Contoh Pidato Persuasif Terbaik John F. Kennedy Singkat tetapi Berhasil



Suatu waktu kadang kita merasa perlu untuk meredam konflik yang ada di sekitar kita, menengahi sebuah perdebatan atau kadang kita ingin memengaruhi orang lain untuk kebaikan; hal ini tidak bisa kita selesaikan tanpa adanya sebuah bahasa yang dapat masuk pada hati pendengar, bahasa tersebut umum disebut dengan bahasa persuasif atau bahasa bujukan yang sifatnya halus dan bisa meyakinkan pendengar.

Oleh karenanya, Penulis di sini akan lampirkan sebuah contoh teks pidato dengan bahasa persuasi yang sangat bagus, padat, sesuai dengan keadaan yang tengah dihadapinya hingga memengaruhi ribuan orang kala itu, tiada lain pidato tersebut berasal dari sang presiden Amerika serikat ke-35 John F. Kennedy, yang uniknya pada waktu itu ia belum menjadi presiden, dan sedang dalam masa kampanye, hingga ia berhasil menjadi presiden yang salah satunya adalah dengan kekuatan bahasa yang dimiliknya.

Berikut contohnya:

[Kronologi]:
Pada malam hari, tanggal 4 April 1968, jaringan televisi Amerika Serikat menyiarkan tertbunuhnya Martin Luther King, Jr. Seorang tokoh kulit hitam, pembela hak-hak asasi manusia yang dicintai oleh hampir semua orang, ditembak mati oleh seorang kulit putih. Gelombang kerusuhan rasial menyusul. Orang-orang kulit hitam meledakkan kepedihan hatinya dengan berbagai tindak kekerasan di setiap kota besar di Amerika Serikat; kecuali Indianapolis.

Mengapa Indianapolis tetap tenang, walaupun penduduk hitamnya lebih dari 90.000 orang; dan sebelumnya telah terjadi ketegangan sosial? Ini berkat pidato peruasif dari senator berkulit putih, calon presiden dari Partai Demokrat, Robert F. Kennedy. Ia dijadwalkan untuk kampanye di Indianapolis pada pukul 7.30 malam. Tetapi, ia datang terlambat.
Para aktivis, kulit hitam dan putih, sedang aktif mendaftar pemilih. Awak televisi, polisi, dan penonton lainnya sedang berkumpul. Di panggung, band kulit hitam sedang bermain. Lebih dari 100 orang, 75 persen di antaranya berkulit hitam, berkumpul dan berdesakan di lapangan bola basket, “persis seperti ikan sarden” (menurut seorang saksi mata waktu itu).

Pesawat Kennedy mendarat di Indianapolis pukul 8.30 lewat. Pada saat itu. berita terbunuhnya Luther King sampai ke lapangan basket itu. Orang- orang kulit hitam menjadi marah. Mereka berteriak mengecam orang-orang kulit putih di situ. Dua orang di pinggir lapangan dapat lolos. Kebanyakan terjebak di tengah-tengah massa.

Kennedy tiba, ketika massa kulit hitam sudah mulai panas. “Dr. King sudah mati dibunuh kulit putih. Untak apa Kennedy datang ke sini?”, kata seorang perempuan berkulit hitam. Kennedy naik ke panggung, berbincang sekejap dengan para pembantunya, mengambil amplop dari saku jasnya, dan menghadap hadirin yang bising. Ia mulai:

[Isi Pidato]:
Ibu-ibu dan Bapak-bapak, malam ini saya ingin bicara sebentar saja, karena saya mempunyai berita duka bagi Anda semua.

Ia berhenti sejenak, meminta agar kamera-kamera diturunkan sedikit. Ia melanjutkan:

Ada berita duka bagi Anda semua, dan saya kira berita duka bagi segenap rakyat kita dan bagi semua orang yang mencintai perdamaian di seluruh dunia. Berita itu ialah: Martin Luther King ditembak dan terbunuh malam ini.

Massa menjerit keras dan panjang, ketika Kennedy mengumumkan berita itu. Ketika suara-suara mulai merendah, Kennedy melihat pada amplopnya dan berkata:

Martin Luther King mempersembahkan hidupnya untuk menegakkan cin­ta dan keadilan di antara sesama manusia. Ia meninggal untuk missi yang diembannya. Pada saat-saat sulit di AS seperti sekarang ini, kita patut ber­tanya, bangsa apakah kita ini dan mau ke mana kita berjalan. Saudara-saudara yang berkulit hitam, yang jelas mengetahui bahwa orang kulit putihlah yang bertanggung jawab, tentu Anda akan dipenuhi kepahitan, kebencian, dan keinginan untuk membalas.

Kita dapat bergerak menuju sebuah negara dengan polarisasi besar, hitam bergabung dengan hitam, putih dengan putih, saling membenci satu sama lain; atau maukah kita melakukan apa yang dilakukan Martin Luther King: yakni mengerti dan memahami, dan menggantikan kekerasan, noda ini, dan pertumpahan darah yang menyebar ke seluruh negeri kita, dengan upaya saling pengertian, cinta dan kasih sayang.

Kepada Anda yang berkulit hitam dan dipenuhi kebencian dan ketidakpercayaan pada kezaliman tindakan seperti itu, melawan semua yang berkulit putih, saya hanya dapat menyatakan saya juga merasakan dalam hati saya perasaan yang sama. Ada anggota keluarga saya yang dibunuh, dan ia dibunuh oleh seorang kulit putih. Tetapi kita harus berupaya di Amerika Serikat....

Bukan main pengaruh kalimat-kalimat itu pada para pendengar berkulit hitam. Seorang lelaki tua berkata bahwa “pada mata Kennedy ada air matanya. Aku melihatnya. Ia merasakannya. Ia menangis”. Kita tidak tahu apakah Kennedy betul-betul menangis. Yang kita tahu adalah akibat pidatonya yang jauh menembus hati. Kennedy menutup pidatonya:

Puisi yang paling saya gemari, penyair yang paling saya sukai, adalah Aeschylus. Sekali waktu ia menulis, “Bahkan dalam tidur kita, derita yang tak terlupakan jatuh setetes demi setetes ke dalam hati kita, sehingga dalam keputusasaan kita yang sangat, bertentangan dengan kehenak kita muncullah kebijakan melalui rahmat Tuhan yang Agung.

Setelah itu Senator Kennedy menyuruh mereka pulang. Dalam tempo empat atau lima menit massa bubar.

Kita menceritakan kembali peristiwa “tidak aneh” (dari sudut persuasif) tetapi nyata ini untuk memberikan contoh terbaik pidato persuasif. Singkat, tetapi berhasil.



Sumber: Buku Retorika Modern (Pendekatan Praktis), karya: Jalaluddin Rakhmat.

0 Response to "Contoh Pidato Persuasif Terbaik John F. Kennedy Singkat tetapi Berhasil"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel