3 Cara Cerdas Memilih Kata-Kata dalam Berpidato agar Berpengaruh


Bila pembicara berpidato dengan baik, pendengar jarang menyadari manipulasi daya tarik motif yang digunakan, tidak mengetahui organisasi dan sistem penyusunan pesan, tidak pula mengerti teknik- teknik pengembangan pokok bahasan. Tetapi setiap pendengar mengetahui pasti pembicara yang baik selalu pandai dalam memilih kata- kata. Pernyataan yang sama dapat menimbulkan kesan yang berbeda, karena perbedaan kata yang mengungkapkannya. Penduduk desa akan tersinggung bila disebut “bodoh dan terbelakang”, tetapi mereka hanya tersenyum kecil bila dikatakan “kurang memahami persoalan dan belum mencapai tingkat pendidikan yang tinggi”. Jadi, kata-kata bukan saja dapat mengungkapkan, tetapi juga memperhalus, dan bahkan menyembunyikan kenyataan. “Kekurangan gizi” dapat menyembunyikan “kelaparan”, seperti “dimintai keterangan” dapat melembutkan kata “ditahan”.

Selain itu, kata-kata juga dapat mencerminkan tingkah laku dan struktur sosial pembicara. Karena itu penelitian linguistik membuktikan bahwa “tidak ada dua orang yang menggunakan bahasa dengan cara yang betul-betul sama, dan beberapa orang bahkan menggunakan bahasa dengan cara yang sangat berbeda dengan kelompok manusia lain”. Pembicara harus menyadari bahwa kata-kata yang diucapkannya tidak selalu diartikan sama oleh orang lain atau pada waktu yang lain, atau pada tempat yang lain. Kata “pembangunan” dapat berarti: pembuatan jalan atau jembatan, pendirian kantor, peningkatan GNP, pembinaan, mental, dan sebagainya. Seorang mahasiswa dapat mengambil "jurusan" jurnalistik atau "jurusan" Cicaheum.

Dengan menyadari hal-hal tersebut di atas sebagai dasar, Anda dapat memahami lebih baik ketentuan-ketentuan retorika dalam pemilihan kata-kata. Glenn R. Capp dan Richard Capp, Jr. merumuskan ketentuan-ketentuan retorika itu sebagai berikut: Bahasa lisan harus menggunakan kata-kata yang jelas, tepat, dan menarik.

Kata-kata Harus Jelas
Ini berarti bahwa kata-kata yang dipilih tidak boleh menimbulkan arti ganda (ambigues), tetap dapat mengungkapkan gagasan secara cermat. Untuk mencapai kejelasan seperti itu, hal-hal berikut harus diperhatikan:

     1.     Gunakan istilah yang spesifik (tertentu)
Ada kata-kata yang terlalu umum artinya sehingga mengundang tafsiran bermacam-macam. Ada pula kata-kata yang artinya sudah tertentu, “la mengajar saya bahasa Inggris” lebih spesifik daripada “la mendidik saya”. Pernyataan “Uang ini dapat diambil secara teratur”, lebih baik diganti dengan “uang ini dapat diambil sekali sebulan”. Tetapi “sekali sebulan” lebih tepat lagi diganti dengan “setiap tanggal 1 tiap bulan”. Pengadilan sering direpotkan oleh bunyi undang-undang yang tidak jelas, begitu pula pendengar sering salah paham karena kata-kata yang tidak jelas pula.

     2.     Gunakan kata-kata yang sederhana
Berpidato adalah berkomunikasi dan bukan “unjuk gigi”. Karena nilai komunikasinya, kata-kata yang diucapkan harus dapat dipahami dengan cepat. “Konsep-konsep kaum politisi yang sarat dengan fantasi dan delusi” adalah kalimat yang sulit dicerna. “Gagasan-gagasan politisi yang dipenuhi khayalan dan impian” barangkali lebih sederhana. Daniel Dhakidae pernah mengutip contoh bahasa pers kampus yang tidak sederhana.
 “Kalau kita melihat permasalahan tersebut adalah merupakan masalah yang urgen maka perbincangan tentang solidaritas pers mahasiswa menjadi 'solid' konsep dasar solidaritas pers mahasiswa harus ditetapkan”.

     3.     Hindari istilah-istilah teknis
Ciri dunia modern ialah berkembangnya spesialisasi yang mempertinggi kemampuan, tetapi juga mengkotak-kotak manusia dalam dunianya sendiri. Masing-masing mengembangkan kata-kata yang dipahami oleh mereka sendiri. Bila seorang ahli ilmu jiwa berkata, “Katharsis digunakan dalam usaha terapi dan bukan untuk diagnosis”, maka publisis dapat pula berceloteh tentang, “Komunikasi yang tidak setala, karena adanya perbedaan kerangka, acuan dan medan pengalaman”. Untuk khalayak yang sama, pernyataan-pernyataan di atas tidak menjadi persoalan. Untuk orang lain, ini membingungkan.

     4.     Berhemat dalam penggunaan kata-kata
Seringkali kalimat yang panjang menjadi jelas setelah kata-kata yang berlebih-lebihan dibuang. “Adalah suatu keharusan bagi seorang guru untuk menaruh perhatian yang tinggi kepada siswa-siswanya". Kalimat ini menjadi jelas setelah diganti seperti ini “Guru harus memperhatikan sekali siswa-siswanya”. Termasuk penghematan kata adalah menghindari gejala kerancuan (kontaminasi). Kalimat “Bagi seluruh mahasiswa baru diharuskan mendaftar lagi” tidak berubah arti bila kata “bagi” dibuang.

    5.     Gunakan perulangan atau pernyataan kembali gagasan yang sama dengan kata yang berbeda
Dalam komunikasi tulisan, orang dapat melihat pokok pembicaraan dari judul atau subjudul. Dalam komunikasi lisan, gagasan utama hanya dapat diketahui dari perulangan. Yang berikut ini adalah contoh perulangan, “Kemalasan saudara menjengkelkan dosen, mendongkolkan orang tua, dan mengecewakan pimpinan saudara”.

Kata-kata Harus Tepat
Ini berarti kata-kata yang digunakan harus sesuai dengan kepribadian komunikator, jenis pesan, keadaan khalayak, dan situasi komunikasi. Kata-kata dalam pertemuan resmi lebih “kaku” dibandingkan dalam pertemuan informal. Pembicara yang bersemangat menggunakan kata-kata yang berapi-api, tetapi juru pidato yang kalem memilih kata-kata yang biasa. Walaupun ada perbedaan seperti itu - untuk memperoleh ketepatan kata - prinsip-prinsip berikut ini selalu harus diperhatikan.

     1.     Hindari kata-kata klise
Kata klise ialah kata yang sudah terlalu sering dipergunakan atau tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Lukisan gadis cantik seperti “Alisnya, bak semut beriring, dagunya lebah bergantung”, dan sebagainya sekarang sudah dianggap klise. Banyak kata yang semula ramai digunakan sekarang hilang dari pasaran. Termasuk kata klise ialah kata yang terlalu sering diucapkan pejabat atau pembicara.

     2.     Gunakan bahasa pasaran secara hati-hati
Bahasa pasaran (slang) ialah bahasa yang dipergunakan bukan oleh orang yang terpelajar, tetapi diterima dalam percakapan sehari- hari. Dalam perkembangan banyak kata pasaran yang sudah diterima dalam bahasa baku seperti: bisa (dapat), dimengerti, diberhentikan. Tetapi dalam pertemuan resmi kata-kata ini masih belum dapat diterima: bilang (berkata), berkoar, terenyuh, ketimbang, dan sebagainya. Bahasa pasaran dapat dipergunakan dalam acara-acara sosial yang santai, walaupun pembicara harus membatasi diri untuk tidak menggunakan bahasa tersebut secara berlebih-lebihan.

     3.     Hati-hati dalam penggunaan kata-kata pungut
Kata-kata asing sebaiknya dihindari, kalau tidak ditemukan istilah Indonesianya. Seringkali kata-kata asing itu hanya dapat dipahami dalam lingkungan yang amat terbatas. Seorang sarjana berbicara di depan para petani. Di antara ucapannya banyak kata-kata asing seperti “Modernisasi sikap dan pembaharuan mentalitas merupakan faktor utama dalam akselerasi pembangunan”. Pendengar memuji pidato sarjana itu, tetapi tidak seorang pun yang memahaminya. Banyak menggunakan kata-kata asing dapat “menghebatkah Anda, tetapi juga menyebabkan komunikasi Anda tidak ada gunanya.

     4.     Hindari vulgarisme dan kata-kata yang tidak sopan
Vulgarisme ialah kata-kata kampungan yang hanya digunakan oleh masyarakat rendahan. Vulgarisme mungkin cocok dipakai di hadapan kelompok urakan, pemuda yang dipenuhi hasrat memberontak. Tetapi vulgarisme lebih baik dihindari dalam situasi apapun. Pendengar cenderung menganggap orang vulgaris sebagai orang yang berwatak jelek, sehingga akan menolak pesan yang disampaikannya.

     5.     Jangan menggunakan penjulukan
Penjulukan (name calling) adalah pemberian nama jelek pada sesuatu atau seseorang yang tidak kita senangi. Penjulukan biasanya membangkitkan respon emosional, menghambat proses berpikir walaupun kadang-kadang dapat memperoleh hasil yang cepat. Pada zaman Orde Lama lawan-lawan politik dijuluki “kontrarevolusi”, “unsur subversif”, “agen nekolim”, “komunis-fotobi”, dan sebagainya. Pada zaman Orde Baru muncul istilah “Komando Jihad”, “Golongan Ekstrem”, “Penghasut”, dan sebagainya. Dalam percakapan, Anda pun mungkin menjuluki kawan Anda sebagai “kepala batu”, “kampungan”, “urakan”, “si cebol”, dan sebagainya.

     6.     Jangan menggunakan eufemisme yang berlebih-lebihan
Eufemisme ialah ungkapan pelembut yang biasanya menggantikan kata-kata yang “terasa” kurang enak. Eufemisme biasanya digunakan karena takut menyinggung perasaan tetapi terlalu banyak eufemisme juga mengaburkan pengertian. Orang timur cenderung senang menggunakan eufemisme “pakaian” diganti dengan “sandang”; tetapi kemudian diperhalus menjadi “busana”. Orang baik di tengah-tengah pelacuran kita sebut “mutiara dalam lumpur”.

Kata-kata Harus Menarik
Selain harus jelas dan pantas (clear and appropriate), kata-kata juga harus menimbulkan kesan yang kuat, hidup dan merebut perhatian. Untuk itu, di bawah kita tuturkan beberapa petunjuk:

     1.     Pilihlah kata-kata yang menyentuh langsung diri khalayak
Bahasa lisan sebaiknya bergaya percakapan, langsung dan komunikatif. Kata-katanya menyangkut pengalaman dan menyentuh kepentingan mereka. Dengan penduduk desa, gunakan kata-kata yang digunakan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Jangan katakan “Seorang petani dilaporkan telah berhasil memenangkan hadiah Tabanas dan ia gembira sekali seakan-akan mendapat rapel gaji yang cukup besar”. Katakanlah, “Rekan saudara kemarin menerima hadiah Tabanas, la begitu gembira seperti kalau Saudara melihat hasil panenan saudara yang berlimpah-limpah, jauh di atas perkiraan Saudara”. Untuk menambah keakraban, gunakan kata ganti orang pertama dan kedua. Jadi, kata “saudara”, “kita”, “anda”, lebih baik daripada “seseorang”, “orang”, “manusia”, dan lain-lain. Kalimat “Bangsa Indonesia dituntut ikut serta dalam pembangunan”, sebaiknya diganti dengan, “Saudara harus ikut membangun”. Kalimat kedua lebih pendek dan lebih menyentuh khalayak.

     2.     Gunakan kata berona
Kata berona (colorfull word) ialah kata yang dapat melukiskan sikap dan perasaan, atau keadaan. Warna kata dipengaruhi oleh asosiasi dengan pengalaman tertentu. Kata “propaganda” sekarang mempunyai wama yang suram, karena pernah digunakan jelek dalam Perang Dunia Kedua. Jadi pemakaian kata dapat meninggikan atau merendahkan warna kata, bahkan dapat membangkitkan asosiasi emosional. Kata-kata "kuli", "buruh", "pegawai", "karyawan", 'babu", "pelayan', "pembantu rumah tangga", "bodoh", "bebal", "tolol", "idiot", masing-masing mempunyai warna emosional yang berlainan. Warna kata juga ditentukan oleh gambaran keadaan yang ditimbulkannya. Kata "menangis" tidak mempunyai warna. Tetapi "terisak-isak", "tersedu-sedu", "mengiba", "menjerit", "meraung", "memelas", memberikan warna tertentu. Dalam hal ini, kata berona menghasilkan lukisan keadaan yang lebih jelas. Selain itu, ada kata-kata yang warnanya ditentukan oleh bunyinya. Umumnya kata-kata itu merupakan salinan bunyi sebenarnya (onomatopoea), misalnya, "berderik", "berdentum", "bergelegar".

     3.     Gunakan bahasa yang figuratif
Bahasa figuratif ialah bahasa yang dibentuk begitu rupa sehingga menimbulkan kesan yang indah. Untuk itu biasanya digunakan gaya bahasa (figure of speech). Banyak jenis gaya bahasa, sehingga tulisan ini hanya membatasinya pada beberapa buah saja sebagai contoh. Gaya bahasa yang lengkap dapat dipelajari pada buku-buku kesusasteraan. Gaya bahasa yang paling sering dipergunakan ialah asosiasi, metafora, personifikasi, dan antitesis. Tiga yang pertama disebut gaya bahasa perbandingan. Bila kita menggunakan kata “seperti”, “bagaikan”, "seakan-akan", dan sebagainya, kita mengambil asosiasi. Misalnya, "Tubuhnya kurus kering, berjalan seperti kerangka hidup". Bila perbandingan itu tersirat, dengan tidak menyebut kata pembandingnya, ini disebut metafora. Misalnya, "Aku ini binatang jalang". Personifikasi ialah memperlakukan benda-benda mati seperti makhluk hidup. Misalnya, "Jakarta bersolek secantik mungkin menjelang pesta kelahirannya". Antitesis ialah mendampingkan kata-kata atau kalimat yang berlawanan artinya. Misalnya, "Bukan kesadaran yang menentukan materi, tetapi materilah yang menentukan kesadaran".

     4.     Gunakan kata-kata tindak (action words)
Kata tindak menggunakan kata-kata aktif. Kalimat, “Diharapkan dari pertemuan ini gagasan baik dapat dirumuskan oleh semua peserta” akan lebih baik diganti dengan "Kita berharap dengan pertemuan ini semua peserta dapat merumuskan gagasan baik". Agar kata tindak dapat digunakan, penggunaan kalimat nominal dapat dikurangi. "Kesengsaraan adalah penyebab kerusakan mental" dapat diganti dengan "Kesengsaraan menyebabkan kerusakan mental".

Sebagai kesimpulan, kita harus dapat memilih kata-kata yang jelas, tepat, dan menarik. Agar jelas, kita harus menggunakan istilah yang berarti khusus, kata-kata sederhana, menghindari kata-kata teknis, berhemat dan mengulang gagasan dengan baik. Agar tepat, kita menghindari kata klise, bahasa pasaran, kata pungut, vulgarisme, penjulukan, dan eufemisme yang berlebih-lebihan. Agar menarik, kita memilih kata-kata yang langsung menyentuh khalayak, kata berona, bahasa figuratif, dan kata-kata tindak. Untuk memiliki keterampilan di atas, kita harus banyak berlatih menambah perbendaharaan kata dengan membaca buku yang baik, mendengarkan pembicaraan yang fasih, belajar mengarang atau menulis, dan membiasakan diri berbahasa Indonesia yang benar dan baik. 

Baca juga: Contoh Pidato Persuasif Terbaik John F. Kennedy Singkat tetapi Berhasil



Sumber: Buku Retorika Modern (Pendekatan Praktis), karya: Jalaluddin Rakhmat.

0 Response to "3 Cara Cerdas Memilih Kata-Kata dalam Berpidato agar Berpengaruh"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel