MAKALAH TUGAS-TUGAS LINGUISTIK

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Umumnya kita sudah mengetahui apa itu linguistik, secara garis besar kita dapat tarik kesimpulan bahwa linguistik adalah ilmu tentang bahasa atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objeknya, kajian-kajian tentang bahasa tersebut sudah berlangsung cukup lama dari mulai linguistik tradisional sampai linguistik modern karena memang sejatinya bahasa itu berkembang, hasil dari kajian-kajian tersebut sudah dapat dirasakan manfaatnya, berupa hadirnya buku-buku yang berkaitan dengan kebahasaan seperti buku-buku tata bahasa, buku-buku linguistik, buku-buku daras kebahasaan, yang buku-buku tersebut tentunya sudah disesuaikan dengan jenjang peserta didik misalnya, atau lebih jauh adanya kurikulum kebahasaan dan lain sebagainya, manfaatnya baik untuk linguis sendiri maupun khalayak umum yang dapat memahami linguistik, dengan adanya pemahaman linguistik yang memadai tentu akan memudahkan tugas kita sehari-hari yang berkaitan dengan bahasa, seperti penerjemah, pengarang, penyusun kamus, guru bahasa dan lain sebagainya, tanpa adanya pemahaman yang memadai terhadap linguistik tentu kita akan mendapatkan kesulitan dalam menyelesaikan tugas kita.

Berkaitan dengan kajian-kajian terhadap linguistik yang berlangsung cukup lama dan dengan adanya hasil dari kajian-kajian tersebut, tentu disana ada peranan yang sangat besar yang dilakukan oleh para linguis dan sebagai adanya indikasi dari penyelesaian tugas-tugasnya, karena itu kiranya kita layak mengapresiasi juga mengetahui apa peranan atau tugas-tugas linguis dalam kaitannya dengan kajian terhadap bahasa.

B. Rumusan Masalah
Mengingat keterbatasan kemampuan dan waktu yang dimiliki oleh penulis, maka makalah ini akan difokuskan pada Tugas-Tugas Linguistik Dikaitkan dengan Komparasi Terhadap Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab dari Segi Pengajarannya, dari pembatasan masalah tersebut dapat dirumuskan beberapa permasalahan, diantaranya:
1. Apa itu tugas linguistik
2. Apa saja tugas linguis dalam kajiannya terhadap bahasa
3. Bagaimana contoh penerapannya dalam pengajaran bahasa

C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah untuk:
1. Memahami apa itu tugas linguistik
2. Mengetahui tugas-tugas linguis dalam kajiannya terhadap bahasa
3. Mengetahui contoh penerapannya dalam pengajaran bahasa



BAB II
TUGAS TUGAS LINGUISTIK

Dalam bab sebelumnya kita sudah mengetahui bahwa linguistik adalah sebagai ilmu, sebagai cirinya yaitu dalam penelitian tentang bahasa tidak berhenti hanya sampai pada tahap spekulasi tetapi  juga adanya tahap obervasi dan klarifikasi serta tahap perumusan teori berupa memahami dan mengajukan berbagai masalah bahasa berdasarkan data yang empiris.

Dalam bab ini kita akan membahas tugas-tugas linguistik, maksudnya tugas-tugas para Linguis dalam memahami bahasa sehingga menjadi linguistik (ilmu bahasa).

Dalam kaitannya linguistik sebagai ilmu, para Ilmuan umumnya sepakat bahwa tugas linguistik ada tiga tahap, yaitu:
1. Tugas deskriptif dan eksplanatif
2. Tugas prediktif dan pengembangan
3. Tugas kontrol
Ketiga tugas ilmu tersebut kita lihat penerapannya dalam linguistik, karena linguistik sudah menjadi ilmu maka mau tidak mau harus melalui tiga tahapan tersebut, yakni:

1. Tugas Deskriptif dan Eksplanatif
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) deskriptif dan eksplanatif yaitu menggambarkan dan menjelaskan apa adanya. Disini tugas para linguis haruslah menjelaskan satu bahasa, dwi bahasa atau multi bahasa secara kompleks dan komprehensif.

Sebagai contoh dalam mendeskripsikan dwi bahasa, Bahasa Indoenesia dan Bahasa Arab, para Linguis haruslah menjelaskan kedua bahasa tersebut secara detail dan menyeluruh, termasuk adanya kesamaan dan perbedaan diantara kedua bahasa tersebut, misal dalam aspek fonologi, morfologi, sintaksis dan lain sebagainya.

Contoh kecil dalam hal sistematika penulisan, kedua bahasa ini yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab berbeda, penulisan Bahasa Indonesia dimulai dari kiri sedangkan Bahasa Arab dimulai dari kanan.

Dalam hal i’rab, di dalam Bahasa Indonesia tidak dijumpai perihal i’rab atau harkat huruf akhir sedangkan dalam Bahasa Arab ada yang namanya i’rab, berupa rofa, nashab, hofadz dan jazm.

Dalam hal jama’, didalam Bahasa Indonesia jama’ atau plural hanya tinggal mengulang kata atau menambah kata para, seperti: buku-buku linguistik dan para Linguis dsb., sedangkan dalam Bahasa Arab pembahasan jama’ lebih kompleks, seperti adanya jama mudzakar salim, jama muanats salim, jama taksir dan sebagainya, bagaimana penulisannya, bagaimana keadaannya ketika rofa, nashab atau hofadz, belum lagi jama taksir yang lebih pada sima’i yaitu jama’ yang sistematikanya disandarkan pada apa yang sudah lumrah didengar dalam artian banyak yang tidak beraturan, dan contoh-contoh lain yang berkaitan dengan bahasa yang sangat banyak dan luas.

Setelah para linguis mendeskripsikan perbedaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab, jika para Linguis ingin mengaitkannya dalam pengajaran Bahasa Arab Bagi pelajar Indonesia misalnya, para Linguis haruslah menerangkannya dalam bentuk pertanyaan atau konsep, contoh:
1. Apakah anak-anak sudah pantas diberikan materi tentang menulis kalimat Bahasa Arab.
2. Apakah materi i’rab dan jama’ ini sederhana atau rumit, bagaimana kalau diajarkan kepada anak-anak.
3. Bagaimana metode pengajaran cara menulis kalimat Bahasa Arab, i’rab dan jama’, terlebih untuk berbagai jenjang peserta didik.

2. Tugas Prediktif dan Pengembangan
Prediktif adalah menduga-duga atau memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya, setelah itu dilakukan adanya pengembangan, tugas prediksi ini tentunya setelah gejala-gejala yang ada diamati dengan seksama dan disimpulkan. Kesimpulan ini lalu dijadikan titik tolak para Linguis untuk memprediksi atau berhipotesa, demikianlah sifat ilmu: satu hipotesa setelah diuji kebenarannya menjadi satu  teori (tesa). Tesa ini dijadikan landasan untuk menyusun hipotesa verikutnya. Ini terus berputar. Inilah sifat daur ulang (recycling) dalam ilmu pengetahuan termasuk Linguistik.

Setelah para Linguis mengetahui perbedaan Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia, dalam taraf aplikatifnya jika orang Indonesia ingin mempelajari Bahasa Arab maka para Linguis sudah memprediksi kesulitan-kesulitan yang akan dialami oleh pelajar Indonesia.

Contoh yang tadi dalam  hal sistematika penulisan Bahasa Indonesia yang dimulai dari kiri berbeda dengan Bahasa Arab yang dimulai dari kanan, pelajar Indonesia yang ingin mempelajari Bahasa Arab tentu akan mengalami kesulitan dalam hal ini bisa dikarenakan sulit atau tidak terbiasanya menulis dengan sistematika Bahasa Arab tersebut.

Dalam hal i’rab dan jama’, tentu istilah itu berbeda dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab, di dalam Bahasa Indonesia tidak ada yang namanya i’rab atau harkat huruf akhir, dan dalam perihal jama’ dalam Bahasa Indonesia sederhana saja sedangkan dalam Bahasa Arab lebih rumit dan kompleks, tentu ini akan menjadi kesulitan bagi pelajar Indonesia yang ingin mempelajari Bahasa Arab dan bahkan bukan tidak mungkin ini akan menjadi kesulitan yang besar.

Dari deskripsi dwi bahasa yang telah diurai dan prediksi yang telah diawang-awang namun tentunya bukan tanpa didasari data-data yang empiris, barangkali simpulan prediksi tersebut dapat dikonsepkan sebagai berikut:
1. Anak-anak pada tahap tertentu akan mendapatkan kesulitan dalam menulis kalimat Bahasa Arab juga dalam sistematika penulisannya.
2. Bagi jenjang pemula mempelajari i’rab atau jama’ akan mengalami kesulitan karena kerumitan dan kekompleksanannya materi.
3. Kiranya pengajaran bahasa bagi jenjang pemula akan lebih berhasil bila materi yang disajikan disusun dari yang sederhana ke materi yang lebih kompleks.

3. Tugas Kontrol
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kontrol adalah pengawasan, pemeriksaan dan pengendalian.
Sejatinya semua ilmu apapun jenisnya tak terkecuali linguistik pada akhirnya akan bermuara pada dua hal, yaitu:
1. Mencapai hal-hal yang diinginkan
2. Menghindari atau mengendalikan hal-hal yang tidak diinginkan

Setelah para Linguis mengetahui gejala-gejala yang ada dalam satu bahasa, dwi bahasa atau multi bahasa lalu gejala-gejala tersebut diamati dan disimpulkan lalu timbullah praduga-praduga yang hanya berbentuk konsep atau pertanyaan, terakhir para Linguis mengontrol atau mengendalikan problema-problema yang ada kaitannya dengan bahasa dalam artian menjawab praduga-praduga yang berkaitan dengan kebahasaan tersebut, oleh karenanya tugas kontrol ini akan memakan banyak waktu dan prosesnya akan bertahap sampai pada akhirnya akan membuahkan hasil berupa buku-buku kebahasaan yang disesuaikan dengan jenjang peserta didik misalnya, sampai pada membuahkan krikulum kebahasaan.
Bila kita melihat contoh tadi mengenai deskripsi dwi bahasa, antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab, deskripsinya seperti ini:
1. Apakah anak-anak sudah pantas diberikan materi tentang menulis kalimat Bahasa Arab.
2. Apakah materi i’rab dan jama’ ini sederhana atau rumit, bagaimana kalau diajarkan kepada anak-anak.
3. Bagaimana metode pengajaran cara menulis kalimat Bahasa Arab, i’rab dan jama’, terlebih untuk berbagai jenjang peserta didik.
Lalu ada prediksi seperti ini:
1. Anak-anak pada tahap tertentu akan mendapatkan kesulitan dalam menulis kalimat Bahasa Arab juga dalam sistematika penulisannya.
2. Bagi jenjang pemula mempelajari i’rab atau jama’ akan mengalami kesulitan karena kerumitan dan kekompleksanannya materi.
3. Kiranya pengajaran bahasa bagi jenjang pemula akan lebih berhasil bila materi yang disajikan disusun dari yang sederhana ke materi yang lebih kompleks.
Terakhir adalah kontrol, yaitu di satu sisi bagaimana caranya materi Bahasa Arab tersebut sampai pada peserta didik, namun di sisi lain bagaimana menghindari dan mengandalikan kesulitan-kesulitan materi atau penyampaian Bahasa Arab tersebut, dalam kondisi ini yang paling banyak berperan adalah guru bahasa, buku pelajaran, teknik penyampaian dan lain sebagainya, kondisi inilah yang harus banyak dimainkan oleh para Linguis/ahli bahasa, untuk mencapai hal tersebut kiranya langkah-langkah berikut ini akan ditempuh:
1. Guru mengetahui dan memahami persamaan dan perbedaan di kedua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab, terlebih yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan.
2. Guru tidak mengajarkan menulis kalimat Bahasa Arab secara sempurna pada jenjang pemula seperti TK, SD kelas satu dan kelas dua dsb., tetapi lebih pada mendengarkan dan diajak bicara semampunya, selanjutnya guru mulai mengajarkan menulis kalimat Bahasa Arab pada jenjang yang dianggap cukup seperti SD kelas empat, kelas lima, kelas enam, SMP dan seterusnya.
3. Dalam mempelajari i’rab dan jama’ itu guru mengajarkannya pada jenjang yang lebih tinggi lagi, misalnya SMA, Kuliah dan seterusnya.
4. Penyusunan buku-buku pelajaran dikondisikan sedemikian rupa supaya dapat memperhatikan perbedaan-perbedaan tadi. Dengan demikian penyajian materi dalam buku itu akan disusun bertingkat dari yang mudah ke yang sukar, dan bagian-bagian yang berbeda tadi akan mendapatkan penekanan khusus dalam buku tersebut. Dengan demikian para pemakai buku tersebut akan merasa tidak dipersulit oleh buku tersebut dan sebagainya.


.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Kajian-kajian terhadap bahasa sudah berlangsung cukup lama dari kajian linguistik tradisional sampai kajian linguistik modern hingga membuahkan hasil dan manfaat yang tidak sedikit bagi masyarakat, adanya buah karya linguistik tentu tidak lepas dari peranan yang sangat besar dari para Linguis atau para pengkaji bahasa, juga hal tersebut merupakan indikasi dari para pengkaji bahasa dalam menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai Linguis, diantara tugas-tugas tersebut ada tiga tahapan, yaitu:
1. Tugas deskriptif dan eksplanatif
2. Tugas prediktif dan pengembangan
3. Tugas kontrol

B. Saran
Kami berharap kepada para pembaca agar mampu mengembangkan lebih jauh tentang tugas-tugas linguistik. Dalam hal ini kami juga berharap semoga makalah ini bermanfaat dan dapat dijadikan bahan referensi pada penulisan yang lain. Namun untuk hal-hal yang kurang sempurna kami mohon maaf dan semoga pembaca bisa melengkapi dan menyempurnakan yang belum sempurna.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Chaer. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
A. Chaedar Alwasilah, Linguistik Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.
W.J.S. Purwadaminta. 1985. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
http://tugas-tugaslingustik.blogspot.co.id/2011/10/tugas-tugas-linguistik.html

0 Response to "MAKALAH TUGAS-TUGAS LINGUISTIK"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel