ALIRAN-ALIRAN DALAM LINGUISTIK



BAB I
PENDAHULUAN
Pendahuluan
Linguistik dewasa ini berkembang dengan pesat. Perkembangan tersebut dapat dilihat dari kian banyaknya teori dan penelitian yang telah dihasilkan serta munculnya bermacam gerakan dan aliran. Perkembangan teori-teori tersebut merata pada pelbagai cabang-cabang linguistik, seperti pada fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, juga pragmatik. Bukan itu saja, penelitian-penelitian yang dilahirkan dari perkembangan teori tersebut pula semarak dan tumbuh bak jamur di musim hujan. Perkembangan teori dan makin banyaknya penelitian yang dihasilkan itu tidak terlepas dari gerakan dan aliran yang memayungi dan  menyemarakkan dunia linguistik. Diantara aliran-aliran tersebut adalah aliran linguistik tradisional, struktural dan transformasional. Apa yang dimaksud dengan aliran linguistik tradisional, struktural dan transformasional tersebut?
Dengan hal tersebut kami susun materi aliran-aliran dalam linguistik ini berikut sejarah dan perkembangan, paham, ciri serta keunggulan dan kelemahannya secara umum dan sangat singkat, tujuannya untuk menambah wawasan pembaca mengenai aliran-aliran dalam linguistik.
Bahasan dalam Tulisan ini:
1. Mengetahui dan memahami sejarah dan perkembangan, tokoh, teori, ciri serta keunggulan dan kelemahann linguistik tradisional
2. Mengetahui dan memahami sejarah dan perkembangan, tokoh, teori, ciri serta keunggulan dan kelemahann linguistik struktural
3. Mengetahui dan memahami sejarah dan perkembangan, tokoh, teori, ciri serta keunggulan dan kelemahann linguistik transformasional.
Manfaat dan kegunaan pembahasan
Adapun manfaat dan kegunaannya adalah untuk menambah wawasan tentang aliran-aliran yang ada dalam linguistik dan juga memudahkan kita dalam membuat sebuah tulisan sesuai dengan tujuan dan maksud yang telah disampaikan.



ALIRAN-ALIRAN DALAM LINGUISTIK
Studi linguistik mengalami 3 tahap perkembangan, yaitu:
1.      Tahap spekulasi
Pada tahap spekulasi pernyataan-pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada data empiris, melainkan pada dongeng atau cerita rekaan belaka.
Contoh: Andreas Kemke (seorang ahli filologi dari Swedia pada abad ke-17) menyatakan bahwa Nabi Adam dulu di surga berbicara dalam bahasa Denmark, sedangkan ular berbicara dalam bahasa Prancis.
2.      Tahap observasi dan klasifikasi
Pada tahap observasi dan klasifikasi para ahli bahasa mengadakan pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki, tetapi belum sampai pada merumuskan teori (belum ilmiah).
3.      Tahap perumusan teori.
Pada tahap perumusan teori, bahasa yang diteliti tidak hanya diamati dan diklasifikasi tetapi juga telah dibuatkan teori-teorinya.
            Dalam sejarah perkembangan linguistik dipenuhi berbagai aliran, paham, pendekatan dan teknik penyelidikan, berikut akan dibahas sejarah, perkembangan, paham dan beberapa aliran linguistik dari zaman purba sampai zaman mutakhir secara singkat dan umum.

1.      LINGUISTIK TRADISIONAL
Dalam linguistik tradisional ada dua istilah yang sering dipertentangkan yaitu Istilah tradisional dan istilah struktural, sehingga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa struktural, keduanya bertentangan karena pendekatan yang digunakannya tidak sama terhadap hakikat bahasa.
Ø  Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik.
Contoh: tata bahasa tradisional menyatakan bahwa kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian.
Ø  Tata bahasa struktural menganalisis bahasa berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam bahasa tertentu.
Contoh: tata bahasa struktural menyatakan bahwa kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi dengan frase “dengan....”.
            Terbentuknya tata bahasa tradisional telah melalui masa yang sangat panjang, dari zaman ke zaman, mulai zaman Yunani sampai menjelang munculnya linguistik modern sekitar akhir abad ke-19.
  1. Linguistik Zaman Yunani (Abad ke-5 S.M. – Abad ke-2M / 600 Tahun)
Studi bahasa zaman ini memperdebatkan antara (1) antara fisis (alami) dan nomos (konvensi), dan (2) antara analogi (teratur) dan anomali (tidak teratur).
  1. Fisis dan nomos
a.       Fisis atau alami maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri, oleh karena itu tidak dapat ditolak.
Contoh: kata-kata yang disebut onomatope atau kata yang terbentuk berdasarkan peniruan bunyi.
b.      Nomos atau konvensi maksudnya makna-makna itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.
Onomatope menurut kaum ini hanya suatu kebetulan saja, sebagian besar konsep benda, sifat dan keadaan yang sama diungkapkan dalam bentuk yang berbeda.
  1. Analogi dan anomali
a.       Analogi (Plato dan Aristoteles) maksudnya bahwa bahasa itu bersifat teratur.
Contoh:

Bahasa inggris

Bahasa Arab

Tunggal
Jamak
Mufrad
Tasniyah
Jama’

Boy
Boys
مسلم
مسلمان
مسلمون

Girl
Girls
معلم
معلمان
معلمون


b.      Anomali maksudnya bahwa bahasa itu tidak teratur

Bahasa inggris

Bahasa Arab

Tunggal
Jamak
Mufrad
Jama’

Child
Children
امرأة
نساء
Jadi:
Ø  Kaum anomali sejalan dengan kaum naturalis/fisis
Ø  Kaum analogi sejalan dengan kaum konvensional/nomos
            Dalam studi bahasa pada zaman ini ada beberapa kaum atau tokoh yang mempunyai peranan besar, diantaranya:
  1. Kaum Sophis
Kaum ini muncul pada abad ke-5 SM dan dikenal dalam studi bahasa, karena:
a.       Mereka melakukan kerja secara empiris
b.      Mereka melakukan kerja secara pasti dengan menggunakan ukuran-ukuran tertentu
c.       Mereka sangat mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa
d.      Mereka membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna.
Diantara tokoh kaum ini adalah:
1.      Protagoras: membagi kalimat menjadi kalimat narasi, kalimat Tanya, kalimat jawab, kalimat perintah, kalimat laporan, do’a dan undangan.
2.      Georgias: membicarakan gaya bahasa
  1. Plato (429 – 347 S.M.)
Plato dikenal dalam studi bahasa karena :
  1. Memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya Dialoog. Juga masalah bahasa alamiah dan konvensional.
  2. Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantara onomata dan rhemata.
  3. Dialah orang pertama kali membedakan kata dalam onoma dan rhema.
Maksud onoma dan rhemata adalah:

Onoma/onomata
Rhema/rhemata
Dalam bahasa sehari-hari
Sebagai nama
Sebagai ucapan
Dalam istilah tata bahasa
Sebagai nomina/nominal
Sebagai verba
Dalam hubungan subjek logis
Sebagai subjek
Sebagai predikat

  1. Aristoteles (384 – 322 S.M.)
Dia salah seorang murid Plato dikenal dalam studi bahasa, karena:
  1. Ia menambahkan satu kelas kata lagi yaitu dengan Syndemoi, yang dimaksud syndesmoi adalah kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis. Jadi, syndesmoi itu kurang lebih sama dengan kelas preposisi dan konjungsi yang dikenal sekarang.
  2. Ia Membedakan jenis kelamin kata menjadi tiga yaitu maskulin, feminin dan neutrum.
  1. Kaum Stoik
Kaum ini adalah kelompok ahli filsafat yang berkembang pada permulaan abad ke 4 S.M. dalam studi bahasa mereka terkenal karena :
a.       Mereka membedakan studi bahasa secara logika dan tata bahasa.
b.      Mereka menciptakan istilah-istilah khusus untuk studi bahasa.
c.       Mereka membedakan tiga komponen utama studi bahasa, yaitu: 1) tanda, simbol, sign, atau semainon; (2) makna, apa yang disebut, smainomen/lekton; (3) hal-hal di luar bahasa yakni benda-benda atau situasi.
d.      Mereka membedakan legein, yaitu bunyi yang merupakan bagian fonologi tetapi tidak bermakna dan propheretal yaitu ucapan bunyi bahasa yang mengandung makna.
e.       Mereka membagi jenis kata menjadi empat, yaitu kata benda, kata kerja, syndesmoi, dan arthoron, yaitu kata-kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah.
f.       Membedakan adanya kata kerja komplet dan kata kerja tak komplet. Serta kata kerja aktif dan pasif.

  1. Kaum Alexandrian
Kaum ini dalam studi bahasanya menganut paham analogi. Mereka mewariskan sebuah buku tata bahasa yang disebut tata bahasa Dionysius thrax sebagai hasil dari penyelidikan kereguleran bahasa Yunani. Buku tersebut lahir kurang lebih tahun 100 S.M.. buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Remmius Palaemon pada permulaan abad pertama masehi dengan judul Ars Grammatika. Buku ini kemudian dijadikan model dalam penyusunan buku tata bahasa Eropa lainnya. Jadi, cikal bakal tata bahasa tradisional itu berasal dari buku Dionysius thrax.

  1. Zaman Romawi
Studi bahasa pada zaman Romawi merupakan kelanjutan dari zaman Yunani. Tokoh pada zaman Romawi yang terkenal antara lain, Varro (116-27 SM) dengan karyanya De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.
1.      Varro dan De “Lingua Latina”
Varro dalam bukunya yang berjudul De Lingua Latina masih membahas masalah analogi dan anomali seperti pada zaman Stoik di Yunani. Buku De Lingua Latina terdiri dari 25 jilid. Buku ini dibagi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi, sintaksis.
  1. Etimologi,  adalah  cabang  linguistik  yang  menyelidiki  asal -usul  kata  beserta artinya.
Varro mencatat adanya:
1.      Perubahan bunyi yang terjadi dari zaman ke zaman
 Contoh: kata deulleum menjadi belum yang artinya perang
2.      Perubahan makna kata
Contoh: kata hostis yang semula artinya “orang asing” berubah menjadi “musuh”.
  1. Morfologi,  adalah  cabang  linguistik  yang  mempelajari  kata  dan pembentukannya.
Menurut Varro kata adalah bagian dari ucapan yang tidak dapat dipisahkan lagi, dan merupakan bentuk minimum. Menurutnya pula dalam bahasa latin ada kata-kata yang terjadi secara analogi dan ada kata-kata yang terjadi secara anomali.
Varro membagi kelas kata menjadi 4 bagian:
1.      Kata benda termasuk kata sifat
2.      Kata kerja, ada kata kerja aktif dan pasif
3.      Partisipel
4.      Adverbium

2.      Institutiones Grammaticae atau tata bahasa priscia
Tata bahasa Priscia dianggap sangat penting karena merupakan buku tata bahasa Latin paling lengkap yang dituturkan pembicara aslinya dan teori-teori tata bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.
Beberapa bidang yang dibicarakan dari buku tersebut, antara lain:
a.       Fonologi, dalam bidang ini yang pertama dibicarakan adalah huruf (litterae), menurutnya huruf adalah bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan. Nama-nama huruf disebut figurae, sedangkan nilai bunyi disebut potestas.
b.      Morfologi, bidang ini membicarakan kata (dictio), menurutnya kata adalah bagian minimum dari sebuah ujaran dan harus diartikan terpisah dalam makna sebagai satu keseluruhan. Jenis kata dibedakan menjadi 8:
1.      Nomen, yaitu kata benda dan kata sifat
2.      Verbum, yaitu kata yang menyatakan perbuatan atau dikenai perbuatan
3.      Participum, yaitu kata yang selalu berdeviasi dari verbum, mengambil kategori verbum dan nomen
4.      Pronomen,yaitu kata-kata yang dapat menggantikan nomen
5.      Adverbium, yaitu kata-kata yang secara sintaksis dan semantic merupakan atribut verbum
6.      Praepositio, yaitu kata-kata yang terletak di depan bentuk yang berkasus
7.      Interjection, yaitu kata-kata yang menyatakan perasaan, sikap atau pikiran
8.      Conjunction, yaitu kata-kata yang bertugas menghubungkan anggota-anggota kelas kata yang lain untuk menyatakan hubungan sesamanya.
c.       Sintaksis, bidang ini membicarakan oratio, yaitu tata susunan kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai. Kata bisa menjadi sebuah kalimat penuh, misal dalam kalimat jawaban singkat.

  1. Zaman Pertengahan
Studi bahasa pada zaman pertengahan di Eropa mendapat perhatian penuh terutama oleh filsuf skolastik dan bahasa Latin menjadi Lingua Franca karena dipakai sebagai bahasa gereja.
Di zaman pertengahan ini ada beberapa peranan yang patut dibicarakan, antara lain adalah:
1.      Peranan kaum modistae
Ø  Mereka masih membicarakan masalah fisis dan nomos serta analogi dan anomali
Ø  Mereka menerima konsep analogi
Ø  Mereka memperhatikan semantik sebagai dasar penyebutan definisi-definisi bentuk-bentuk bahasa
Ø  Mereka mencari sumber makna. Sehingga akhirnya dizaman ini berkembang pula bidang etimologi.
2.      Peranan tata bahasa spekulativa
Tata bahasa spekulativa merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin (seperti yang dirumuskan oleh Priscia) ke dalam filsafat skolastik.
Diantara hal yang dibicarakan dalam tata bahasa ini adalah kata, bahwa kata itu tidak secara langsung mewakili alam dari benda yang ditunjuk. Kata hanya mewakili hal adanya benda itu dalam berbagai cara, modus, substansi, aksi, kualitas dsb.
3.      Peranan Petrus Hispanus
Ø  Dia telah memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa dan membedakan signifikasi utama dan konsignifikasi, yaitu pembedaan pengertian pada bentuk akar dan pengertian yang dikandung oleh imbuhan-imbuhan.
Ø  Dia telah membedakan nomen atas dua macam, yaitu nomen substantivum dan adjectivum
Ø  Dia telah membedakan partes orations atas categorematik dan syntategorematik. Categorematik adalah semua bentuk yang dapat menjadi subjek atau predikat, sedangkan syntategorematik adalah semua bentuk tutur lainnya.
  1. Zaman Renaisans
Zaman Renaisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad modern. Dalam sejarah  studi  bahasa  ada  dua  hal  pada  zaman  Renaisans  yang menonjol  yang perlu dicatat,  yaitu:
1.      Selain  menguasai  bahasa  Latin  sarjana-sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani dan bahasa Arab.
2.      Selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani dan Arab bahasa-bahasa Eropa lain juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusulan tata bahasa dan malah juga perbandingan.

  1. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern
Masa antara lahirnya linguistik modern dengan masa berakhirnya zaman renaisans terdapat satu tonggak yang sangat penting dalam sejarah studi bahasa. Tonggak yang sangat penting itu adalah dinyatakannya adanya hubungan kekerabatan antara bahasa Sansekerta dengan bahasa-bahasa Yunani, Latin, dan bahasa Jerman lainnya yang telah membuka babak baru sejarah linguistik, yakni dengan berkembangnya studi linguistik bandingan atau linguistik historis komparatif, serta studi mengenai hakekat bahasa secara linguistik terlepas dari masalah filsafat Yunani Kuno. 
Bila disimpulkan, pembicaraan mengenai linguistik tradisional dapat dikatakan bahwa:
1.      Pada tata bahasa tradisional ini, tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan. Oleh karena itu, deskripsi bahasa hanya bertumpu pada tulisan.
2.      Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain, terutama bahasa Latin.
3.      Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara perspektif, yakni benar atau salah.
4.      Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsikan dengan melibatkan logika.
5.      Penemuan-penemuan terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.


Ciri, Keunggulan dan Kelemahan Linguistik Tradisional

  1. Ciri-ciri Linguistik Tradisional
Ciri-ciri Linguistik tradisional menurut Soeparno (2002: 44) adalah sebagai berikut:
1.      Bertolak dari Pola Pikir secara Filosofis.
Ada dua hal yang menjadi bukti bahwa aliran Tradisional menggunakan landasan/pola pikir filsafat ialah banyaknya pembagian jenis kata yang bersumber dari onoma-rhema produk Plato dan onoma-rhema-syndesmoi produk Aristoteles; dan penggunaan istilah subjek dan predikat yang sampai saat ini menjadi materi utama dalam pembelajaran bahasa di sekolah.
2.      Tidak Membedakan Bahasa dan Tulisan.
Teori ini mencampuradukkan pengertian bahasa (dalam arti yang sebenarnya) dan tulisan (perwujudan bahasa dengan media huruf). Dengan demikian, secara otomatis juga mencampuradukkan pengertian bunyi dan huruf. Sebagai bukti seorang ahli bahasa mencampuradukkan pengertian tersebut dapat dibaca pada kutipan “Antara vocal-vokal itu, huruf a adalah yang membentuk lubang mulut yang besar, i yang kecil, e biasanya terbentuk di dalam mulut sebelah muka, dan o di belakang sebelah ke dalam” (Mees dalam Soeparno, 2002: 44)
3.      Senang Bermain dengan Definisi.
Ciri ini merupakan pengaruh dari cara berpikir secara deduktif. Semua istilah diberi definisi terlebih dahulu kemudian diberi contoh, yang kadang-kadang hanya ala kadarnya. Teori ini tidak pernah menyajikan kenyataan-kenyataan bahasa yang kemudian dianalisis dan disimpulkan. Yang paling utama adalah memahami istilah dengan menghapal definisi yang dirumuskan secara filosofis.
4.      Pemakaian Bahasa Berkiblat pada pola/kaidah.
Ketaatan pada pola ini diwarisi sejak para ahli tata bahasa tradisional mengambil alih pola-pola bahasa latin untuk diterapkan pada bahasa mereka sendiri. Kaidah bahasa yang telah mereka susun dalam suatu bentuk buku tata bahasa harus benar-benar ditaati oleh pemakai bahasa. Setiap pelanggaran kaidah dinyatakan sebagai bahasa yang salah atau tercela. Pengajaran bahasa di sekolah mengajarkan bahasa persis yang tercantum di dalam buku tata bahasa. Praktik semacam itu mengakibatkan siswa pandai dan hafal teori-teori bahasa akan tetapi tidak mahir berbicara atau berbahasa di dalam kehidupan masyarakat. Tata bahasa yang mereka pakai itu biasa disebut tata bahasa normative dan tata bahasa preskriptif.
5.      Level-level Gramatik Belum Ditata Secara Rapi.
Level (tataran) yang terendah menurut teori ini adalah huruf. Level di atas huruf adalah kata, sedangkan level yang tertinggi adalah kalimat. Menurut teori ini, huruf didefinisikan sebagai unsur bahasa yang terkecil, kata didefinisikan sebagai kumpulan dari huruf yang mengandung arti, sedangkan kalimat didefinisikan sebagai kumpulan kata yang mengandung arti lengkap. 
6.      Tata Bahasa Didominasi oleh Jenis Kata (Part of Speech)
Ciri ini merupakan ciri yang paling menonjol di antara ciri-ciri yang lain. Hal ini dapat dimengerti Karena masalah penjenisan kata merupakan aspek linguistik yang paling tua dalam sejarah kajian linguistik.

  1. Keunggulan dan Kelemahan Linguistik Tradisional
1.      Keunggulan
  1. Teori tradisional lebih tahan lama karena pola pikir aliran ini bertolak dari pola pikir filsafat.
  2. Aliran ini berkiblat pada bahasa tulis baku, maka keteraturan penggunaan bahasa bagi para penganutnya amat dibangggakan.
  3. Aliran tradisional mampu menghasilkan generasi yang mempunyai kepandaian dalam menghafal istilah karena salah satu ciri aliran ini senang bermain dengan definisi.
  4. Aliran tradisional menjadikan penganutnya memiliki pengetahuan tata bahasa yang cukup tinggi karena pemakaian bahasa berkiblat pada pola atau kaidah.
  5. Aliran ini telah memberikan kontribusi besar terhadap penegakan prinsip: “yang benar adalah benar walaupun tidak umum, dan yang salah adalah salah walaupun banyak pengikutnya”.
2.      Kelemahan
  1. Teori tradisional belum bisa membedakan bahasa dan tulisan sehingga pengertian antara bahasa dan tulisan masih kacau.
  2. Teori ini tidak pernah menyajikan kenyataan bahasa yang kemudian dianalisis dan disimpulkan, yang paling utama adalah memahami istilah dengan menghafal definisi yang dirumuskan secara filosofis.
  3. Pemakaian bahasa berkiblat pada pola atau kaidah sehingga siswa pandai dan hafal teori-teori bahasa akan tetapi tidak mahir sama sekali berbicara atau berbahasa didalam kehidupan masyarakat.
  4. Level-level gramatikalnya belum rapi hanya tiga level yang secara pasti ditegakkan, yakni huruf, kata, dan kalimat.
  5. Pemerian bahasa menggunakan pola bahasa latin yang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia.
  6. Pemerian bahasa berdasarkan bahasa tulis baku padahal bahasa tulis baku hanya merupakan sebagian dari ragam bahasa yang ada.
  7. Permasalahan tata bahasa masih banyak didominasi oleh permasalahan jenis kata(part of speech), sehingga ruang lingkup permasalahan masih sangat sempit.
  8. Objek kajian hanya sampai dengan level kalimat, sehingga tidak memungkinkan menyentuh aspek komunikatif.

2.      LINGUISTIK STRUKTURAL
Linguistik struktural berusaha mendiskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Hal ini merupakan kaibat dari konsep-konsep atau pandangan-pandangan baru terhadap bahasa dan studi bahasa yang dikemukakan oleh bapak Linguistik Modern, yaitu Ferdinand de Saussure.
  1. Ferdinand de Saussure (1857 – 1913)
Dia dianggap  sebagai  Bapak  Linguistik  modern  berdasarkan  pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique yang disusun dan diterbitkan  oleh  Charles  Bally  dan  Albert  Schehay  tahun  1915  (jadi  dua  tahun setelah Saussure meninggal).
Buku tersebut memuat mengenai konsep:
1.      Telaah sinkronik dan diakronik
a.       Telaah bahasa sinkronik adalah mempelajari  suatu  bahasa  pada  suatu  kurun  waktu tertentu saja.
Contoh: Mempelajari Bahasa Indonesia yang digunakan pada zaman Jepang.
b.      Telaah bahasa diakronik adalah telaah bahasa sepanjang masa atau sepanjang zaman bahasa itu digunakan oleh penuturnya.
Jadi, kalau mempelajari Bahasa Indonesia secara diakronik harus menelaah bahasa yang dimulai sejak zaman Sriwijaya sampai zaman sekarang.
2.      Perbedaan langue dan parole
a.       La langue adalah keseluruhan  sistem  tanda  yang  berfungsi  sebagai  alat komunikasi verbal antara anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak.
b.      La parole adalah pemakaian atau releasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa. Sifatnya konkret karena parole tidak lain dari realitas fisis yang berbeda dari orang yang satu dengan orang yang lain.
Jadi, dalam hal ini yang menjadi objek telaah linguistik adalah langue yang dilakukan melalui parole, karena parole itu merupakan wujud bahasa yang konkret
3.      Perbedaan signifiant dan signifie
Ferdinand de Saussure mengemukakan teori bahwa setiap tanda linguistic dibentuk oleh dua komponen, yaitu:
a.       Signifiant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita.
b.      Signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita
Jadi, signifie itu adalah maknanya, sedangkan signifiant itu adalah bunyi bahasanya dalam bentuk urutan fonem-fonem tertentu
4.      Hubungan sintagmatik dan paradikmatik
a.       Hubungan sintagmatik adalah  hubungan antara  unsur-unsur  yang  terdapat  dalam  suatu  tuturan,  yang tersusun secara berurutan, bersifat linear.
Hubungan sintagmantik ini terdapat dalam tataran fonologi, morfologi maupun sintaksis.
Ø  Pada tataran fonologi tampak pada urutan fonem-fonem pada sebuah kata yang tidak dapat diubah tanpa merusak makna itu, apabila kata itu diubah urutan fonem-fonemnya maka akan berubah maknanya atau tidak bermakna sama sekali.
Contoh:   k ßà i ßà t ßà a
                k      i      a      t
                k      a      t      i
                k      a      i      t
                i      k      a      t
Ø  Pada tataran morfologi tampak pada urutan morfem-morfem pada suatu kata, yang juga tidak dapat diubah tanpa merusak makna dari kata tersebut. Ada kemungkinan maknanya berubah tetapi ada kemungkinan pula tak bermakna sama sekali.
Contoh:   Kata segitiga tidak sama dengan tigasegi
                Kata barangkali tidak sama dengan kalibarang
                Kata tertua tidak sama dengan tauter.
Ø  Pada tataran sintaksis tampak pada urutan kata-kata yang mungkin dapat diubah, tetapi mungkin juga tidak dapat diubah tanpa mengubah makna kalimat tersebut, atau menyebabkan tak bermakna sama sekali.
Contoh:   - Urutan katanya bisa diubah tanpa mengubah makna kalimat:
                Hari ini barangkali dia sakit
                Barangkali dia sakit hari ini
                Dia sakit hari ini barangkali
                Dia sakit barangkali hari ini
-          Urutan katanya diubah menyebabkan makna kalimatnya berubah:
Nita melihat Dika
Dika melihat Nita
Ini bir baru
Ini baru bir
b.      Hubungan paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan.
Hubungan paradigmatik dapat dilihat dengan cara substitusi, baik pada tataran:
Ø  Fonologi
Contoh: Hubungan antara bunyi /r/,/k/,/b/,/m/, dan /d/ yang terdapat pada kata-kata rata, kata, bata, mata dan data.
Ø  Morfologi
Contoh: Hubungan antara prefiks me-, di-, pe- dan te- yang terdapat pada kata-kata merawat, dirawat, perawat dan terawat.
Ø  Sintaksis
Contoh: Hubungan antara kata-kata yang menduduki fungsi subjek, predikat dan objek.            Ali membaca koran
                                 Dia memakai baju
                                            
Ani  makan  kue
  1. Aliran Praha
Aliran ini terbentuk pada tahun 1926 yang diprakarsai oleh Vilem Mathesius (1882–1945). Tokoh-tokoh lainnya adalah Nikolai S. Trubetskoy, Roman Jakobson dan Morris Halle.
Dalam bidang fonologi pertama-tama aliran ini membedakan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri, sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem. Begitu juga dengan istilah fonem yang dalam sejarahnya berasal dari bahasa Rusia yaitu fonema, lalu digunakan oleh sarjana Polandia Baudoin de Couetenay untuk membedakan pengertian fonem dan fon (bunyi), dan selanjutnya diperkenalkan oleh sarjana Polandia lainnya yaitu Kruzewki, akan tetapi yang menggunakan dan memperkenalkan dalam analisis bahasa adalah para linguis aliran Praha ini, seperti tampak dalam buku Grudzuge der Phonologie (terbit tahun 1939). Aliran Praha juga memperkenalkan dan mengembangkan suatu istilah yang disebut morfonologi, bidang yang mempelajari/meneliti struktur fonologis morfem. Bidang ini meneliti perubahan-perubahan fonologis yang terjadi sebagai akibat hubungan morfem dengan morfem
Dalam bidang sintaksis aliran ini menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional, menurut pendekatan ini kalimat dapat dilihat dari struktur formalnya dan dapat dilihat dari struktur informasinya.
Ø  Struktur formal menyangkut unsur-unsur gramatikal kalimat tersebut, yaitu subjek dan predikat gramatikalnya
- Contoh subjek gramatikal yang berada didepan objek:
-Nenek melirik Kakek
(Nenek adalah subjek gramatikal, sedangkan Kakek adalah objek gramatikal).
                  -Kakek melirik Nenek
(Kakek adalah subjek gramatikal, sedangkan Nenek adalah objek gramatikal).
-          Contoh subjek gramatikal yang berada didepan objek:
-This argument I can’t follow
                (This agrument adalah objek gramatikal, sedangkan I adalah subjek gramatikal)
Ø  Struktur informasi menyangkut situasi faktual pada waktu kalimat itu dihasilkan, struktur informasi menyangkut unsur tema dan rema. Tema adalah apa yang dibicarakan, sedangkan rema adalah apa yang dikatakan mengenai tema.
-This argument I can’t follow
(this argument adalah tema/subjek psikologis, sedangkan I adalah rema/objek psikologis)
-I can’t follow this argument
(I adalah tema/subjek psikologis, sedangkan This argument adalah rema/objek psikologis).
  1. Aliran Glosematik
Aliran ini lahir di Denmark, tokohnya antara lain, Louis Hjemslev (1899 – 1965) yang meneruskan ajaran Saussure, dia terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain dengan peralatan, metodologis dan terminologissendiri.
Sejalan dengan pendapat Saussure. Hjemslev menganggap bahasa itu mengandung dua segi, yaitu segi ekspresi (menurut de Saussure signifiant) dan segi isi (menurut de Saussure signifie). Masing-masing segi mengandung forma dan substansi sehingga diperoleh:
1.      Forma ekspensi
2.      Substansi ekspesi
3.      Forma isi
4.      Substansi isi
  1. Aliran Firthian
Nama John F. Firth (1890 – 1960) guru besar pada Universitas London sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Karena itulah aliran yang dikembangkannya dikenal dengan Aliran Prosodi. Disamping dikenal aliran prosodi juga dikenal pula dengan nama aliran Firth, atau aliran firthian atau juga aliran London.
Fonologi prosodi adalah suatu cara menentukan arti pada tataran fonetis. Fonologi prosodi terdiri dari satuan-satuan fonematis dan satuan prosodi. Satuan-satuan foematis berupa unsur-unsur segmental yaitu konsonan dan vokal, sedangkan satuan prosodi berupa ciri-ciri atau sifat-sifat struktur yang lebih panjang daripada suatu segment tunggal.
Ada tiga macam pokok prosodi, yaitu :
  1. Prosodi yang menyangkut gabungan fonem : struktur kata, struktur suku kata gabungan konsonan dan gabungan vokal.
  2. Prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda.
  3. Prosodi yang realisasi fenotisnya melampaui satuan yang lebih besar dari fenom-fenom suprasegmental.
Firth juga terkenal dengan pandangannya mengenai bahasa. Pandangannya mengenai bahasa terdapat dalam bukunya The Tongues of Man and Speech (1934) dan Paper in Linguistics (1951). Firth berpendapat bahwa telaah bahasa harus memperhatikan komponen sosiologis, tiap tutur kata harus dikaji dalam konteks situasinya.


  1. Linguistik Sistemik
Tokohnya yaitu M.A.K Halliday sebagai penerus Firth dalam mengembangkan teori mengenai bahasa, khususnya yang berkenaan dengan segi kemasyarakatan suatu bahasa.
Berdasarkan karangannya Cathegories of The Theory of Grammar. Maka teori yang dikembangkan oleh Halliday dikenal dengan nama Neo-Firthian Linguistics atau Scale and Category Linguistics, namun kemudian diganti dengan nama Systemic linguistics yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Linguistik Sistematik. Pokok-pokok pandangan Systemics Linguistics (SL) adalah:
  1. SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa, terutama Mengenai fungsi kemasyarakatan bahasa dan bagaimana fungsi kemasyarakatan itu terlaksana dalam bahasa.
  2. SL memandang bahasa sebagai “pelaksana”. SL mengakui pentingnya perbedaan langue dari prole (seperti yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure) Prole merupakan perilaku kebangsaan yang sebenarnya, sedangkan langue adalah jajaran pikiran yang dapat dipilih oleh seorang penutur bahasa.
  3. SL mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu berserta variasinya
  4. SL mengenal adanya gradasi dan kontinum.
  5. SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa yaitu substansi, forma, situasi.
- Substansi adalah bunyi yang kita ucapkan waktu kita bicara, dan lambang yang kita gunakan waktu kita menulis. Substansi bahasa lisan disebut substansi fonis, sedangkan substansi bahasa tulisan disebut substansi grafis.
- Forma adalah susunan substansi dalam pola yang bermakna. Forma dibagi menjadi dua, (1) leksis yakni yang menyangkut butir-butir lepas bahasa dan pada tempat butir-butir itu terletak, (2) gramatikal yakni yang menyangkut kelas-kelas butir bahasa dan pola-pola tempat terletaknya butir bahasa tersebut.
- Situasi meliputi tesis situasi langsung dan situasi luas. Tesis situasi langsung adalah situasi pada suatu tuturan benar-benar diucapkan orang, sedangkan situasi luas adalah suatu tuturan menyangkut semua pengalaman pembicaraan atau penulisan yang mempengaruhinya untuk memakai tuturan yang diucapkannya atau ditulisnya.
Selain tiga tataran utama itu, ada dua tataran lain yang menghubungkan tataran-tataran utama. Yang menghubungkan substansi fonik dengan forma adalah fonologi dan yang menghubungkan substansi grafik dengan forma adalah grafologi. Sedangkan yang menghubungkan forma dengan situasi adalah konteks.
  1. Leonard Bloomfield dan Struktural Amerika
Leonard Bloomfield (1877 – 1949) sangat terkenal karena bukunya yang berjudul Language (terbit pertama kali tahun 1933) dan selalu dikaitkan dengan struktur Amerika. Aliran ini berkembang pesat di Amerika karena beberapa faktor antara lain :
  1. Pada masa itu para linguistik Amerika menghadapi masalah yang sama, yaitu banyak sekali bahasa Indian yang belum diperikan.
  2. Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu di Amerika yaitu filsafat strukturalisme.
  3. Diantara linguis-linguis itu ada hubungan yang baik, karena adanya The Linguistic Society of America, yang menerbitkan majalah Language, wadah tempat melaporkan hasil kerja mereka.
Aliran strukturalis yang dikembangkan Bloomfield dengan para pengikutnya sering juga disebut aliran taksonomi dan aliran Bloomfieldian, karena bermula atau bersumber pada gagasan Bloomfield. Disebut aliran taksonomi karena aliran ini menganalisis dan mengklasifikasikan unsur-unsur bahasa berdasarkan hierarkinya.
  1. Aliran Tagmemik
Aliran Tagmemik dipelopori oleh Kenneth L. Pike seorang tokoh dari Summer Institute of Linguistics, yang mewarisi pandangan-pandangan Bloomfield, sehingga aliran ini bersifat strukturalis, tetapi juga antropologis.
Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem. Yang disebut tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut.
Contoh: pena itu berada diatas meja
(bentuk pena itu mengisi fungsi subjek, dan tagmem subjeknya dinyatakan dengan pena itu).




Ciri, Keunggulan dan Kelemahan Linguistik Struktural
  1. Ciri-ciri Linguistik Struktural
1.      Berlandaskan pada faham behaviourisme
Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tangga (stimulus-response).
2.      Bahasa berupa ujaran
Ciri ini menunjukka bahwa hanya ujaran saja yang termasuk dalam bahasa dalam pengajaran bahasa teori struktural melahirkan metode langsung dengan pendekatan oral. Tulisan statusnya sejajar dengan gersture.
3.      Bahasa merupakan sistem tanda (signifie dan signifiant) yang arbitrer dan konvensional.
Berkaitan dengan ciri tanda, bahasa pada dasarnya merupakan paduan dua unsur yaitu signifie dan signifiant. Signifie adalah unsur bahasa yang berada di balik tanda yang berupa konsep di balik sang penutur atau disebut juga makna. Sedangkan signifiant adalah wujud fisik atau hanya yang berupa bunyi ujar.
4.      Bahasa merupakan kebiasaan (habit)
Berdasarkan sistem habit, pengajaran bahasa diterapkan metode drill and practice yakni suatu bentuk latihan yang terus menerus dan berulang-ulang sehingga membentuk kebiasaan.
5.      Kegramatikalan berdasarkan keumuman
6.      Level-level gramatikal ditegakkan secara rapi.
Level gramatikal mulai ditegakkan dari level terendah yaitu morfem sampai level tertinggi berupa kalimat. Urutan tataran gramatikalnya adalah morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat. Tataran di atas kalimat belum terjangkau oleh aliran ini.
7.      Analisis dimulai dari bidang morfologi.
8.      Bahasa merupakan deret sintakmatik dan paradigmatic
9.      Analisis bahasa secara deskriptif.
10.  Analisis struktur bahasa berdasarkan unsur langsung.
Unsur langsung adalah unsur yang secara langsung membentuk struktur tersebut. Ada empat model analisis unsur langsung yaitu model Nida, model Hockett, model Nelson, dan model Wells.

  1. Keunggulan dan Kelemahan Linguistik Struktural
1.            Keunggulan
a.       Aliran ini sukses membedakan konsep grafem dan fonem.
b.      Metode drill and practice membentuk keterampilan berbahasa berdasarkan kebiasaa
c.       Kriteria kegramatikalan berdasarkan keumuman sehingga mudah diterima masyrakat awam.
d.      Level kegramatikalan mulai rapi mulai dari morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat.
e.       Berpijak pada fakta, tidak mereka-reka data.
2.            Kelemahan
a.       Bidang morfologi dan sintaksis dipisahkan secara tegas.
b.      Metode drill and practice sangat memerlukan ketekunan, kesabaran, dang sangat menjemukan.
c.       Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap berlangsung secara fisis dan mekanis padahal manusia bukan mesin.
d.      Kegramatikalan berdasarkan kriteria keumuman , suatu kaidah yang salah pun bisa benar jika dianggap umum.
e.       Faktor historis sama sekali tidak diperhitungkan dalam analisis bahasa.
f.          Objek kajian terbatas sampai level kalimat, tidak menyentuh aspek komunikatif.

3.      LINGUISTIK TRANSFORMASIONAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA
Dunia ilmu, termasuk linguistik bukan merupakan kegiatan yang statis, melainkan merupakan kegiatan yang dinamis; berkembang terus menerus sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu ingin mencari kebenaran yang hakiki. Begitulah, linguistik struktural lahir karena tidak puas dengan pendekatan dan prosedur yang digunakan linguistik tradisional dalam menganalisis bahasa. Sekian puluh tahun linguistik struktural digandrungi sebagai satu-satunya aliran yang pantas diikuti dalam menganalisis bahasa, walaupun model struktural itu pun tidak hanya satu macam, kemudian orang-orang pun merasa bahwa model struktural juga banyak kelemahannya, sehingga orang-orang merevisi model struktural itu sehingga lahir aliran-aliran yang lain walaupun masih mirip dengan model struktural. Perubahan total terjadi dengan lahirnya linguistik transformasional yang mempunyai pendekatan dan cara yang berbeda dengan linguistik struktural, namun kemudian model transormasional pun dianggap orang-orang masih banyak kelemahannya sehingga orang-orang membuat model baru yang dianggap lebih baik, seperti model semantik generatif, model tata bahasa kasus, model tata bahasa relasional, dan model tata bahasa stratifikasi.
  1. Tata Bahasa Transformasi
Tata bahasa transformasi lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang bejudul Syntactic Strcture (1957), kemudian dikembangkan dalam bukunya yang kedua yang berjudul Aspect of The Theory of Syntax (1965). Model tata bahasa yang dikembangkan olehnya dikenal dengan Transformasional Generative Grammar yang dalam Bahasa Indonesia lazim disebut tata bahasa transformasi.
Menurut Chomsky salah satu tujuan dari penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari bahasa tersebut. Bahasa dapat dianggap sebagai kumpulan kalimat yang terdiri dari deretan bunyi yang mempunyai makna, maka kalau begitu, tugas tata bahasa harus dapat menggambarkan hubungan bunyi dan arti dalam bentuk kaidah-kaidah yang tepat dan jelas. Setiap tata bahasa dari suatu bahasa menurut Chomsky adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri; dan tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat, yaitu:
1.      Kalimat yang dihasilkan harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat wajar dan tidak dibuat-buat.
2.      Tata bahasanya harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja, dan semuanya itu harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.
  1. Semantik Generatif
Menjelang darsawarsa 70-an beberapa murid Chomsky, antara lain Postal, Lakoff, Mc Calwy dan Kiparsky sebagai reaksi terhadap Chomsky memisahkan diri dari Chomsky dan membentuk aliran sendiri. Kelompok Lakoff ini terkenal dengan sebutan semantik generatif.
Menurut teori semantik generatif, struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen, dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah trensformasi saja, tidak perlu dengan kaidah sintaksis dasar, kaidah proyeksi dan kaidah fonologi.
Menurutnya pula, sudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantik itu serupa dengan struktur logika, berupa ikatan tidak berkala antara predikat dengan seperangkat argumen dalam suatu proposisi. Struktur logika itu bagannya seperti ini:

          Predikat          Argumen              Argumen
Dalam kalimat Nenek minum kopi strukturnya seperti ini:

          minum            Nenek             kopi
Rumus: Pred (Arg1, Arg2 . . . Argn).
  1. Tata Bahasa Kasus
Tata bahasa kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya yang berjudul The Case for Case (1968) yang dimuat dalam buku Bach, E Dan R. Hams Universal in Linguistic Theory, terbitan Holt Rinehart and Winston. Kemudian direvisi pada tahun 1970.
Dalam karangannya yang terbit tahun 1968 Fillmore membagi kalimat atas
1.      Modalitas, yang biasa berupa unsur negasi, kala, aspek dan adverbia
2.      Proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus.
Bagannya seperti ini:                     
                                                        kalimat
 


modalitas                                                      proposisi
negasi
kala                                       verba                  kasus1      kasus2       kasusn
aspek
adverbia
                                                            
contoh dalam kalimat John opened the door with the key:
                                   kalimat

              modalitas                                            proposisi

                 kala               verba pelaku   tujuan       alat
                 past               open    John                 door           key



  1. Tata Bahasa Relasional
Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan oleh tata bahasa transformasi. Tokoh-tokoh ini antara lain: David M. Perlmutter dan Paul M. Postal. Teori-teorinya bisa dibaca dalam karangan mereka, antara lain: Lectures on Relational Grammar (1974) dan Studies in Relational Grammar I (1983).
Sama halnya dengan tata bahasa transformasi tata bahasa relasional juga berusaha mencari kaedah kesemestaan bahasa. Menurut tata bahasa rasional, setiap struktur melibatkan tiga macam maksud, yaitu :
a.       Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur.
b.      Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain.
c.       Seperangkat “Coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tataran manakah elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen yang lain
Ketiga macam maujud diatas digambarkan ke dalam sebuah bentuk diagram. Misalnya, klausa Ali memberi buku itu kepada saya dijabarkan kedalam diagram berikut:

 


                          P

                                     1                            2              3
                
          beri      Ali                      buku itu     saya



Ciri, Keunggulan dan kelemahan Linguistik Transformasional
  1. Ciri-ciri Linguistik Transformasional
1.      Berdasarkan Paham Mentalistik
Aliran berpendapat bahwa proses berbahasa bukan sekadar proses rangsang-tanggap semata-mata, akan tetapi justru menonjol sebagai proses kejiwaan. Proses berbahasa bukan sekadar proses fisik yang berupa bunyi sebagai hasil sumber getar yang diterima oleh alat auditoris, akan tetapi berupa proses kejiwaan di dalam diri peserta bicara. Oleh karena itu, aliran ini sangat erat kaitannya dengen subdisipliner psikolinguistik.
2.      Bahasa Merupakan Innate
Kaum transformasi beranggapan penuh bahwa bahasa merupakan faktor innate (warisan keturunan). Dalam hal ini, untuk membuktikan teorinya Chomsky dengan bantuan rekannya membuktikan bahwa struktur otak manusia dengan otak simpanse persis sama, kecuali satu simpul syaraf bicara yang ada pada struktur otak manusia tidak terdapat pada struktur otak simpanse. Itulah sebabnya simpanse tidak dapat berbicara seperti manusia, meskipun ia telah dilatih berkali-kali, karena hal itu tidak disebabkan oleh kebiasaan, akan tetapi harus ada faktor keturunan.
3.      Bahasa Terdiri atas Lapis Dalam dan Lapis Permukaan
Teori transformasional memisahkan bahasa atas dua lapisan, yakni deep structure (struktur dalam/ lapis batin) yaitu tempat terjadinya proses berbahasa yang sesungguhnya/ secara mentalistik; dan surface structure (struktur luar, struktur lahiriah) yaitu wujud lahiriah yang ditransformasikan dari lapis batin. Contoh: Welcome, Ahlan wa Sahlan, Selamat datang merupakan tiga unsur struktur permukaan yang ditransformasikan dari satu struktur dalam yang sama.
4.      Bahasa Terdiri atas Unsur Competent dan Performance
Sebagaimana yang telah kita sebutkan di atas, aliran transformasional memisahkan bahasa atas unsur competent yaitu pengetahuan yang dimiliki oleh seorang penutur tentang bahasanya termasuk kaidah-kaidah yang berlaku bagi bahasanya; dan performance yaitu ketrampilan seseorang dalam menggunakan bahasa tersebut.
5.      Analisis Bahasa Bertolak dari Kalimat
Aliran ini beranggapan bahwa kalimat merupakan tataran gramatik yang tertingi. Dari kalimat analisisnya turun ke frasa dan kemudian dari frasa turun kata. Aliran ini tidak mengakui adanya klausa.
6.      Bahasa Bersifat Kreatif
Ciri ini merupakan reaksi atas anggapan kaum struktural yang fanatik terhadap standar keumuman. Bagi kaum transformasional yang terpenting adalah kaidah. Walaupun suatu bentuk kata belum umum asalkan pembentukannya sesuai dengan kaidah yang berlaku, maka tidak ada halangan untuk mengakuinya sebagai bentuk gramatikal. Contoh:
a.       Sampah telah menggunung di tepi jalan.
kata menggunung terbentuk dari kata gunung dan prefiks me-ng bermaksud menyerupai gunung
b.      Peluhnya menganak sungai, dll.
7.      Membedakan Kalimat Inti dan Kalimat Transformasi
Aliran ini membedakan antara kalimat inti dan kalimat transformasional. Kalimat inti adalah kalimat yang belum dikenai oleh kaidah transformasi, mempunyai ciri-ciri (a) lengkap, (b) simpel (c) aktif (merupakan ciri pokok), (d) statement (e)positif (f) runtut (merupakan ciri tambahan).
Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:
KALIMAT
INTI
KAIDAH
TRANSFORMASI
KALIMAT
TRANSFORMASI
1. Lengkap
Pelepasan/delisi
Kalimat elips/ minor
2. Simpel
Penggabungan
Kalimat kompleks
3. Aktif
Pemasifan
Kalimat Pasif
4. Statement
- Tanya
- Perintah
- Kalimat Tanya
- Kalimat Perintah
5. Positif
Pengingkaran
Kalimat Ingkar
6. Runtut
Pembalikan
Kalimat Inversi

  1. Keunggulan dan Kelemahan Linguistik Transformasional
1.      Keunggulan
a.       Proses berbahasa merupakan proses kejiwaan buakan fisik.
b.      Secara tegas memisah pengetahuan kebahasaan dengan keterampilan berbahasa (linguistic competent dan linguistic performance)
c.       Dapat membentuk konstruksi-konstruksi lain secara kreatif berdasarkan kaidah yang ada.
d.      Dengan pembedaan kalimat inti dan transformasi telah dapat dipilah antara substansi dan perwujudan.
e.       Dapat menghasilkan kalimat yang tak terhingga banyaknya karena gramatiknya bersifat generatif.
2.      Kelemahan
a.       Tidak mengakui eksistensi klausa sehingga tidak dapat memilah konsep klausa dan kalimat.
b.      Bahasa merupakan innate walaupun manusia memiliki innate untuk berbahasa tetapi tanpa dibiasakan atau dilatih mustahil akan bisa.
c.       Setiap kebahasaan selalu dikembalikan kepada deep structur.



SIMPULAN

Dalam sejarah perkembangan linguistik dipenuhi berbagai aliran, paham, pendekatan dan teknik penyelidikan, aliran-aliran tersebut diantaranya:
1.      Linguistik Tradisional
Linguistik aliran ini meliputi zaman Yunani, Romawi, Pertengahan, Renaisans dan  menjelang linguistik modern
2.      Linguistik Struktural
Dalam aliran ini ada beberapa tokoh dan golongan yang berperan besar dalam studi bahasa, diantaranya: Ferdinand de Saussure, aliran Praha, Glosematik, Firthian, Linguistik Sistemik, Leonard Bloomfield dan strukturalis Amerika serta aliran Tagmemik.
3.      Linguistik Transformasional dan aliran-aliran sesudahnya
Dalam aliran ini ada beberapa model tata bahasa, diantaranya: tata bahasa transformasi, semantik generatif, tata bahasa kasus dan relasional.







DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
Soeparno. 2002. Dasar-dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: PT TIARA WACANA.
http ://www. ariprasetyo_aliran-aliran_linguistk.com/

http://aliranlinguistik.blogspot.com/

0 Response to "ALIRAN-ALIRAN DALAM LINGUISTIK"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel