Bahasa dan Kebudayaan (Hubungan Bahasa dan Kebudayaan) - Kajian Sosiolinguistik


A.      PENDAHULUAN
Sosiolinguistik merupakan salah satu ilmu bahasa yang mengkaji bahasa hubungannya dengan masyarakat, mengkaji fungsi bahasa dalam masyarakat, dan kita ketahui juga bahwa di dalam masyarakat ada budaya atau kebudayaan, maka sosiolinguistik pula mengkaji bahasa hubungannya dengan kebudayaan.
Mengapa harus kebudayaan, karena antara bahasa dan kebudayaan memiliki hubungan yang sangat erat. Banyak ahli yang berpendapat bahwa bahasa itu merupakan bagian dari kebudayaan, tetapi, ada juga yang berpendapat bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang berbeda, namun mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Atau dengan kata lain kebudayaan dibentuk salah satunya dari bahasa, Ada yang mengatakan bahwa bahasa yang mempengaruhi/membentuk suatu kebudayaan di suatu daerah dan cara berpikir masyarakat penuturnya, namun, ada juga yang mengatakan bahwa kebudayaanlah yang mempengaruhi/membentuk seseorang dalam berbahasa, sehingga segala hal yang ada dalam kebudayaan akan tercermin di dalam bahasa.
Kedua pendapat tersebut benar, tergantung dari mana sudut pandang yang akan diambil. Misalnya, dalam sosiolinguistik, pendapat bahwa kebudayaanlah yang mempengaruhi sebuah bahasa dalam masyarakat tutur. Kehidupan berbudaya merupakan suatu cara bagi masyarakat untuk berekspresi dan berkomunikasi, dan masyarakat akan menggunakan sebuah atau beberapa bahasa untuk berkomunikasi dan bahkan saling bertukar kebudayaan.
Oleh karenanya, kita akan melihat meskipun bahasa di dunia itu sama dalam tujuannya, yaitu untuk berkomunikasi dengan sesama, namun, bahasa yang digunakan dalam masyarakat tutur berbeda-beda, bahkan mempunyai keunikan masing-masing dalam pengucapannya, penulisannya maupun maknanya. Karena, bahasa merupakan susunan sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan.
B.       BAHASA DAN KEBUDAYAAN
B.1 Hakikat Kebudayaan
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi (budi atau akal) yang diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Kebudayaan merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.[1]
Di dalam buku-buku antropologi atau buku-buku tentang kebudayaan terdapat berbagai definisi mengenai kebudayaan yang sangat berbeda-beda, dan kesimpulannya itu bisa dianggap benar, atau bisa juga dianggap kurang lengkap. Perbedaan ini terjadi karena biasanya penyusun definisi-definisi itu melihat kebudayaan dari aspek yang berbeda. Kroeber dan Kluckhom (1952) telah mengumpulkan berpuluh-puluh definisi mengenai kebudayaan, dan mengelompokkannya menjadi enam golongan menurut sifat definisi itu, yakni:
1.         Definisi yang deskriptif, yakni definisi yang menekankan pada unsur-unsur kebudayaan
2.         Definisi yang historis, yakni definisi yang menekankan bahwa kebudayaan itu diwarisi secara kemasyarakatan
3.         Definisi normatif, yakni definisi yang menekankan hakikat kebudayaan sebagai aturan hidup dan tingkah laku
4.         Definisi yang psikologis, yakni definisi yang menekankan pada kegunaan kebudayaan dalam penyesaian diri kepada lingkungan, pemecahan persoalan, dan belajar hidup
5.         Definisi yang struktural, yakni definisi yang menekankan sifat kebudayaan sebagai suatu sistem yang berpola dan teratur
6.         Definisi yang genetik, yakni definisi yang menekankan pada terjadinya kebudayaan sebagai hasil karya manusia. Di sisi lain, Ohoiwutun (2002:77) mengatakan kebudayaan itu mencakup seluruh perbuatan manusia.[2]
Terlepas dari pengelompokkan definisi kebudayaan diatas bahwa yang namanya kebudayaan itu melingkupi semua aspek dan segi kehidupan manusia. Misalnya saja kita lihat definisi dari kelompok nomor enam, yaitu definisi yang genetik, maka bisa dikatakan apa saja perbuatan manusia dengan segala hasil dan akibatnya adalah termasuk dalam konsep kebudayaan. Hal ini memang berbeda dengan konsep kebudayaan yang tercakup dan diurus oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan yang ada di bawah Departemen Pendidikan Nasional di Indonesia, sebab ternyata yang diurus oleh Direktorat tersebut hanyalah menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan kesenian. Direktorat tersebut tidak mengurus pekerjaan dan hasil pekerjaan lain, seperti bidang ekonomi, teknologi, hukum, pertanian dan perumahan.
Pengelompokkan definisi-definisi kebudayaan yang dibuat oleh Nababan (1984) pun menunjukkan bahwa kebudayaan itu melingkupi segala aspek dan unsur kehidupan manusia. Nababan mengelompokkan definisi kebudayaan atas empat golongan, yaitu:
1.         Definisi yang melihat kebudayaan sebagai pengatur dan pengikat masyarakat
2.         Definisi yang melihat kebudayaan sebagai hal-hal yang diperoleh menusia melalui belajar atau pendidikan (nurture)
3.         Definisi yang melihat kebudayaan sebagai kebiasaan dan perilaku manusia
4.         Definisi yang melihat kebudayaan sebagai sistem komunikasi yang dipakai masyarakat untuk memperoleh kerja sama, kesatuan, dan kelangsungan hidup masyarakat manusia.
Kita lihat, definisi golongan ke empat yang dirumuskan oleh Nababan secara eksplisit ia menyatakan bahwa semua sistem komunikasi yang digunakan manusia, tentunya juga bahasa adalah termasuk dalam kebudayaan. Itulah sebabnya Nababan secara gamblang menyatakan bahwa kebudayaan adalah sistem aturan-aturan komunikasi dan interaksi yang memungkinkan suatu masyarakat terjadi, terpelihara dan dilestarikan. Definisi yang dibuat Nababan ini tentunya tidak salah, sebab sistem aturan-aturan komunikasi itu memang bagian dari kebudayaan, tetapi perlu diketahui bahwa kebudayaan itu bukan hanya sistem komunikasi saja, melainkan menyangkut juga masalah-masalah lain, minimal termasuk ketiga golongan definisi yang dikemukakannya di atas, yaitu aturan hidup dan tingkahlaku, hasil-hasil pendidikan juga kebiasaan dan perilaku,. Dengan kata lain, kebudayaan itu adalah segala hal yang menyangkut kehidupan manusia, termasuk aturan atau hukum yang berlaku dalam masyarakat, hasil-hasil yang dibuat manusia, kebiasaan dan tradisi yang biasa dilakukan dan termasuk juga alat interaksi atau komunikasi yang digunakan, yakni bahasa dan alat-alat komunikasi nonverbal lainnya.[3]
Koentjaraningrat mengatakan bahwa kebudayaan itu hanya dimiliki manusia dan tumbuh bersama dengan berkembangnya masyarakat manusia. Untuk memahaminya, Koentjaraningrat menggunakan sesuatu yang disebutnya “kerangka kebudayaan”, yang memiliki dua aspek titik tolak, yaitu:
1.         Wujud kebudayaan, yakni wujud gagasan, perilaku dan fisik atau benda. Ketiga wujud itu secara berurutan disebutnya juga (a) sistem budaya, yang bersifat abstrak (b) sistem sosial, yang bersifat agak konkret, dan (c) kebudayaan fisik, yang bersifat sangat konkret.
2.         Isi kebudayaan, hal ini terdiri dari tujuh unsur yang bersifat universal, artinya ketujuh unsur itu terdapat dalam setiap masyarakat manusia yang ada di dunia ini. Ketujuh unsur itu adalah:
-          Bahasa
-          Sistem teknologi
-          Sistem pencaharian hidup atau ekonomi
-          Organisasi sosial
-          Sistem pengetahuan
-          Sistem religi
-          Kesenian
Menurutnya bahwa bahasa itu merupakan bagian dari kebudayaan atau dengan kata lain bahasa itu dibawah lingkup kebudayaan. Tetapi katanya pula, pada zaman purba ketika manusia hanya terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang tersebar di beberapa tempat saja di muka bumi ini, bahasa merupakan unsur utama yang mengandung semua unsur kebudayaan manusia yang lainnya. Sekarang, setelah unsur-unsur lain dari kebudayaan manusia itu telah berkembang, bahasa hanya merupakan salah satu unsur saja, namun fungsinya sangat penting bagi kehidupan manusia.[4]

B.2 Hubungan Bahasa dan Kebudayaan
Menurut Koentjaraningrat di atas bahwa bahasa bagian dari kebudayaan, jadi hubungan antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif, dimana bahasa berada di bawah lingkup kebudayaan. Namun, ini bukanlah satu-satunya konsep yang ada dibicarakan orang, sebab disamping itu ada pendapat lain yang menyatakan bahwa bahasa dan kebudayaan mempunyai hubungan yang koordinatif, yakni hubungan yang sederajat, yang kedudukannya sama tinggi. Masinambouw malah menyebutkan bahwa bahasa (istilah beliau kebahasaan) dan kebudayaan merupakan dua sistem yang melekat pada manusia. Kalau kebudayaan itu adalah satu sistem yang mengatur interaksi manusia di dalam masyarakat, maka kebahasaan adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai sarana berlangsungnya interaksi itu. Dengan kata lain, hubungan yang erat itu berlaku sebagai “kebudayaan merupakan sistem yang mengatur interaksi manusia, sedangkan kebahasaan merupakan sistem yang berfungsi sebagai sarana keberlangsungan sarana itu”.
Masinambouw juga mempersoalkan bagaimana hubungan antara kebahasaan dan kebudayaan itu, apakah bersifat subordinatif ataukah bersifat koordinatif. Kalau bersifat subordinatif, mana yang menjadi main system (sistem atasan) dan mana pula yang menjadi subsystem (sistem bawahan). Kebanyakan ahli memang mengatakan bahwa kebudayaanlah yang menjadi main system, sedangkan bahasa hanya merupakan subsystem, tidak ada atau belum ada yang mengatakan sebaliknya.
Mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan yang bersifat koordinatif ada dua hal yang perlu dicatat. Pertama, ada yang mengatakan hubungan kebahasaan dan kebudayaan itu seperti anak kembar siam, dua buah fenomena yang terikat erat, seperti hubungan antara sisi yang satu dengan sisi yang lain pada sekeping mata uang logam. Sisi yang satu adalah sistem kebahasaan dan sisi yang lain adalah sistem kebudayaan (lihat silzer, 1990). Jadi, pendapat ini mengatakan kebahasaan dan kebudayaan merupakan dua fenomena yang berbeda, tetapi hubungannya sangat erat, sehingga tidak dapat dipisahkan. Jadi sejalan dengan konsep Masinambow diatas. Hal kedua yang menarik dalam hubungan koordinatif ini adalah adanya hipotesis yang sangat kontroversial, yaitu hipotesis dari dua pakar linguistik ternama, yakni Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf. Karena itu, hipotesis ini dikenal dengan nama hipotesis Sapir-Whorf, dan lazim juga disebut dengan relativitas bahasa.
Meskipun gagasan-gagasan yang dikemukakan kedua sarjana itu, Sapir dan Whorf adalah hasil penelitian yang lama dan mendalam, serta dikemukakan dalam karangan yang bobot ilmiahnya sangat tinggi, tetapi nayatanya gagasan mereka yang disebutkan dalam hipotesisnya sangat kontroversial dengan pendapat sebagian besar sarjana. Di dalam hipotesis itu dikemukakan bahwa bahasa bukan hanya menentukan corak budaya, tetapi juga menentukan cara dan jalan pikiran manusia, dan oleh karena itu, mempengaruhi pula tindak lakunya. Dengan kata lain, suatu bangsa yang berbeda bahasanya dari bangsa lain, akan mempunyai corak budaya dan jalan pikiran yang berbeda pula. Jadi, perbedaan-perbedaan budaya dan jalan pikiran manusia itu bersumber dari perbedaan bahasa, atau tanpa adanya bahasa manusia tidak mempunyai pikiran sama sekali. Kalau bahasa itu mempengaruhi kebudayaan dan jalan pikiran manusia, maka ciri-ciri yang ada dalam suatu bahasa akan tercermin pada sikap dan budaya penuturnya. Konon katanya, karena dalam bahasa Barat (Inggris, Belanda dsb.) ada sistem kala (tenses), maka orang Barat sebagai penutur bahasa itu, sangat memperhatikan dan malah terikat dengan waktu. Mereka melakukan kegiatan selalu terikat dengan waktu, begitupun kebiasaan-kebiasaan yang berkenaan dengan tindak tutur selalu terikat dengan waktu. Misalnya, pada musim panas pukul 21.00 matahari masih bersinar dengan terang, tetapi anak-anak mereka (karena sudah menjadi kebiasaan) disuruhnya tidur karena katanya hari sudah malam. Pada 01.00 pagi meskipun masih gelap gulita, bila bertemu mereka sudah akan saling menyapa dengan ucapan “selamat pagi” karena katanya hari sudah pagi. Sebaliknya, bagi orang Indonesia, karena dalam bahasanya tidak ada sistem kala, maka katanya menjadi tidak memperhatikan akan waktu. Acara yang sudah terjadwalkan waktunya bisa mundur satu atau beberapa jam kemudian. Itulah sebabnya, katanya ungkapan “jam karet” hanya ada di Indonesia, tetapi tidak ada di bangsa-bangsa yang di dalam bahasanya ada sistem kala.
Hipotesis Sapir-Whorf ini menyatakan perbedaan berpikir disebabkan oleh adanya perbedaan bahasa ini, akan menyebabkan orang Arab melihat kenyataan (realitas) berbeda dengan orang Jepang, sebab bahasa Arab tidak sama dengan bahasa Jepang. Whorf menegaskan relitas itu tidaklah terpampang begitu saja di depan kita, lalu kemudian kita memberinya nama satu per satu. Yang menjadi sebenarnya menurut Whorf adalah sebaliknya, kita mambuat peta realitas itu yang dilakukan atas dasar bahasa yang kita pakai dan bukan atas dasar realitas itu. Umpamanya saja jenis warna di dunia ini sama,tetapi mengapa setiap bangsa yang berbeda bahasanya, melihat sebagai sesuatu yang berbeda. Orang Inggris misalnya, mengenal warna dasar white, red, green, yellow, blue, brown, purple, pink, orange dan grey, tetapi penutur bahasa Hunaco di Filipina hanya mengenal empat warna saja, yaitu mabiru (hitam dan warna gelap lain), melangit (putih dan warna cerah), meramar (kelompok warna merah) dan malatuy (kuning, hijau muda dan coklat muda).[5]
Mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan, kalau kita mengikuti pendapat Silzer (1990) yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua buah fenomena yang terikat, bagai dua anak kembar siam, atau sekeping mata uang yang pada satu sisi berupa sistem bahasa dan pada sistem yang lain berupa sistem budaya, maka apa yang tampak dalam budaya akan tercermin dalam bahasa, atau juga sebaliknya. Misalnya, bangsa Inggris dan bangsa Eropa lainnya yang tidak mengenal kebiasaan makan nasi, maka dalam bahasanya hanya ada satu kata yaitu rice untuk menyatakan konsep padi, gabah, beras dan nasi. Begitu juga tidak ada kosakata untuk konsep lauk (teman pemakan nasi). Sebaliknya dalam budaya Indonesia ada, karena ada budaya makan nasi, maka bahasa Indonesia mempunyai kata yang berbeda untuk keempat konsep itu. Masyarakat Inggris tentunya mengerti akan adanya perbedaan konsep padi, gabah, beras dan nasi itu, tetapi mereka tidak merasa perlu, atau belum merasa perlu untuk saat ini dalam menciptakan istilah baru untuk keempat konsep itu. Contoh lain, masyarakat Inggris akrab dengan olahraga berkuda, oleh karena itu mereka mempunyai horse, colt, stallion, pony dan mare. Lalu, bagi masyarakat Indonesia karena tidak memerlukan, atau belum memerlukan pembedaan itu, maka dalam bahasanya juga tidak ada kosakata untuk kelima konsep tentang kuda itu. Contoh lain mengenai adanya hubungan antara bahasa dan budaya dapat juga kita lihat dari peribahasa atau pepatah Melayu; katanya, peribahasa atau pepatah Melayu ini mencerminkan sifat, sikap dan keadaan bangsa Melayu (pada waktu dulu); umpamanya, peribahasa “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” mengungkapkan bahwa orang Melayu selalu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan atau situasi di mana dia berkunjung; peribahasa yang berbunyi “hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik juga di negeri sendiri” menyatakan bahwa orang Melayu sangat cinta pada tanah airnya; lalu pepatah yang mengatakan “lain ladang lain belalang” menunjukkan bahwa orang Melayu sangat memahami bahwa setiap daerah atau bangsa mempunyai adat istiadat dan kebiasaan yang berbeda.
Adanya hubungan tindak berbahasa dengan sikap mental para penuturnya ada dibicarakan oleh Koentjaraningrat, seorang pakar antropologi Indonesia; menurutnya bahwa buruknya kemampuan orang Indonesia terhadap berbahasa Indonesia, termasuk para intelektualnya adalah karena adanya sifat-sifat negatif yang melekat pada mental sebagian besar orang Indonesia; sifat-sifat negatif itu adalah suka meremehkan mutu, mental menerabas, tuna harga diri, menjauhi disiplin, enggan bertanggung jawab dan suka latah atau ikut-ikutan. Sifat suka meremehkan mutu tercermin dalam perilaku berbahasa yang “pokoknya mengerti”, sikap “pokoknya mengerti” ini menyebabkan bahasa yang digunakan menjadi asal saja, tanpa mempedulikan bahasa yang digunakan itu benar atau salah. Tentu saja keinginan untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah gramatikal menjadi tidak ada sama sekali; yang penting adalah bahasa yang digunakan itu “bisa dimengerti”, soal salah atau benar itu adalah soal guru bahasa atau penyuluh bahasa.
Sikap mental menerabas, menurut Koentjaraningrat, tercermin dalam perilaku berbahasa berupa adanya keinginan untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, tetapi tanpa keinginan untuk belajar. Mereka menganggap bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa kita yang ada secara alami, yang akan dikuasai tanpa harus dipelajari. Memang benar secara politis kita adalah orang Indonesia, karena lahir dan dibesarkan di Indonesia, dan bahasa Indonesia adalah milik kita. Tetapi apakah benar itu dapat dikuasai dengan baik tanpa melalui peroses belajar.lebih-lebih kalau diingat bahwa bagi sebagian besar orang Indonesia, bahasa Indonesia adalah bahasa kedua, bukan bahasa pertama. Untuk menguasai bahasa pertama saja kita harus belajar dari lingkungan kita, apalagi untuk menguasai bahasa kedua yang harus dipelajari dari orang lain.
Sikap tuna harga diri menurut Koentjaraningrat, berarti tidak mau menghargai milik diri sendiri, tetapi sangat menghargai diri orang lain, orang asing. Sikap ini tercermin dalam perilaku berbahasa di mana karena ingin selalu menghargai orang asing, maka menjadi selalu menggunakan bahasa asing, dan menomor duakan bahasa sendiri. Lihat saja buktinya, demi menghargai orang asing, keset-keset di muka pintu kantor pemerintah pun bertuliskan kata-kata “welcome” bukan “selamat datang”, pintu-pintu di atas bertuliskan “in” atau “exit” dan bukannya “masuk” atau “keluar”, juga di pintu yang daunnya dapat di buka dua arah bertuliskan petunjuk “push” dan “pull” dan bukannya “dorong” dan “tarik”.
Sikap menjauhi disiplin tercermin dalam perilaku berbahasa yang tidak mau atau malas mengikuti aturan atau kaidah bahasa. Ujaran-ujaran seperti “Dia punya mau tidak begitu” atau “Dia punya dua mobil” sudah lazim kita dengar, padahal kedua struktur kalimat itu tidak sesuai dengan kaidah yang ada; harusnya berbunyi: “Kemauannya tidak demikian” dan “Dia mempunyai dua buah mobil”.
Sikap tidak mau bertanggung jawab menurut Koentjaraningrat tercermin dalam perilaku berbahasa yang tidak mau memperhatikan penalaran bahasa yang benar; kalimat seperti “uang iuran anggota terpaksa dinaikkan karena sudah lama tidak naik” sering kita dengar; kalau mau bernalar dan bertanggung jawab, alasan kenaikan itu bukanlah karena sudah lama tidak naik, mungkin misalnya karena sudah tidak sesuai lagi dengan biaya-biaya yang haras dikeluarkan; jadi, bertanggung jawab dalam berbahasa artinya dapat mempertanggungjawabkan kebenaran isi kalimat itu.
Terakhir, sifat latah atau ikut-ikutan tercermin dalam berbahasa dengan selalu mengikuti saja ucapan orang lain (biasanya ucapan pejabat atau pimpinan) yang sebenarnya secara gramatikal tidak benar, umpamanya karena ada gerakan yang bersemboyangkan “memasyarakatkan olahraga” dan “mengolahragakan masyarakat”, maka diikuti ucapan itu, padahal secara semantik dan gramatikal ungkapan “memasyarakatkan olahraga” memang benar, yakni berarti menjadikan olahraga itu menjadi kebiasaan dalam masyarakat; tetapi ungkapan “mengolahragakan masyarakat” itu tidak benar, sebab ungkapan itu berati “masyarakat itu menjadi olah raga”, kalau yang dimaksud adalah menjadikan masyarakat itu berolahraga, maka bentuknya haruslah “memperolahragakan masyarakat”.
Kalau kita kembali ke persoalan semula: bagaimana hubungan bahasa dengan kebudayaan, maka dari uraian di atas yang diberikan oleh Koentjaraningrat (1990) ternyata yang mempengaruhi perilaku berbahasa adalah budaya. Budaya disini dalam arti luas, termasuk sifat dan sikap yang dimiliki oleh penutur.
Untuk lebih memeahami adanya hubungan budaya dan tindak tutur, serta melihat adanya budaya yang tidak sama, sehingga melahirkan pola tindak tutur yang berbeda, camkan ilustrasi berikut. Dalam masyarakat tutur Indonesia kalau ada orang memuji, misalnya dengan mengatakan “bajumu bagus sekali!” atau “wah, rumah saudara besar sekali”, maka yang dipuji akan menjawab pujian itu dengan nada menolak dan merendah, misalnya dengan mengatakan “ah, ini Cuma baju murah, kok!” dan “yah, beginilah namanya juga rumah di kampung”. Tetapi kalau hal itu terjadi dalam budaya Inggris, tentu akan dijawab dengan ucpan “terimakasih!”. Contoh lain kalau pada suatu hari seorang pemuda Inggris bertemu dengan teman wanitanya dan mengatakan “hari ini kamu tampak cantik sekali!” maka si teman wanita dengan gembira akan menjawab dengan mengatakan “terimakasih”. Tetapi kalau hal ini terjadi dalam budaya Indonesia, maka ada kemungkinan si wanita merasa kurang senang dan mungkin juga akan terucap jawaban “jadi, pada hari-hari lain saya tidak cantik?”. Contoh lain, dalam budaya indonesia hanya laki-laki yang dapat mengawini atau menikahi wanita; sedangkan wanita tidak dapat mengawini atau menikahi laki-laki, sebab kalimat seperti “Amiah akan mengawini si Dul” tidak diterima. Sebaliknya dalam budaya Inggris, baik laki-laki maupun wanita dapat menikahi lawan jenisnya. Dalam budaya Indonesia, informasi (dalam bentuk tindak tutur) lebih sering disampaikan secara tidak langsung dengan menggunkan bahasa kias atau bahasa isyarat; tetapi dalam budaya Inggris lebih umum disampaikan secara langsung dengan alat komunikasi verbal.[6]

B.3 Etika Berbahasa
Hubungan antara bahasa dan kebudayaan secara luas telah kita bicarakan. Apakah hubungan itu bersifat koordinatif atau subordinatif tidak perlu dipersoalkan lagi, tetapi yang jelas keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling mempengaruhi. Kalau kita terima pendapat Masinambouw (1984) yang mengatakan bahwa sistem bahasa mempunyai fungsi sebagai sarana berlangsungnya interaksi manusia di dalam masyarakat, maka berarti di dalam tindak laku berbahasa haruslah disertai norma-norma yang berlaku di dalam budaya itu. Sistem tindak laku berbahasa menurut norma-norma budaya ini disebut etika berbahasa atau tata cara berbahasa (Inggris: linguistic etiquette).
Etika berbahasa ini erat berkaitan dengan pemilihan kode bahasa, norma-norma sosial, dan sistem budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat. Oleh karena itu, etika berbahasa ini antara lain akan “mengatur”:
a.      Apa yang harus kita katakan pada waktu dan keadaan tertentu kepada seorang partisipan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu.
b.      Ragam bahasa apa yang paling wajar kita gunakan dalam situasi sosiolinguistik dan budaya tertentu. Terdapat pelbagai ragam bahasa yang kita bercakap setiap hari, yaitu sesama rakan, ibu bapa, guru, dan masyarakat sekeliling. Dalam setiap situasi tersebut, kita menggunakan ragam bahasa yang berlainan. Contoh:
1.      Bodoh betul la hang ni, kerja cam tu pon tak boleh buat.
2.      Emak, saya balik lewat hari ini, ada kelas tambahan kat sekolah.
3.      Cikgu saya tak hadir ke sekolah semalam.
Poin (a) dan (b) ini menjelaskan aturan sosial berbahasa, sebagai sesuatu yang menjadi inti persoalan sosiolinguistik: “siapa yang berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, tentang apa, kapan, diama dan dengan tujuan apa”. Sebagai contoh, umpamanya kita hendak menyapa seseorang, maka harus kita ketahui siapa orang itu, dimana, kapan dan dalam situasi yang bagaimana, baru kemudian kita memilih kata sapaan yang tersedia. Menurut Kridalaksana (1982: 14) dalam bahasa Indonesia ada 9 jenis kata untuk menyapa seseorang, yaitu:
1.         Kata ganti orang, yakni engkau dan kamu
2.         Nama diri, seperti Dika dan Nita
3.         Istilah perkerabatan, seperti bapak, ibu, kakak dan adik
4.         Gelar dan pangkat, seperti Dokter, Prefesor, Letnan dan Kolonel
5.         Bentuk nomina pelaku (pe+verba), seperti penonton, pendengar dan peminat
6.         Bentuk nomina+ku, seperti Tuhanku, bangsaku dan anakku
7.         Kata-kata deiktis, seperti sini, situ, disini dan disitu
8.         Bentuk nomina lain, seperti awak, bung dan tuan
9.         Bentuk zero, tanpa kata-kata.
Kalau dikaji secara mendalam ternyata penggunaan sistem sapaan dalam bahasa Indonesia cukup ruwet, pelbagai aspek perlu dipertimbangkan untuk menggunakan salah satu kata sapaan yang tersedia. Aspek sosial budaya yang harus dipertimbangkan untuk menggunakan kata sapaan itu adalah yang disapa itu lebih tua, sederajat, lebih muda atau kanak-kanak; status sosialnya lebih tinggi, sama atau lebih rendah; situasinya formal atau tidak formal; akrab atau tidak akrab; wanita atau pria; sudah dikenal atau belum dikenal; dsb. Sehingga ragam bahasa yang akan kita gunakan berbeda-beda sesuai situasi sosiolinguistik dan budaya tertentu.
c.       Kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran berbicara kita, dan menyela perbicaraan orang lain. Kita harus berbicara mengikuti giliran dan tidak menguasai sepenuhnya perbicaraan tersebut, bagi juga ruang kepada teman-teman lain untuk memberi pandangan dan kritikan. Kita akan menyela perbicaraan apabila diberi peluang daripada teman-teman yang lain.
d.      Kapan kita harus diam. Kita harus diam berbicara apabila berlaku konflik yang merumitkan seperti kematian, upacara keagamaan, kemalangan, dan sebagainya. Dalam situasi ini kita tidak digalakkan berbicara dengan lantang bagi menjaga dan menghormati seseorang yang terbabit di dalam masalah tersebut.
Poin (c) dan (d) ini juga merupakan aturan dalam etika berbahasa perlu pula dipahami agar kita bisa disebut sebagai orang yang dapat berbahasa. Kita tidak bisa menyela seenaknya pembicaraan seseorang, untuk menyela harus diperhatikan waktunya yang tepat dan tentunya juga dengan memberikan isyarat terlebih dahulu.
e.       Bagaimana kualitas suara dan sikap fisik kita di dalam berbicara itu. Apabila kita bercakap sesama teman kita biasa menggunakan nada suara yang tinggi dan beremosi. Apabila kita berbicara dengan orang yang lebih tua daripada kita, intonasi suara lebih lembut dan bersopan.
Poin ini menyangkut masalah kualitas suara dan gerak-gerik anggota tubuh ketika berbicara. Kualitas suara berkenaan dengan volume dannada suara. Setiap budaya mempunyai aturan yang berbeda dalam mengatur volume dan nada suara. Para penutur dari Sumatera Utara dalam berbahasa Batak terlihat menggunakan volume suara yang lebih tinggi dibanding dengan para penutur bahasa Sunda dan Jawa. Selain itu, untuk tujuan-tujuan tertentu volume dan nada suara ini juga biasanya berbeda.
Gerak-gerik fisik dalam etika bertutur menyangkut dua hal, yakni yang disebut kinesik dan proksimik. Yang dimaksud dengan kinesik adalah antara lain gerakan mata, perubahan ekspresi wajah, perubahan posisi kaki gerakan tangan bahu, kepala dan sebagainya. Gerakan mata adalah alat yang sangat penting di dalam etika berbahasa. Di Amerika dalam interaksi perseorangan adalah biasa bagi pendengar untuk memperhatikan mata dan mulut si pembicara. Dengan memandang mata atau mulut si pembicara, maka si pembicara akan merasa bahwa si pendengar memperhatikan ujarannya. Di Indonesia budaya memandang mata ini tidak biasa, malah jika dilakukan lebi-(lebih-lebih oleh pendengar yang lebih muda) dianggap tidak sopan, tidak berbudaya. Bagi orang Yunani kuno gerakan kepala ke bawah berarti “ya” dan gerakan kepala ke atas berarti “tidak”. Ini berbeda dengan di Indonesia, gerakan kepala ke bawah menyatakan “ya”, sedang untuk menyatakan “tidak” adalah dengan gerakan kepala ke samping kiri dan kanan. Orang Amerika bila mengucapkan selamat tinggal disertai dengan lambaian telapak tangan ke bawah, tetapi orang-orang Eropa melakukan hal itu dengan telapak tangan ke atas disertai dengan gerakan jari-jari tangan ke muka ke belakang. Orang Jawa bila mengatakan “itu” dengan maksud menunjuk disertai dengan acungan ibu jari dan telapak tangan ke atas. Padahal orang Melayu dengan acungan telunjuk dan telapak tangan ke bawah. Orang Indian Hopi di Amerika Utara kalau menunjuk sesuatu mengatakan “yohi” sambil menunjuk dengan bibirnya waktu mengucapkan bunyi [o] dari kata “yohi” itu (Whorf: 1956), banyak lagi gerak-gerik tubuh yang harus diperhatikan dalam bertindak tutur.
Yang dimaksud dengan proksimik adalah jarak tubuh di dalam berkomunikasi atau bercakap-cakap. Dalam pembicaraan yang akrab dan tidak akrab, antara budaya yang satu dan budaya yang lain biasanya berbeda. Di Amerika Utara misalnya, dalam pembicaraan antara dua orang yang belum saling mengenal biasanya berjarak empat kaki, bila seorang mendekat, maka yang lain akan mundur untuk menjaga jarak itu. Tetapi di Amerika Latin jarak itu biasanya dua atau tiga kaki, oleh karena itu, bila orang Amerika Latin berbicara dengan orang Amerika Utara keduanya akan merasa canggung, jika si Amerika Latin maju untuk mencapai jarak yang enak baginya, maka si Amerika Utara akan mundur. Malah Miller (1974: 266) menyebutkan untuk menjaga jarak dalam berbicara dengan orang Amerika Latin, orang Amerika Utara membuat halangan dengan meja atau bangku, tetapi kadang-kadang orang Amerika Latin memanjatnya untuk mencapai jarak yang enak.
Aturan jarak dalam berbicara ini di Amerika Utara dipahami oleh semua orang mempunyai maksud tertentu. Bila dua orang Amerika berbicara dalam jarak satu kaki atau kurang, maka yang dibicarakan biasanya sangat bersifat rahasia. Pada jarak dua atau tiga kaki, maka yang dibicarakan persoalan peribadi, dan pada jarak empat atau lima kaki adalah persoalan yang nonpribadi (impersonal). Bila berbicara dengan orang banyak jaraknya biasanya antara sepuluh sampai dua puluh kaki. Lebih dari dua puluh kaki, tentunya yang bisa terjadi hanya ucapan selamat, tidak mungkin ada interaksi verbal.
Secara terpisah, kinesik dan proksimik ini merupakan alat komunikasi juga yaitu alat komunikasi non verbal atau alat komunikasi nonlinguistik, yang biasa dibedakan dengan alat komunikasi verbal atau alat komunikasi linguistik. Dalam kontak langsung, biasanya kedua alat komunkasi ini digunakan untuk mencapai kesempurnaan interaksi.
Seseorang baru disebut pandai berbahasa apabila dia menguasai tata cara atau etika berbahasa itu. Kajian mengenai etika berbahasa ini lazim deisebut etnografi berbahasa. Dalam kajian antropologi istilah etnografi digunakan untuk pemerian kebudayaan. Dalam hal ini, memang tidak bertentangan, sebab etika berbahasa itu juga merupakan subsistem kebudayaan.[7]
Butir-butir aturan dalam etika berbahasa di atas tidaklah merupakan hal yang terpisah, melainkan merupakan hal yang menyatu di dalam tindak laku berbahasa.



C.      KESIMPULAN
Kebudayaan merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.
Bahasa dan kebudayaan mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan, menurut ilmu sosiolinguistik bahasa merupakan unsur budaya dan kebudayaan umum. Bahasa sangat dipengaruhi oleh kebudayaan, segala hal yang ada dalam kebudayaan akan tercermin di dalam bahasa. Tetapi memang ada juga yang berpendapat bahwa justru bahasalah yang mempengaruhi kebudayaan, itu karena memang bahasa mempunyai peranan yang dominan dibanding unsur-unsur bahasa lain dalam membentuk kebudayaan dalam masyarakat, terlebih ketika zaman dulu yang hanya bahasalah yang menjadi kebudayaan, waktu itu unsur-unsur budaya lain belum banyak dan berkembang seperti sekarang.


Download file makalahnya DISINI



DAFTAR PUSTAKA

Abdul Chaer dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik, Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Aslinda dan Leni Syafyahya. 2014. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: PT Refika Aditama.
Lutfhi dan Mary. 2014. Makalah: Bahasa dan Kebudayaan (Kajian Sosiolinguistik). Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
http://lylamasiv.blogspot.co.id/2013/05/sosiolinguistik.html (diakses pada: 27/03/2017, pukul 22:35).
http://kodrimohd.blogspot.co.id/2012/04/etika-berbahasa.html (diakses pada: 27/03/2017, pukul 23:25).




[1] Lutfhi dan Mary, Makalah: Bahasa dan Kebudayaan (Kajian Sosiolinguistik) (Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, 2014), Hlm. 1).
[2] Aslinda dan Leni Syafyahya, Pengantar Sosiolinguistik (Bandung: PT Refika Aditama, 2014), hlm. 11.
[3] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik, Perkenalan Awal (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), hlm. 162-163).
[4] Ibid., hlm. 164-165.
[5] Ibid., hlm. 165-167.
[6] Ibid., hlm. 171.
[7] http://kodrimohd.blogspot.co.id/2012/04/etika-berbahasa.html (diakses pada: 27/03/2017, pukul 23:25).

0 Response to "Bahasa dan Kebudayaan (Hubungan Bahasa dan Kebudayaan) - Kajian Sosiolinguistik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel