti menggunakan metode ini untuk memecahkan masalah makna yang terkandung dalam ayat-ayat/surat Al-Qur’an yang memuat nasihat para Nabi untuk kaumnya, dengan menganalisis makna-makna yang terkandung di dalamnya melalui pendekatan ilmu Balâghah dan Sosiolinguistik serta untuk menemukan bagaimana persinggungan makna antara kedua ilmu tersebut.
b.        Tahap Analisis Data
Analisa data adalah kegiatan dalam memproses data untuk mengetahui hakikat permasalahan yang diteliti. Langkah-langkah yang ditempuh dalam analisis data adalah sebagai berikut:
1)        Identifikasi
Langkah ini ialah kegiatan mengelompokkan dan mengklasifikasikan data yang berkaitan dengan ayat-ayat/surat Al-Qur’an yang memuat nasihat para Nabi untuk kaumnya, baik kaum tersebut bisa bapaknya (seperti Azar bapak nabi Ibrahim), paman, kakek, anak, saudara (seperti nasihat nabi Yusuf ke saudaranya) dan yang lainnya dengan fokus kepada ayat-ayat yang mempuyai persinggungan makna antara Balâghah dan Sosiolinguistik.
2)        Interpretasi
Yaitu kegiatan mendeskripsikan fenomena-fenomena keBalâghahan dalam ayat-ayat/surat Al-Qur’an yang memuat nasihat para Nabi untuk kaumnya, baik kaum tersebut bisa bapaknya (seperti Azar bapak nabi Ibrahim), paman, kakek, anak, saudara (seperti nasihat nabi Yusuf ke saudaranya) dan yang lainnya dan Makna sosiolinguistik yang terkandung di dalamnya ditinjau dari peristiwa tutur dan tindak tutur.
3)        Penarikan Kesimpulan
Langkah ini adalah kegiatan terakhir dalam menentukan prinsip-prinsip umum dari kajian yang telah dilakukan. Langkah ini merupakan kesimpulan jawaban permasalahan sebagi mana tercantum dalam rumusan masalah.



DAFTAR PUSTAKA

Abdul Chaer dan Leonie Agustina. 2004. Cet. ke-2. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Abdurrahman Saleh Abdullah. Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an. (terj.) H.M. Arifin dari Judul asli Educational Theory: Qur’anic Outlook. 2005. Jakarta: Rineka Cipta.
Abudin Natta. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada Kledia.
Ahmad Al-Hasyimi. 1999. Balâghah. Beirut: Al-Maktabah Al-‘Ashriyyah.
Ali Jarim dan Mushthafa Amin. 2007. Al-Balâghah Al-Wadhihah. Jakarta: Raudhah Press.
Chaedar Alwasilah. 1985. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.
D. Hidayat. 2002. Al-Balâghah li Al-Jami’ (Balâghah untuk Semua). Semarang: PT. Karya Toha Putra.
Fatimah Djajasudarma. 2013. Semantik 2 Relasi Makna, Paradigmatik, Sintagmatik dan Derivasional. Bandung: Refika Aditama.
Muhammad Ali Al-Khuly. 1982. Asalib Tadris Al-Lughah Al-Arabiyyah. Riyadh: t.p. Mushtafa Shadiq Ar.Raffi. 2005. I’jaz Al-Qur’an wa Al-Balâghah An-Nabawiyyah. Beirut: Dar Al-Kitab Al-Arabi.
Sa’id Ismail Ali. 2000. Al-Qur’an AI-Karim Ru’yah Tarbawiyyah. (Kairo: Darul Fikr Arabi.




[1] Muhammad ‘Ali Al-Khuly, Asālīb Tadrīs al-Lughah al-‘Arabiyyah, (Riyadh: tp., 1982), hlm. 148.
[2] Musthafa Shadiq Ar-Rafi’, I’jāz al-Qur’ān, (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1990), hlm. 46.
[3] Ibid, hlm. 148.
[4] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), hlm. 57.
[5] Hikmah disana ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
[6] Alasan mereka itu ialah bahwa mereka telah melaksanakan perintah Allah untuk memberi peringatan
[7] Ibid. hlm 1-2.
[8] Ali Jarim dan Mushthafa Amin. 2007. Al-Balaghah Al-Wadihah. Jakarta: Raudhah Press. hlm 10.
[9] D. Hidayat. 2002. Al-Balaghah li Al-Jami’ (Balaghah untuk Semua). Semarang: PT. Karya Toha Putra. hlm 64.
[10] Ali Jarim dan Musthafa Amin. Op. Cit. hlm. 195.
[11] Hudson. 1990. ‘Ilm Al-Lughah Al-Ijtimaiy. Mesir: ‘Alam Al-Kitab, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Mahmud ‘Iyad. hlm 12.
[12] Abdul Chaer dan Leonie Agustina. Op. Cit. hlm. 7.
[13] Ibid. hlm. 48.
[14] Ibid. hlm. 14.
[15] Ibid. hlm. 50.
[16] Abdul Chaer. Kesantunan Bahasa. (Jakarta: Rineka Cipta, 2010). hlm. 27.
[17] Hadari Nawawi dan Mimi Martini. Penelitian Terapan. (Yogyakarta, Gajah Mada Unrversity Press, 1996), hlm. 216- 217.

0 Response to "CONTOH PROPOSAL TESIS KUALITATIF PBA"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel